
Aditya menepikan mobilnya di tempat yang aman dan setelah selesai memarkirkan mobil tersebut, ia dan Adriela pun segera keluar dan menghampiri wanita yang masih terisak di pinggir jalan dengan kepala tertunduk.
"Maaf, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Adriela sembari menyentuh pundak wanita itu.
Wanita itu mengangkat kepalanya kemudian memperhatikan Adriela dan Aditya yang kini berada di sampingnya.
"A-Aditya, kamu?!" pekik wanita itu.
"He-Helen?!" Aditya pun tidak kalah terkejutnya.
Aditya memperhatikan penampilan Helen dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia benar-benar tidak percaya bahwa wanita menyedihkan yang sedang berada di hadapannya sekarang adalah Helen. Penampilan wanita glamour itu berubah 360 derajat dari Helen yang pernah ia kenal sebelumnya.
Helen yang selalu tampil cantik dengan balutan dress ketat dan seksi, sekarang hanya Helen biasa dengan penampilan yang biasa pula. Apalagi perut seksi yang selalu menjadi kebanggaan wanita itu sekarang terlihat membesar.
Bukan hanya Aditya yang nampak shok melihat penampilan Helen saat itu. Adriela pun sama. Setahu Adriela, Helen adalah wanita cantik dengan penampilan yang luar biasa. Namun, Helen yang sekarang berada di sampingnya sekarang adalah Helen yang biasa-biasa saja.
"Jadi dia Helen, mantan Kak Aditya?!" batin Adriela.
"He-Helen, apa yang terjadi padamu?" tanya Aditya terbata-bata.
"Aditya, aku--"
__ADS_1
Helen segera menghampiri Aditya kemudian memeluk lelaki itu dengan erat tanpa mempedulikan ekspresi Adriela saat itu. Aditya nampak canggung, apalagi ketika ia bersitatap mata bersama Adriela. Ekspresi wajah gadis itu berubah. Ia sangat tidak nyaman ketika melihat Helen menangis di pelukan Aditya. Apalagi Adriela sudah tahu bagaimana hubungan keduanya di masa lalu.
"He-Helen, sebaiknya kita duduk disana," ucap Aditya sembari melerai pelukannya bersama Helen dan menunjuk sebuah Kafe yang berada tidak jauh dari tempat itu.
Helen menyeka air matanya kemudian mengangguk pelan. "Ya, baiklah."
Aditya mengajak Helen dan Adriela menuju kafe tersebut. Setelah mendapatkan sebuah meja untuk mereka tempati, Aditya pun kembali ke tempat sebelumnya untuk memarkirkan mobilnya ke tempat parkir di kafe tersebut.
Sementara itu, Adriela dan Helen sudah duduk disatu meja yang sama. Tubuh Helen masih bergetar. Wanita itu masih terisak sambil menundukkan kepalanya menghadap lantai. Sedangkan Adriela terus memperhatikan Helen secara seksama, dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.
Aditya memesan makanan dan minuman untuk mereka bertiga terlebih dahulu sebelum ia menghampiri meja yang kini di tempati oleh Adriela dan Helen. Wanita masa depan dan masa lalu Aditya.
Helen mengangkat kepalanya kemudian menatap Aditya dengan wajah sendu. "Terima kasih, Aditya. Aku juga sudah sangat lapar, sejak kemarin sore aku tidak makan apapun," sahut Helen.
"Benarkah? Kamu belum makan apa-apa sejak kemarin sore?!" pekik Aditya setelah mendengar penuturan wanita masa lalunya itu.
Helen menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum kecut. "Ya, Aditya. Aku belum makan apapun sejak kemarin sore. Semua ini karena si tua bangka yang menyebalkan itu!" ucapnya.
Aditya dan Adriela saling bertatap mata untuk sejenak. Namun, hanya sebentar saja. Setelah itu tatapan merekapun kembali tertuju pada Helen yang duduk tepat di hadapan mereka.
Tepat disaat itu, makanan dan minuman yang dipesan oleh Aditya tiba di meja mereka. Para pelayan Kafe meletakkan makanan dan minuman tersebut ke hadapan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Nah, sekarang kita makan dulu. Berceritanya nanti saja, setelah perut kita kenyang."
Aditya tersenyum sembari meraih sendok dan garpu yang sudah tersedia dan memulai suapan pertamanya. Kemudian disusul oleh Adriela dan Helen. Kedua wanita itu pun mulai mencicipi makanan dan minuman yang berada di depan mereka.
Sesekali Helen melirik ke arah Adriela yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa. Tak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Ternyata bukan hanya Helen yang menyadari hal itu. Aditya pun sadar, sepertinya Adriela mulai merasa tidak nyaman dengan posisi mereka saat itu.
Untuk mencairkan suasana, Aditya meraih makanannya kemudian mengulurkannya ke hadapan Adriela.
"Aaa ...." ucap Aditya.
Akhirnya ada sebuah senyuman yang tersungging di bibir Adriela. Ia membuka mulutnya dan menyambut suapan dari Aditya sambil terkekeh pelan. Tidak sampai disitu, Aditya juga membersihkan sedikit noda yang tertinggal di sudut bibir Adriela sambil tersenyum hangat.
Helen memperhatikan hal itu dan ekspresi wajahnya pun berubah. Entah mengapa ia tidak suka melihat Aditya dan Adriela sedekat itu. Namun, Helen masih bisa menyembunyikan perasaannya. Ia memilih fokus pada makanan dan minuman yang berada di hadapannya.
Tidak berselang lama, acara makan mereka pun akhirnya selesai.
"Oh ya, Helen. Gara-gara kelaparan, aku sampai lupa memperkenalkanmu dengan gadis ini. Kenalkan, ini Adriela, calon istriku. Sebentar lagi kami akan segera melangsungkan pernikahan kami," ucap Aditya sembari merengkuh tubuh Adriela.
"Calon istri?!" pekik Helen dengan setengah tidak percaya.
...***...
__ADS_1