Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Pemeriksaan Kehamilan


__ADS_3

Sementara itu, Di kediaman Keanu


Keanu duduk sendiri di ruang pribadinya sambil melamun. Tatapannya kosong dan didalam pikirkannya hanya ada Naila. Entah mengapa ia merasakan rindu yang amat sangat kepada gadis itu. Padahal seharusnya ia bahagia karena Melisa sudah kembali bersamanya. Namun, kebahagiaan itu sama sekali tidak ia rasakan semenjak Naila pergi meninggalkannya.


Dan sekarang, hanya cincin pernikahan mereka yang menjadi pengobat rindunya kepada Naila. Seperti sekarang ini, Keanu masih memainkan cincin pernikahannya bersama Naila yang sejak tadi berada didalam genggamannya. Sesekali ia mencium cincin milik Naila sambil menyebut nama gadis itu.


Tiba-tiba saja, Keanu melepaskan cincin pernikahannya bersama Melisa kemudian menggantinya dengan cincin milik Naila. Keanu tersenyum simpul sambil bergumam. "Naila, seandainya saja aku tidak menyia-nyiakan dirimu, mungkin hingga saat ini kamu masih bersamaku."


Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka oleh seseorang dari luar. "Sayang, ayo! Aku sudah siap," seru Melisa sambil tersenyum hangat.


Keanu segera menyimpan cincin miliknya dan juga milik Naila kedalam laci meja kerjanya agar Melisa tidak melihatnya. Setelah itu iapun bangkit dan menghampiri Melisa yang masih berdiri didepan pintu.


"Baiklah, sekarang ayo kita berangkat," sahut Keanu seraya merengkuh pinggang ramping Melisa dan berjalan bersama menuju halaman depan.


Hari ini Keanu dan Melisa akan berkunjung ke Dokter Kandungan langganannya. Karena hari ini adalah jadwal Melisa memeriksakan kehamilannya.


Di perjalanan menuju tempat praktek Dokter Kandungan, Melisa terus saja mengoceh. Banyak sekali permintaannya pada Sang Suami ketika anak mereka lahir nanti. Keanu tidak terlalu menanggapinya, ia hanya membalasnya dengan bergumam, 'Ehmm'. Hingga pada akhirnya Melisa pun merasa sangat kesal.


"Keanu sayang! Kenapa kamu hanya menjawab setiap pertanyaanku dengan 'Ehmm'? Apa kamu tidak bahagia dengan i hadiran calon anak kita?!" kesal Melisa sambil menatap wajah Keanu yang masih fokus melajukan mobilnya.


"Terus aku harus bilang apa? Tidak mungkin kan, aku harus menolak semua permintaan mu padaku?" sahut Keanu tak acuh. Ia masih menatap lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun kepada Melisa yang semakin kesal setelah mendengar jawabannya.


Melisa menghembuskan napas kasar kemudian mengalihkan tatapannya. Kini mata Melisa tertuju pada tangan Keanu yang tengah memegang setir mobil. Lebih tepatnya lagi, matanya tertuju pada jari manis Keanu yang terlihat berbeda dari biasanya.


"Keanu?" Melisa mengerutkan kedua alisnya, "mana cincin pernikahan kita? Dan ini apa?! Cincin siapa ini yang kamu pakai?!Jangan katakan cincin ini adalah cincin pernikahan mu dengan gadis dungu itu, ya!"


Melisa benar-benar meradang. Wajahnya bahkan memerah, menatap Keanu. Keanu menghembuskan napas berat kemudian menepikan mobilnya ke pinggir jalan.


"Sudahlah Melisa, aku sudah lelah menghadapi sikap keras mu! Ini cuma masalah cincin! Tadi pagi, karena tergesa-gesa, aku salah ambil cincin ku! Dan ini bukan cincin pernikahan siapa-siapa! Ini hanya cincin ku! Paham?!" hardik Keanu tidak mau kalah.

__ADS_1


Keanu kembali menghembuskan napas kasar kemudian membuang tatapannya kearah depan. Ia sudah bosan menghadapi sikap arogan Melisa yang semakin kesini semakin menjadi.


Melisa kesal karena Keanu sudah mulai berani membentaknya. Ia mengelus perutnya yang sudah mulai menonjol sambil terisak. "Kamu lihat Daddy mu, Sayang? Dia sudah mulai bicara kasar sama Mommy. Mungkin dia sudah tidak menyayangi kita lagi," ucapnya.


Keanu kembali menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju tanpa mempedulikan akting Melisa yang begitu sempurna.


Sementara itu,


Naila sedang berada di ruangan Dokter Kandungan bersama Tante Mira. Sedangkan Adnan menunggu diluar sambil memainkan ponselnya.


"Bagaimana, Dok? Bagaimana keadaan cucu saya, apa mereka sehat-sehat saja?" tanya Tante Mira dengan sangat antusias kepada Dokter.


Dokter tersenyum simpul. "Bayi-bayinya sehat, Bu. Dan kondisi mereka juga sangat bagus, baik itu berat badan janin, lingkar kepala dan lain-lainnya." ucap Dokter.


Tante Mira mengerutkan keningnya, "Sebentar, Dok! Bayi-bayinya? Maksud Dokter cucu saya lebih dari satu?!" tanya Tante Mira.


Tante Mira membulatkan matanya. Ia bahkan menutupi kedua mulutnya yang juga ikut membulat dengan kedua tangannya. "Ah, aku senang sekali! Akhirnya rumah ku akan ramai dengan tangis dan tawa dua bayi!" seru Tante Mira dengan setengah berteriak.


Naila pun tidak kalah bahagianya. Ia bahkan menitikkan airmata kebahagiaan setelah mengetahui ada dua nyawa yang sedang tumbuh didalam rahimnya.


Setelah berberapa menit, akhirnya pemeriksaan itupun selesai. Naila dan Tante Mira segera keluar dari ruangan itu dengan wajah gembira.


Adnan tersenyum lebar sambil menyambut Tante Mira dan Naila yang baru saja keluar dari ruangan Dokter itu. "Bagaimana hasil pemeriksaannya? Aku yakin pasti baik-baik saja, secara wajah kalian terlihat sangat senang."


"Bukan lagi, Adnan! Bahkan lebih dari itu. Apa kamu tahu? Aku akan punya dua cucu, cucuku kembar, Adnan!" seru Tante Mira yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Wah, selamat ya, Naila!" ucap Adnan sambil menatap lekat kedua bola mata Naila.


Tanpa mereka sadari, diujung koridor nampak Melisa dan Keanu sedang berjalan kearah mereka.

__ADS_1


"Bukankah itu Nyonya Mira, pemilik Restoran favorit mu?" tanya Keanu kepada Melisa.


Melisa segera menoleh kearah mereka. Dan beruntung saat itu Naila berdiri dengan posisi membelakangi Melisa dan Keanu. Namun, saat itu Keanu sudah punya firasat lain terhadap wanita muda yang tengah membelakanginya.


"Sepertinya itu Naila?" batinnya.


Mata Keanu hanya berfokus pada wanita muda dengan rambut dikuncir kuda, sama seperti Naila menguncir rambutnya. Dan akhirnya merekapun berdiri tepat dibelakang Naila.


"Nyonya Mira, sedang apa anda disini?" sapa Melisa dengan wajah heran menatap Tante Mira dan Adnan secara bergantian. Ia juga ingin sekali melihat wajah wanita muda yang masih berdiri membelakanginya. Namun, tidak bisa.


Deg!


Naila membulatkan matanya. Ia sangat hapal siapa pemilik suara yang terdengar sangat lembut itu. Suara yang sering menghardiknya dengan kata-kata menyakitkan telinga dan juga hati.


Naila menatap Adnan sambil memelas. Ia meminta pertolongan lelaki itu agar segera membawanya menjauh dari pasangan itu. Adnan membalas tatapan Naila sambil menganggukkan kepalanya. Ia mengerti bahwa Naila ingin segera pergi dari tempat itu.


"Ehm, saya permisi dulu." Adnan merengkuh tubuh Naila, "Mari, Sayang!" ucap Adnan seraya menuntun Naila berjalan bersamanya.


Keanu semakin penasaran dengan sosok wanita muda yang sedang berjalan menjauhinya. Matanya terus fokus menatap Naila dan Adnan, bahkan tanpa berkedip sekalipun.


"Itu, mengantarkan Istri Adnan memeriksakan kehamilannya," sahut Tante Mira.


Tante Mira sangat marah tetapi ia masih bisa mengontrol emosinya. Padahal ia ingin sekali menghardik pasangan itu karena sudah menghancurkan masa depan keponakan satu-satunya.


"Wah, ternyata Chef Adnan sudah menikah, ya? Anda jahat, Nyonya Mira. Mengapa anda tidak mengundang kami? Padahal kami adalah pelanggan setia anda, lho?!" ucap Melisa.


"Kami hanya mengadakan pesta kecil-kecilan saat itu dan hanya mengundang kerabat dekat saja," sahut Tante Mira.


...***...

__ADS_1


__ADS_2