Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 2


__ADS_3

Mobil yang membawa Danish kembali melaju memecah jalan raya. Dan disepanjang perjalanan, lelaki tampan itu terus menciumi buket bunga yang baru ia beli dari toko bunga Gadis idamannya.


"Bunga itu untuk siapa, Tuan?" tanya Pak Ahmad yang sejak tadi memperhatikan Danish dari kaca spion.


Danish tersenyum tipis sembari memperhatikan bunga itu. "Bukan untuk siapa-siapa," sahutnya.


Flash Back On


Setelah pulang dari kantor, Danish dan Pak Ahmad terjebak macet di perempatan jalan tersebut. Saat itu mobil milik Danish berhenti tepat didepan toko Nazia, gadis manis dengan penampilan yang sangat sederhana.


Danish memperhatikan Nazia yang berdiri didepan toko sambil menenteng sebuah kantong kresek transparan berisi nasi bungkus. Wajah gadis itu terlihat bimbang, sesekali ia mengangkat kantong kresek itu dan menatapnya dengan tatapan sendu.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Nazia memutuskan memberikan jatah makannya kepada seorang Kakek-kakek yang sedang berdiri tidak jauh dari tokonya.


Kakek pemulung itu nampak kelelahan, ia duduk dipinggir jalan sambil melepas penat setelah seharian berkeliling. Tidak lupa sebuah karung yang berisi botol dan gelas plastik bekas yang selalu setia menemaninya.


"Kek, ini untuk Kakek," ucap Zia sembari menyerahkan kantong kresek itu kepada Kakek itu.


"Beneran ini, Neng? Terima kasih banyak ya, Neng. Kebetulan Kakek memang belum makan sejak tadi pagi," sahut Kakek itu dengan mata berkaca-kaca.


Kakek itu menyambut kantong kresek dari tangan Nazia dengan tangan gemetar. Tersungging sebuah senyuman di wajah tuanya.


"Sama-sama, Kek."


Setelah menyerahkan jatah makannya kepada Kakek tersebut, Nazia kembali ke toko untuk melanjutkan tugasnya, menawarkan daganganya kepada orang-orang yang lewat didepan toko.


Danish begitu terpesona melihat sosok Nazia. Gadis itu bahkan tidak sungkan untuk berbagi, padahal pada saat ini diapun sangat membutuhkannya.


Flash Back Off

__ADS_1


Selang beberapa saat, akhirnya Danish tiba di perusahaan besar milik Tuan Keanu Armani Putra. Ia bergegas masuk kedalam ruangannya dengan membawa buket bunga yang baru saja ia beli.


"Selamat pagi, Tuan Danish," sapa Aditya.


Aditya adalah Asisten Pribadi Danish. Dia merupakan anak dari salah satu kerabat Sid. Sebab itu ia dijadikan orang kepercayaan oleh Keanu untuk membantu Danish dalam menangani perusahaannya.


"Pagi."


Aditya memperhatikan wajah berseri-seri Danish sambil tersenyum tipis. Dan kini matanya tertuju pada sebuah buket bunga yang diletakkan oleh Danish diatas meja kerjanya.


"Maafkan saya, Tuan Danish. Tapi saya sangat penasaran sama buket bunga yang ada di atas meja Anda. Apakah itu untuk orang teristimewa? Atau malah sebaliknya, bunga itu dari seseorang yang sangat istimewa bagi Anda?" tanya Aditya penasaran.


Danish terkekeh, "Bukan, tebakanmu salah! Aku membeli bunga ini untuk diriku sendiri."


Aditya ikut terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.


Sore menjelang, Nazia bersiap-siap untuk pulang. Setelah berpamitan kepada sang pemilik toko, Nazia pun melaju bersama sepeda kesayangannya.


Bagitupula Danish, lelaki itu bergegas menuju lobby dan meminta Pak Ahmad untuk segera mengantarnya kembali ke kediamannya.


Ketika melewati perempatan jalan tersebut, lagi-lagi Danish meminta Pak Ahmad untuk menurunkan kecepatan mobilnya. Ia kembali memperhatikan Toko Bunga tersebut, tetapi kali ini Danish terlambat.


Toko itu sudah tutup, baik itu pemilik toko maupun Nazia tidak nampak lagi batang hidungnya. Danish merasa sedikit kecewa, karena sore ini, ia tidak dapat melihat wajah teduh Nazia.


Lelaki itu menghempaskan punggungnya ke sandaran jok yang sedang ia duduki. Ia menatap langit-langit mobilnya dengan tatapan kosong menerawang.


Namun, baru saja beberapa menit ia melewati Toko Bunga tersebut, Pak Budi mengerem mobilnya secara mendadak. Danish sampai berteriak karena saking terkejutnya. Bersamaan dengan teriakan Danish, terdengar pekikan seorang Gadis didepan mobilnya.


"Akh!"

__ADS_1


"Pak Ahmad, hampir saja aku jantungan!" ucap Danish dengan wajah kesal menatap Pak Ahmad.


Bukannya menjawab ataupun meminta maaf kepadanya, Pak Ahmad malah keluar dari mobilnya dengan wajah panik. Danish memperhatikan apa yang dilakukan oleh Pak Ahmad didepan mobilnya.


"Aduh, Nak! Maafkan Bapak, Bapak sama sekali tidak melihat ada dirimu. Kamu tidak apa-apa?!" tanya Pak Ahmad seraya membantu seorang Gadis manis yang terjatuh bersama sepedanya didepan mobil Danish.


"Tidak apa, Pak. Aku juga salah, aku tidak lihat-lihat kalau mau menyebarang," sahut Gadis itu sambil merapikan pakaiannya yang kotor dan juga sepedanya yang tergeletak diaspal dengan kondisi penyok-penyok.


"Sekali lagi, maafkan Bapak ya, Nak?!"


Kedua panca indera Danish hampir saja keluar dari pelupuknya, setelah menyadari siapa yang sedang berdiri di depan mobil."


"Gadis itu!" pekik Danish.


Lelaki itu segera membuka pintu mobil kemudian dengan langkah cepat menghampiri Pak Ahmad beserta Nazia yang masih berdiri didepan mobilnya.


"Ada apa ini, Pak?" tanya Danish.


"Saya tidak sengaja menyerempet Gadis ini, Tuan. Saya tidak melihat, tiba-tiba saja, bruukk!" sahut Pak Ahmad dengan wajah cemas menatap Nazia.


Danish pun tak kalah cemas. Ia memperhatikan Nazia dari ujung kepala hingga ujung kaki dan ia melihat ada beberapa luka lecet di tubuh Gadis itu. Namun, Danish heran Gadis itu masih bisa menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. Ia membayangkan itu terjadi pada Keyla atau Danisha, mungkin kedua saudara perempuannya itu akan menangis histeris.


"Pak Ahmad sebaiknya kita bawa dia ke Rumah Sakit!" titahnya kepada Pak Ahmad.


"Baik, Tuan."


"E-eh ... saya tidak apa-apa kok, Tuan. Saya hanya luka kecil dan ini bukan masalah besar," tolak Nazia.


...***...

__ADS_1


__ADS_2