
Dengan langkah cepat Reyhan melangkah menuju kamarnya bersama Danisha. Benar saja, setibanya di ruangan itu, ternyata Danisha sudah tergolek lemah di atas tempat tidur.
"Istriku kenapa, Mbak?" tanya Rey kepada Babysitter yang sedang menggendong Raisha.
"Saya tidak tahu, Tuan. Tiba-tiba saja Nona Danisha pingsan."
Rey menghampiri Danisha kemudian mencoba membangunkannya.
"Sha, Nisha, bangunlah. Kamu kenapa, Sha? Apa ini semua karena ucapan kasar Ibu padamu?" tanya Rey sembari menepuk-nepuk kedua pipi Danisha dengan lembut.
Namun, Danisha tidak juga membuka matanya. Ia masih tidak sadarkan diri dengan wajah yang terlihat sangat pucat.
"Ya, Tuhan. Sebenarnya apa yang terjadi pada Danisha?"
Rey mengambil peralatan medisnya kemudian mulai memeriksa keadaan Danisha dengan seksama.
"Sepertinya Danisha baik-baik saja. Apa mungkin ini ada hubungannya sama Ibu?" gumamnya sembari meletakkan peralatan medisnya ke atas tempat tidur.
Tidak berselang lama, Danisha pun mulai sadar. Tubuhnya mulai menggeliat di atas tempat tidur. Rey tersenyum kemudian mengelus puncak kepalanya dengan sangat lembut.
"Kamu kenapa, Sha? Ini pasti ada hubungannya sama Ibu 'kan? Kamu tenang saja, esok Ibu akan kembali ke kediamannya karena aku sudah menemukan seorang Perawat yang bisa merawat Ibu."
"Bukan, Mas!" Danisha memijit kepalanya yang masih terasa sakit. "Bukan tentang itu, aku tidak tahu entah kenapa kepalaku terasa sangat sakit. Apa ada hubungannya dengan tekanan darahku ya, Mas?"
Rey menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nisha. Aku sudah memeriksa kondisimu dsn semuanya baik-baik saja. Apa kamu sudah makan? Aku curiga, kamu pasti belum makan, benar 'kan?"
Danisha mulai mengingat-ingat dan ternyata benar, ia melupakan makan siangnya. "Sepertinya iya, Mas," ucap Nisha sambil tersenyum kecut menatap Rey.
"Hmm, benar 'kan apa kataku."
Rey bangkit dari posisinya, kemudian melangkah keluar dari ruangan tersebut. Tidak berselang lama, Rey kembali ke kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Danisha.
__ADS_1
Ia menghampiri wanita itu kemudian membantunya duduk sambil bersandar di sandaran tempat tidur. "Sekarang makanlah. Aku tidak ingin kamu sakit," ucap Rey sembari mengulurkan sendok berisi makanan kepada Danisha.
Danisha membuka mulutnya kemudian mulai mengunyah makanan itu.
"Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa semua makanan yang masuk ke dalam mulutku semuanya terasa aneh. Makanya sekarang aku malas makan, Mas," tutur Danisha.
Rey menautkan kedua alisnya saat menatap wanita itu. "Benarkah? Lalu bagaimana dengan rasa makanan ini?" tanya Rey.
"Iya, Mas. Sama, rasanya aneh."
Benar saja, baru beberapa kali Rey menyuapinya, Danisha sudah menolak dan memilih berhenti makan.
"Sudah cukup, Mas. Aku mau muntah," tolak Danisha ketika Rey kembali menyodorkan sendok makanan ke hadapannya.
"Nisha, apa sebaiknya kita periksakan lagi kondisi rahimmu?" ucap Rey dengan tatapan cemas menatap Danisha yang terlihat memucat.
Sudah dua bulan terakhir, Danisha tidak lagi memeriksakan kondisi rahimnya. Terakhir kali ia memeriksanya, hasilnya masih sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Bukannya aku menakutimu, Sha. Tapi, aku takut kondisi rahimmu malah mempengaruhi kesehatanmu saat ini," jawab Rey cemas.
"Benarkah?" Wajah Danisha mulai sendu setelah mendengar ucapan Rey.
"Ya, sebaiknya malam ini kita ke Dokter dan periksakan kondisi rahimmu."
Danisha pun mengangguk.
. . .
Danisha dan Rey sudah berada di dalam mobil mereka dan bersiap menuju tempat praktek Dokter yang selama ini menangani masalah rahim Danisha.
"Titip Raisha ya, Mbak," ucap Danisha kepada Babysitter sebelum mobil yang dikemudikan oleh Rey melaju menuju tempat praktek tersebut.
__ADS_1
"Ya, Nona."
Setelah berpamitan kepada Raisha dan Babysitternya, Rey dan Danisha pun segera berangkat. Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di tempat itu. Beruntung malam itu, pasien Dokter tersebut tidak terlalu banyak hingga Danisha tidak perlu mengantri terlalu lama.
"Nona Danisha? Wah, kenapa tidak menghubungi saya sebelumnya jadinya Anda tidak perlu ikut mengantri seperti ini," ucap Dokter dengan wajah semringah menyambut kedatangan Danisha dan Rey. Ia mengulurkan tangannya kemudian disambut oleh pasangan itu dengan cepat.
"Tidak apa-apa, Dok. Sekali-sekali ikut mengantri seperti pasien lainnya," sahut Danisha sambil tersenyum hangat.
Setelah berbincang-bincang hangat bersama pasangan itu, Dokter pun mulai memeriksa Danisha sama seperti biasanya. Danisha yang sudah pasrah dengan kondisinya, tidak berani berharap banyak.
"Ya, Tuhan!" pekik Dokter itu sambil membulatkan matanya dengan sempurna.
"Kenapa, Dok?" tanya Rey panik.
Sejak berada di rumahnya, Rey sudah mulai curiga dengan kondisi Danisha dan ia berharap kecurigaannya tidak benar.
"Kenapa kalian baru memeriksakan Nona Danisha sekarang?" pekik Dokter itu lagi dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Memangnya kenapa, Dok?" tanya Danisha dan Rey secara bersamaan.
"Ada janin di dalam rahim Nona Danisha yang sedang tumbuh, Dokter Rey!" pekik Dokter itu sambil menitikkan air mata penuh haru.
Ia benar-benar terharu karena selama ini mereka yakin bahwa tidak mungkin sebuah nyawa yang akan tumbuh di rahim Danisha dan ternyata prediksi mereka salah.
"Apa, Dok? Anda tidak sedang bercanda, 'kan?" pekik Rey.
"Jangan bercanda, Dok. Kasihanilah kami karena bercandaan ini sangatlah tidak lucu," lanjut Danisha dengan wajah sedih menatap Dokter.
"Demi Tuhan, saat ini saya tidak sedang bercanda. Nona Danisha positif hamil dan kalian bisa lihat ini! Ini adalah calon bayi kalian yang sedang tumbuh di rahim Nona Danisha," ucap Dokter sembari menunjuk ke layar monitor.
...***...
__ADS_1