
"Lepaskan tanganmu!"
Ardhan yang sudah tidak bisa menahan amarahnya, menarik dengan kasar tangan Mike. Mike terperanjat ketika Ardhan melakukan hal itu, begitupula Keyla.
"Apa masalahmu, Bung?!" balas Mike.
"Aku tidak ingin kamu menyentuh Keyla seperti itu. Dia bukan gadis murahan yang bisa kamu pegang-pegang seenaknya!" hardik Ardhan.
Keyla pun tidak habis pikir ketika melihat kemarahan Ardhan yang tidak masuk akal.
"Ardhan! Kamu kenapa, sih?!" tanya Keyla.
"Aku cemburu, Key! Aku tidak suka melihat dia menyentuhmu seperti itu!" geram Ardhan.
Mendengar penuturan Ardhan, Mike terkekeh pelan setelah tahu bahwa lelaki itu sedang kepanasan. Sedangkan Keyla terdiam dan mulai mengerti apa yang dirasakan oleh lelaki itu.
"Oh, jadi kamu juga suka ya, sama Keyla? Pantas saja dari tadi kamu terus mempertanyakan tentang perasaanku terhadap Keyla. Hah, ternyata kau pun menyukainya," ucap Mike.
"Ya, aku menyukainya! Kenapa, kamu tidak suka?" ketus Ardhan.
Mike menghentikan tawanya kemudian menyentuh pundak Ardhan dengan lembut sembari melemparkan senyuman hangat untuk lelaki itu. Namun, Ardhan yang sudah cemburu buta dan tidak bisa mengontrol emosinya, menepis tangan Mike dengan kasar dari pundaknya.
"Jangan sentuh aku!" hardiknya.
"Baiklah." Mike menarik tangannya kemudian memasukkannya ke dalam saku celana. "Ardhan, aku tidak menyukai permusuhan dan jika kamu memang benar-benar menyukai Keyla, bersainglah dengan adil tanpa perlu adanya permusuhan di antara kita. Damai itu lebih indah, Ardhan," tutur Mike, masih dengan senyuman hangatnya.
Ardhan tak mempedulikan ucapan Mike saat itu. Dengan kaki yang masih sakit, Ardhan melengos pergi meninggalkan Mike dan Keyla.
"Maafkan dia, Mike." Keyla menepuk pundak Mike sambil memasang wajah sendu.
"Tidak masalah. Aku paham bagaimana perasaannya, Key."
__ADS_1
Ardhan yang masih kesal segera menghampiri kedua orang tuanya yang masih menikmati pesta bersama keluarga besar Keanu.
"Ardhan," sapa Arumi ketika anak lelakinya itu berdiri di sampingnya.
"Ma, aku ingin pulang dulu," bisik Ardhan ke samping telinga Arumi.
"Loh kok, pulang?! tanya Arumi heran sambil membulatkan marah.
"Kakiku lelah, Ma. Dan sepertinya aku harus segera mengistirahatkan nya," sahut Ardhan.
Setelah mengatakan hal itu, Ardhan pun kembali melangkahkan kakinya menuju tempat parkir dimana mobilnya terparkir. Arumi terdiam sambil memperhatikan Ardhan yang berjalan menjauhinya. Ia benar-benar heran dengan sikap anak lelakinya itu.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Adnan.
"Itu si Ardhan, dia pamit pulang. Dia bilang kakinya sakit dan harus beristirahat. Padahal tadi pagi saat di rumah, dia bilang kakinya sudah baik-baik aja," sahut Arumi dengan wajah heran.
"Mungkin saja kakinya beneran sakit, 'kan kita tidak tahu."
. . .
"Pasti jauh lebih lelah dan kita pun akan merasakan hal yang sama seperti mereka sebentar lagi," jawab Adnan yang kini sedang fokus pada kemudi mobilnya.
Tidak berselang lama, Arumi dan Adnan pun tiba di halaman depan rumah mereka. Setelah memarkirkan mobilnya, Adnan pun segera memasuki kediaman mereka sambil menggandeng tangan sang istri.
"Aku ingin menemui Ardhan dulu ya, Mas," ucap Arumi sembari melepaskan genggaman Adnan ketika mereka sudah berdiri di depan kamar utama.
"Ya, sudah. Aku ingin mandi dulu, sudah gerah soalnya," sahut Adnan.
Setelah Adnan masuk ke dalam kamar utama, Arumi meneruskan langkahnya menuju kamar Ardhan.
"Dhan, ini Mama."
__ADS_1
"Masuklah, Ma. Tidak di kunci," jawab Ardhan dari dalam kamar.
Perlahan Arumi memasuki kamar Ardhan dan ternyata anak lelakinya itu sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Ardhan menatap Arumi yang berjalan menghampirinya sambil tersenyum hangat.
"Bagaimana pestanya, berjalan lancar, 'kan?" tanya Ardhan basa-basi.
"Ya, acaranya berjalan lancar." Arumi duduk di samping Ardhan dan ikut bersandar di sandaran tempat tidur Ardhan.
"Tadi Mama sudah bilang sama tante Naila soal keinginanmu melamar Keyla," sambung Arumi seraya menoleh kepada Ardhan.
Ardhan nampak sangat antusias. Wajahnya yang tadinya datar tanpa ekspresi, sekarang terlihat lebih bersemangat.
"Lalu bagaimana tanggapan tante Naila?" tanya Ardhan yang sudah sangat penasaran.
"Tante Naila sangat senang mendengarnya, Ardhan. Tante Naila dan Om Keanu bersedia menyambut kedatangan kita," jawab Arumi.
"Benarkah?! Yesss!!! Kapan?!" tanya Ardhan lagi.
"Lebih cepat, lebih baik. Tapi-- apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu, Ardhan?" tanya Arumi balik.
"Ya, Ma. Ardhan yakin! Seratus persen yakin!" jawab Ardhan dengan wajah semringah.
"Ya, sudah kalau begitu. Mulai besok kita persiapkan semuanya. Dan rencananya, Mama akan mengadakan acara resepsi pernikahan kamu dan Adriela dibikin jadi satu acara, biar gak ribet," tutur Arumi.
"Soal itu terserah Mama aja."
"Mama ke kamar dulu ya, Dhan. Mungkin Papamu sudah selesai mandinya, soalnya Mama juga ingin mandi. Sudah gerah banget."
"Terima kasih, Ma," ucap Ardhan dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama," jawab Arumi sembari melenggang pergi.
__ADS_1
"Kamu lihat, Mike! Aku selangkah lebih dulu darimu," ucap Ardhan dengan bangga.
...***...