
Ardhan meraih botol minyak kayu putih berukuran kecil dari tempat obat-obatan yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur mereka. Ia segera membawa benda tersebut menghampiri Keyla yang masih tidak sadarkan diri.
Ardhan duduk di tepian tempat tidur dan mengoleskan minyak kayu putih tersebut ke bagian hidung dan samping pelipis Keyla sambil memijit-mijit kepalanya.
"Keyla sayang, bangunlah," panggil Ardhan dengan wajah cemas.
Tidak berselang lama, Keyla pun akhirnya membuka mata. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar dan tatapannya terhenti pada sosok lelaki yang begitu setia menemaninya.
"Key, kamu baik-baik saja?" tanya Ardhan sambil mengelus pipi Keyla.
"Aku tadi kenapa, Mas? Bukannya tadi kita sedang berada di dapur mencicipi kue buatanku?" tanya Keyla kebingungan.
"Kamu jatuh pingsan, Key. Aku sangat ketakutan, aku kira kamu keracunan atau apa," lirih Ardhan.
Tersungging sebuah senyuman di bibir Keyla sambil menatap Ardhan. "Kok keracunan, Mas?"
"Lah, trus kenapa kamu bisa jatuh pingsan setelah mengunyah kue yang aku suapin ke kamu barusan? Aku 'kan jadi takut."
"Kalau kue itu aku kasih racun, mungkin Mas duluan yang akan jatuh pingsan karena Mas lebih dulu mncicipinya dari aku," sahut Keyla sambil terkekeh pelan.
Ardhan menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut. "Benar juga ya, hehe."
"Lah trus kenapa kamu bisa jatuh pingsan? Jangan-jangan kamu kelelahan lagi."
"Entahlah, Mas. Tapi jujur deh, itu kue kenapa rasanya jadi aneh begitu? Padahal aku sudah mengikuti petunjuk di video dengan benar. Setelah kue itu memasuki kerongkonganku tiba-tiba saja pandanganku menjadi gelap dan kepalaku berputar 360 derajat. Memangnya Mas tidak merasa ada yang aneh pada kueku itu?"
Ardhan menggelengkan kepalanya pelan. "Memang rada aneh, sih. Tapi karena kue itu dibuat olehmu dengan penuh cinta dan kasih sayang, maka rasa aneh itu seakan kalah dengan rasa cinta yang terkandung di dalam kue tersebut," jawab Ardhan yang terlihat sangat manis.
Keyla mencubit pelan perut Ardhan. "Ih, Mas Ardhan. Seharusnya tadi Mas jujur kalo kue itu rasanya aneh jadi aku tidak akan mencicipinya. Kue itu adalah kue dengan rasa teraneh yang pernah masuk ke dalam kerongkonganku," ucap Keyla sambil bergidik membayangkan rasa kuenya tadi.
"Ih, tidak boleh ngomong seperti itu, Key. Ini bukan tentang cita rasanya, tetapi tentang perjuangannya dan aku begitu menghargai perjuanganmu saat membuat kue itu."
"Aku jadi malu. Rupanya aku memang tidak cocok berada di dapur."
__ADS_1
"Kan sudah aku bilang ke kamu sebelumnya, Key. Biarkan kita menjadi pasangan teraneh sejagat. Jika pasangan pada umumnya, sang Istri yang bergelut di dapur. Tetapi untuk kita, biarkan aku yang menggantikan posisimu. Kamu cukup menjadi istri yang baik dan berikan aku cinta seluas samudra untukku, itu sudah cukup."
Keyla terkekeh pelan. "Baiklah, Chef."
"Sebaiknya kita ke Dokter. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa, Key."
Ardhan bangkit dari posisi duduknya kemudian melepaskan kemeja serta celananya.
"Tapi aku rasa, aku baik-baik saja, Mas."
"Tapi aku masih cemas, Key. Aku mau mandi dulu, nanti setelah mandi akan ku antar kamu ke Dokter."
Keyla pun akhirnya menganggukkan kepala. Setelah meletakkan pakaian kotornya ke dalam keranjang, Ardhan segera masuk ke kamar mandi.
. . .
"Mari, Key."
"Terima kasih, Mas."
Keyla duduk di jok samping kursi kemudi dan Ardhan pun segera menyusul kemudian duduk di samping Keyla sambil melemparkan senyum kepadanya.
"Siap?"
"Ya."
Ardhan segera melajukan mobilnya menuju tempat praktek Dokter langganannya. Saat di perjalanan, mobil Ardhan terhenti bersama pengemudi lainnya ketika lampu lalu lintas berubah berwarna merah.
Dengan sabar, pasangan itu menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau sama seperti pengemudi lainnya di lokasi tersebut.
Tiba-tiba saja pandangan pasangan itu fokus pada sosok wanita dengan perut besar sedang berdiri di pinggir jalan sambil mengelus perutnya.
"Bukankah itu Helen?"
__ADS_1
"Ya," sahut Ardhan.
Keyla memperhatikan wajah pucat Helen saat itu dan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa iba.
"Kasihan, Helen. Aku tahu di masa-masa seperti itu, Helen pasti sangat membutuhkan seseorang yang bisa memberikan kasih sayang serta perhatian untuknya."
"Tapi itu semua akibat perbuatannya sendiri, Key. Seandainya dia menjadi seorang wanita yang baik, aku yakin sekali masih akan ada lelaki yang bersedia bertanggung jawab padanya dan juga bayi yang sedang berada di dalam kandungannya."
"Ya, sih. Kamu benar," sahut Keyla.
Lampu lalu lintas yang tadinya berwarna merah, sekarang berubah menjadi hijau. Ardham dan para pengemudi lainnya segera melaju dan meninggalkan lokasi tersebut.
Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Ardhan pun tiba di sebuah halaman tempat praktek seorang Dokter yang selama ini menjadi langganan Ardhan.
Kedatangan pasangan itu segera di sambut oleh Sang Dokter. Ia mempersilakan Keyla dan Ardhan memasuki ruang praktek tersebut dan duduk di kursi yang terletak tepat di depan meja kerjanya.
Karena Ardhan sudah menceritakan semua keluhan Keyla kepada Dokter via telepon, Dokter pun segera memeriksa kondisi kesehatan Keyla. Dengan sabar Ardhan menunggu mereka selesai melakukan pemeriksaan.
Ia tidak tahu apa yang dilakukan oleh Dokter dan Keyla di kamar praktek yang tertutup tirai berwarna hijau tersebut. Selang beberapa saat, akhirnya Dokter membuka tirai tersebut dengan wajah semringah. Begitupula Keyla yang kini berjalan menghampiri Ardhan.
"Sebenarnya Istri saya kenapa, Dok? Dia baik-baik saja 'kan?" tanya Ardhan panik setelah Dokter selesai memeriksa kondisi Keyla saat itu.
"Selamat Tuan Ardhan, Istri Anda positif hamil."
"Hamil?!" Pekik Ardhan dengan mata membulat sempura sambil menatap Sang Dokter.
"Ya, Tuan. Selamat, ya! Usia kandungan Nona Keyla sudah memasuki minggu ke-5 dan saran saya, sebaiknya Nona Keyla jangan melakukan hal-hal yang bisa membuatnya kelelahan karena pada saat ini, kandungannya masih sangat rentan."
"Baik, Dok. Aku akan selalu mengingatnya dan aku sendiri yang akan menjaga Istri cantikku ini agar tidak melakukan hal-hal berat. Ya, kamu tahu sendiri bagaimana Istriku ini 'kan, Dok," sahut Ardhan dengan sangat antusias.
Dokter hanya bisa terkekeh pelan setelah mendengar penuturan Ardhan.
...***...
__ADS_1