
[Maafkan Author kalo kehamilan yang terjadi pada Arumi agak cacat logika. 🙏🙏 Tapi anggap aja ini adalah suatu anugrah dari Tuhan untuk keluarga kecil mereka, Ok Reader, Love you all 😍😍😍]
.
.
.
Tidak berselang lama Dokter yang akan memeriksa keadaan Arumi pun tiba. Sambil memasang senyuman hangat, Dokter cantik itu menghampiri Arumi yang masih tergolek lemah diatas tempat tidurnya.
"Permisi ya, Nona."
Dokter itu mulai memeriksa kondisi Arumi dengan seksama. "Terakhir dapet, tanggal berapa ya, Nona?" tanya Dokter.
Arumi nampak berpikir sambil mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia mendapatkan tamu bulanannya. "Saya lupa tanggalnya, Dok. Soalnya saya tidak terlalu memperhatikan masalah itu. Tetapi, seingat saya, bulan kemarin masih dapet dan bulan ini udah kelewat," tutur Arumi.
Dokter itu tersenyum mendengar jawaban dari Arumi. "Ya, sudah. Untuk memastikan, sebaiknya kita lakukan tes saja."
Dokter itu mengeluarkan sebuah testpack kemudian membantu Arumi bangun dari tempat tidurnya. Dokter dan Arumi perlahan memasuki kamar mandi dan melakukan test disana.
"Aduh, Mira. Coba kamu sentuh tanganku, dingin 'kan?!" ucap Nyonya Rahma kepada Tante Mira.
Tante Mira terkekeh pelan sembari *******-***** tangan Sahabatnya yang terasa sangat dingin itu. "Semoga saja itu benar ya, Rahma. Aku juga sangat mengharapkannya." sahut Tante Mira.
Sedangkan Adnan hanya diam. Ia sendiri bingung harus bahagia atau malah sebaliknya.
"Bagaimana jika benar Arumi hamil, sedangkan kondisiku seperti ini? Bagaimana jika aku cacat seumur hidup? Apa yang akan dikatakan oleh anakku nanti, dia pasti akan malu punya Ayah seperti diriku! Cacat dan tidak berguna," batin Adnan. Tak terasa airmata pun meleleh dikedua sudut matanya.
Tepat disaat itu Arumi dan Dokter keluar dari kamar mandi. Arumi kembali ketempat tidur dan berbaring lagi disana. Kepalanya masih terasa berat dan berputar-putar, bahkan wajahnya pun masih memucat.
__ADS_1
Begitupula Dokter cantik itu. Ia kembali ke posisinya dan duduk disamping tempat tidur Arumi. Dokter masih memperhatikan benda kecil di tangannya dan setelah beberapa menit, Dokter itupun tersenyum.
Dokter itu memperlihatkan hasil dari benda kecil itu kepada Arumi. Arumi menyambutnya kemudian memperhatikannya dengan mata berkaca-kaca.
"Mah!" Arumi memperlihatkan testpack itu kepada Nyonya Rahma yang duduk berdampingan dengan Tante Mira di sofa yang berada tepat didepan tempat tidurnya.
Nyonya Rahma bergegas bangkit dari posisi duduknya kemudian menghampiri Arumi sambil berlari kecil. "Mana, Sayang?!" ucap Nyonya Rahma sembari mengambil benda kecil itu dari tangan Arumi.
"Mira, kita akan jadi Nenek!" seru Nyonya Rahma dengan mata berkaca-kaca menghampiri Tante Mira.
"Mana, sini lihat!"
Kini giliran Tante Mira yang memperhatikan benda kecil dengan dua garis merah itu. "Oh, Adnan! Selamat, kamu akan segera menjadi seorang Ayah," ucap Nyonya Rahma sembari memeluk tubuh Adnan yang sedang duduk di kursi rodanya dengan wajah frustrasi.
"Adnan?" Tante Rahma memperhatikan wajah sedih Adnan kemudian membawa keponakannya itu menjauh dari sana.
Adnan menghembuskan napas berat kemudian menatap Tante Mira dengan tatapan sendu.
"Tante, lihatlah keadaanku! Bagaimana bisa aku menjadi seorang Ayah kalau kondisiku seperti ini! Aku cacat, Tante! Aku malu dengan keadaanku! Aku tidak akan bisa menjadi suami siaga, sama seperti laki-laki lain. Bagaimana jika nanti Arumi melahirkan? Jangankan memboyong tubuhnya dan membawanya ke Rumah Sakit, membantunya berjalan pun aku tidak mampu!" tutur Adnan sambil menitikkan air mata.
Tante Mira mengerti bagaimana perasaan Keponakannya itu. Ia kembali memeluk tubuh Adnan sembari mengelus punggungnya dengan lembut. "Jangan pernah menyerah, Adnan. Berjuanglah! Bersemangat lah! Yakin bahwa kamu pasti akan sembuh dan kembali seperti semula," sahut Tante Mira, memberi semangat kepada Adnan.
"Aku benci hidupku, Tante! Aku benci!!!" Adnan memukul-mukul kakinya dengan keras bahkan kakinya terlihat memerah karena pukulannya, tetapi ia tidak merasakan sakit sedikitpun.
"Adnan, sudah cukup! Kamu seperti anak kecil saja! Tidakkah kamu kasihan melihat Arumi?! Haruskah dia berjuang sendirian disaat-saat lemahnya seperti sekarang?! Dia butuh kamu, Adnan. Dia butuh perhatianmu sebagai suaminya. Jika kamu saja seperti ini, bagaimana dia bisa melalui masa-masa kehamilannya dengan baik?!" kesal Tante Mira sambil menggenggam kedua tangan Adnan yang mencoba menyakiti dirinya sendiri.
"Tapi, Tante ...," lirih Adnan.
Tepat disaat itu, Dokter Spesialis Kandungan yang tadi memeriksa keadaan Arumi, menghampiri Adnan dan Tante Mira.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, Tuan, Nyonya, selamat siang," ucap Dokter itu.
"Terima kasih banyak, Dok," sahut Adnan.
"Sudah! Sekarang seka air matamu, Adnan. Jangan sampai Arumi melihat kesedihanmu, kasihan dia. Jika dia sedih, maka bayi dalam kandungannya pun ikut bersedih. Apa kamu mau hal itu terjadi?!" ucap Tante Mira sambil mendorong kursi roda Adnan kembali ke kamarnya.
Adnan menggelengkan kepalanya sembari menyeka air matanya yang masih mengalir.
Setibanya didalam kamar, Arumi sudah menyambut kedatangan Adnan yang menghampirinya sambil tersenyum hangat. Arumi mengelus lembut perutnya yang masih rata. "Kita akan menjadi Ayah dan Ibu , Mas," ucap Arumi.
Adnan menyunggingkan sebuah senyuman hangat kemudian meraih tangan Arumi dan menciumnya berkali-kali. "Terima kasih, Sayang. Aku sangat bahagia," tutur Adnan.
Walaupun Adnan mencoba tersenyum semanis mungkin, tetapi Arumi masih bisa melihat kegundahan di mata lelaki itu.
"Mas, kenapa? Mas Adnan tidak senang ya dengan kehamilan ini?" tanya Arumi dengan wajah sendu menatap Adnan.
"Siapa bilang?" Adnan kembali melemparkan sebuah senyuman manis kepada Arumi.
"Aku bahagia, sangat, sangat bahagia," tutur adnan.
Sementara Adnan bicara bersama Arumi, Tante Mira dan Nyonya Rahma sedang repot memikirkan nama untuk calon bayi Adnan dan Arumi nantinya.
"Ya ampun, Mamah! Apa tidak terlalu pagi untuk memikirkan siapa nama calon bayi kami? Sedangkan jenis kelaminnya saja kita belum tahu," ucap Arumi sambil terkekeh pelan.
"Maklum, Arumi. Inikan pertama kalinya ia menjadi seorang Nenek, makanya dia udah gak sabaran," ejek Tante Mira.
"Ye, biarin! Memangnya kamu yang udah jadi nenek dari banyak cucu. Oh iya, bukannya Naila hamil lagi? Wuihhh ... bakal rame cucu kamu, Mir!" goda Nyonya Rahma sambil terkekeh.
...***...
__ADS_1