Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Keanu


__ADS_3

Sid terdiam, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Walaupun ia tahu wanita seperti apa Melisa itu sebenarnya, tetapi ia tidak menyangka wanita itu bahkan sanggup mengkhianati Keanu yang begitu tulus mencintainya.


"Sebaiknya aku temui Melisa," ucap Keanu seraya bangkit dari posisi duduknya kemudian melangkah memasuki ruangan Melisa.


Perlahan, Keanu membuka pintu kamar Melisa. Ia melihat Melisa masih terkulai lemah di atas tempat tidurnya. Wanita itu tersenyum menyambut kedatangan Keanu sambil mengelus lembut perutnya.


Dengan wajah kusut, Keanu menghampiri Melisa dan duduk disampingnya. Keanu menatap wanita itu tanpa berkedip sedikitpun.


"Keanu, ada apa? Kenapa wajahmu terlihat kusut?" tanya Melisa sembari meraih tangan Keanu kemudian menggenggamnya dengan erat.


Keanu menghembuskan napas berat seraya menarik tangannya dari genggaman Melisa. "Melisa, berhentilah berpura-pura. Aku sudah ..."


"Melisa! Bagaimana keadaanmu, Sayang?! Ibu sangat mengkhawatirkan keadaanmu, apa kamu baik-baik saja?!"


Tiba-tiba Nyonya Rita dan Tuan Rendra masuk ke ruangan Melisa. Dengan langkah tergesa-gesa, Nyonya Rita menghampiri Melisa kemudian menciumi wajahnya.


"Mel baik-baik saja kok, Bu." Melisa tersenyum sambil memperhatikan ekspresi Keanu yang terlihat sangat kesal sekaligus kecewa.


"Ehm, saya permisi dulu. Masih ada yang harus saya urus bersama Sid," ucap Keanu.


Melisa tersenyum sembari mengulurkan tangannya kepada Keanu. Berharap Keanu menghampiri kemudian mencium keningnya sama seperti yang biasa ia lakukan sebelumnya. Namun, ternyata Melisa harus menelan kekecewaan karena Keanu bahkan tidak mempedulikannya.


Nyonya Rita dan Tuan Rendra sempat tercengang melihat reaksi Keanu saat itu. Lelaki itu terus melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu tanpa menghiraukan istrinya.


"Ada apa dengan Keanu?" tanya Nyonya Rita sambil memperhatikan lelaki itu hingga menghilang dari pandangannya.


Raut wajah Melisa berubah. Ia tertunduk sedih dengan mata berkaca-kaca. "Aku yakin Keanu sudah mengetahui semuanya! Ya Tuhan, apakah setelah ini aku akan dicerai olehnya?" batin Melisa.


"Mel?!"


"Ehm, Dia baik-baik saja kok, Bu. Hanya saja, dia masih shok setelah melihat keadaan ku tadi," sahut Melisa.


"Benarkah itu? Kalian tidak sedang ada masalah, 'kan?" tanya Nyonya, masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya.

__ADS_1


Melisa meraih tangan Ibunya kemudian menenangkan wanita itu. "Mel serius, Bu. Kami tidak ada masalah apapun," ucap Melisa.


Sementara itu Tuan Rendra hanya terdiam, walaupun ia juga merasakan perubahan sikap Keanu terhadap Melisa.


Keanu terus melangkah menuju halaman depan Rumah Sakit dengan langkah cepat. Sedangkan Sid masih setia mengikuti langkahnya dari belakang.


"Sid, aku bawa mobil! Sebaiknya kamu hubungi anak buahmu untuk menjemput mu disini," ucap Keanu sebelum ia memasuki mobilnya.


"Baik, Tuan." Sid sebenarnya sangat mencemaskan Tuan Keanu. Ia takut laki-laki itu melakukan hal yang dapat menyakiti dirinya sendiri. Apalagi saat ini Keanu dalam keadaan yang masih sangat kacau.


Keanu melajukan mobilnya kesalah satu pemakaman umum, dimana Istri pertama dan Anaknya di makamkan. Setibanya disana, Keanu bergegas menuju dimana pusara Istri dan anaknya berada.


"Kamu lihat bagaimana keadaanku sekarang, Ly? Aku hancur! Wanita yang ku anggap bisa menggantikan posisimu, malah mengkhianati kepercayaanku. Ah! Seharusnya kamu tidak meninggalkan aku, seharusnya kamu tetap disini dan temani aku, Ly!" lirih Keanu sambil menatap pusara mendiang istrinya.


Keanu mencoba menenangkan dirinya ditempat itu sembari mengingat-ingat kebahagiaan yang ia lewati bersama sang istri. Setelah merasa agak tenang, Keanu pun kembali melajukan mobilnya.


Sudah setengah jalan menuju kediamannya, tiba-tiba saja ia memutar balik mobilnya.


Sementara itu,


Naila hanya bisa tersenyum sambil membayangkan bagaimana kehidupan Ibunya ketika masih bersama keluarganya. Seandainya saja Ibunya mengikuti apa kata Sang Ayah, mungkin ia akan hidup bahagia hingga sekarang.


Ketika sedang asyik bercerita, pandangan Tante Mira tertuju pada Penjual rujak buah keliling yang memang sering lewat didepan rumahnya. Dan kebetulan, Penjual rujak buah tersebut berhenti di seberang rumahnya untuk melayani pembeli.


"Nah, itu dia! Tante sudah lama ingin makan rujak buahnya, tapi tidak pernah ketemu. Beruntung sekali hari ini bisa ketemu," ucap Tante Mira seraya beranjak dari tempat duduknya kemudian berlari kecil menuju depan pagar rumahnya.


"Ayo, Nai! Tante jamin kamu pasti ketagihan," panggil Tante Mira agar Naila mengikutinya kedepan pagar untuk membeli rujak buah itu.


Naila sempat terdiam sejenak. Ia kembali teringat akan kisah pilunya tentang rujak buah. Dimana ia ingin makan rujak buah, namun uangnya tidak cukup untuk membeli satu porsinya.


"Nai, ayo!" panggil Tante Mira lagi.


"Baik, Tante." Naila bergegas menyusul Tante Mira didepan pagar.

__ADS_1


"Nah, satu untukmu dan satu untukku!" Tante Mira menyerahkan satu porsi besar rujak buah kepada Naila kemudian mengajak keponakannya itu kembali bersantai didepan rumahnya.


Naila memegang bungkusan rujak buah itu dengan tangan gemetar. Entah mengapa hatinya terasa sakit. Apalagi ketika ia teringat masa-masa pilunya selama tinggal bersama Tuan Keanu dan Melisa.


"Ayo, Nai, cicipi rujak buahmu! Kenapa cuma di lihatin aja?!" ucap Tante Mira ketika menyaksikan Naila hanya terdiam seraya menatap bungkusan rujak buah itu tanpa ingin menyentuhnya.


"I-Iya tante, baiklah." Naila pun mulai membuka bungkusannya dan mencicipinya.


Tanpa disadari Tante Mira, Naila menitikkan air matanya seraya mengunyah rujak buah itu. Rasanya sangat enak dan persis seperti buatan Bi Iyem.


"Bagaimana menurutmu, Nai? Rujak buahnya enak, 'kan?" tanya Tante Mira seraya meraih wajah Naila yang tertunduk.


"Astaga, Nai? Kamu kenapa menangis? Rasanya tidak enak, ya?"


Tante Mira panik ketika mengetahui bahwa keponakannya itu sedang menangis sambil menikmati rujak buah yang baru saja ia beli.


"Nai, maafkan Tante. Apa rujaknya tidak enak?" tanya Tante Mira sekali lagi.


Naila menggelengkan kepalanya pelan. "Rujak buahnya sangat enak, Tante. Tapi, rujak buah ini mengingatkan Naila pada kenangan pahit ketika tinggal bersama Tuan Keanu dan Nona Melisa," sahut Naila terbata-bata.


Tante Mira merengkuh tubuh mungil Naila, "Tidak apa-apa, Sayang. Lupakan semua itu dan jangan diingat lagi. Sudah ya, sshhh ..."


Tanpa diminta Tante Mira, Naila tetap menceritakan kisah sedihnya kepada wanita itu.


Sementara itu, mereka tidak menyadari behwa Keanu memperhatikan mereka dari dalam mobilnya.


"Naila, maafkan aku ..." lirih Keanu tanpa mengalihkan tatapannya dari gadis mungil yang sedang menangis di pelukan Tante Mira.


Tidak cukup sampai disitu, Keanu memberanikan diri mendekati pagar rumah Tante Mira dan berdiri disana.


"Naila, ini aku! Ku mohon maafkan aku, Nai ..." lirih Keanu seraya mengguncang-guncang pagar yang menghalanginya.


Naila terkejut, ia segera menoleh kearah Keanu. Dan setelah mengetahui bahwa Keanu ada ditempat itu, Naila langsung berlari tanpa mempedulikan Tante Mira. Ia terus berlari dengan wajah ketakutan menuju kamar dan mengurung diri disana.

__ADS_1


"Nai ..." lirih Keanu


...***...


__ADS_2