Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Tante Rahma Berkunjung


__ADS_3

Kediaman Tante Mira,


Hari ini Tante Mira, Adnan dan Naila masih membahas tentang keinginan Naila. Mereka masih belum menemukan tempat yang cocok untuk gadis itu. Dan ketika mereka masih asik bertukar pendapat, tiba-tiba di halaman depan terdengar suara deru mobil yang terparkir.


"Sebentar dulu ya, sepertinya itu Rahma. Dia bilang ingin berkunjung hari ini," sela Tante Mira.


Adnan dan Naila pun mengangguk dan membiarkan Tante Mira melangkah menuju halaman depan.


"Siapa itu Rahma?" tanya Naila kepada Adnan yang terus melemparkan senyuman untuknya.


"Dia sahabatnya Tante Mira. Nanti kamu juga tahu," sahut Keanu.


Tepat disaat itu Tante Mira kembali bersama Tante Rahma. Dan Ternyata, Tante Rahma tidak sendiri. Ia mengajak serta Arumi bersamanya.


"Selamat siang semuanya!" sapa Tante Rahma kepada Naila dan Adnan yang tengah duduk di sofa.


Adnan dan Naila pun segera bangkit dari posisi duduk mereka kemudian menghampiri Tante Rahma dan Arumi. Adnan mengulurkan tangannya sembari membalas sapaan Tante Rahma.


"Siang juga, Tante. Apa kabar?" tanya Adnan.


"Tante baik," sahut Tante Rahma.


Begitupula Naila, iapun turut menyambut kedatangan sahabat Tantenya itu dengan senyuman hangat sembari mengulurkan tangannya kepada Tante Rahma. Wanita itu tidak bisa mengedipkan matanya ketika melihat sosok Naila. Ia memperhatikan gadis itu dari atas kepala hingga ujung kaki. 


"Entah perasaanku saja atau memang benar adanya, ya? Aku seakan melihat sosok Ariana pada gadis cantik ini. Ehm, maaf Mira, bukan maksudku membuatmu bersedih," tutur Tante Rahma.


Tante Mira pun tersenyum setelah mendengar penuturan Tante Rahma. "Kamu benar, Rahma. Akupun berpikir seperti itu ketika menyaksikan Naila pertama kali," sahut Mira sembari merengkuh tubuh mungil Naila.


"Owh, iya. Bukankah kamu bilang ingin membawa Naila keluar negeri? Trus, kapan kalian berangkat?" tanya Tante Rahma.


"Entahlah, kami masih merundingkan tempat yang cocok untuk keponakan ku ini. Lagipula Naila pun masih ragu jika harus tinggal di luar negeri," jawab Tante Mira.

__ADS_1


"Owh, begitu."


Sementara mereka sedang membahas masalah Naila, Arumi sejak tadi tidak bisa melepaskan pandangannya dari lelaki yang tengah berdiri di hadapannya. Ia sangat merindukan lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu.


Dan tiba-tiba saja Adnan sadar bahwa Arumi terus saja memperhatikan dirinya sambil tersenyum hangat. Adnan pun dengan terpaksa membalas senyuman gadis itu sembari mengulurkan tangannya.


"Apa kabar, Arumi?" tanya Adnan.


Arumi semringah, apalagi akhirnya lelaki itu membalas senyumannya. "Baik," Arumi menyambut uluran tangan lelaki itu kemudian tanpa canggung sedikitpun, ia memeluk tubuh Adnan dihadapan Tante Mira, Naila dan Ibunya sendiri.


Adnan sama sekali tidak menyangka bahwa Arumi akan melakukan hal itu. Ia ingin segera melerai pelukannya, tetapi perempuan itu sudah begitu erat memeluk tubuh kekarnya.


Naila terdiam sembari memperhatikan Arumi dan Adnan yang tengah berpelukan. Begitupula Tante Mira. Hanya Tante Rahma yang terlibat begitu bahagia melihat mereka sedekat itu.


Karena merasa sangat risih, Tante Mira meraih tangan Arumi yang masih melingkar ditubuh Adnan kemudian memperkenalkan gadis itu dengan Naila.


"Ehm, Arumi ... perkenalkan, ini Naila, keponakan Tante," ucap Tante Mira.


Akhirnya Arumi melepaskan tubuh Adnan kemudian mengalihkan perhatiannya kepada gadis cantik bertubuh mungil yang tengah berdiri di hadapannya sambil melemparkan senyuman hangat.


"Naila," sahut Naila sembari menyambut uluran tangan gadis itu.


"Eh, ayo! Duduk dulu, apa kalian ingin berdiri saja seterusnya disini?!" goda Tante Mira sembari mengajak Tante Rahma dan Arumu untuk duduk di sofa.


Merekapun duduk disana dan mulai berbincang-bincang. Arumi memilih duduk disamping Adnan. Sedangkan Naila duduk disamping Tante Mira yang letaknya berseberangan dari Adnan dan Arumi.


Arumi tidak hentinya mengajak Adnan untuk bicara sembari menatap wajah tampan Adnan sambil tersenyum. Dan tangannya tidak terlepas dari paha lelaki itu.


Adnan merasa sangat risih, tetapi gadis itu tidak pernah mempedulikan bagaimana reaksi Adnan. Sudah berkali-kali ia mencoba menyingkirkan tangan itu dari pahanya. Namun tidak berapa lama, Arumi kembali meletakkannya keatas paha Adnan.


"Adnan, ajak aku mengelilingi rumah ini, yuk! Aku 'kan sudah lama tidak mampir kesini," ucap Arumi sembari memeluk lengan kekar Adnan sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Baiklah," sahut Adnan.


Paling tidak dengan begitu, dia bisa lebih leluasa menolak gadis itu untuk melakukan hal-hal yang membuatnya risih. Begitulah pikir Adnan.


Setelah berpamitan kepada Tante Mira dan Tante Rahma, merekapun segera pergi meninggalkan ruangan itu.


Kini tinggal Naila yang masih terjebak diantara Tante Mira dan Tante Rahma dengan obrolan mereka yang sama sekali tidak dimengerti olehnya. Ia merasa sangat bosan hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk pamit.


Naila melangkahkan kakinya menuju dapur setelah mendapatkan izin dari Tantenya. Dia ingin menemani Bi Arti yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Namun, sebelum ia tiba diruangan itu, ia melihat Adnan dan Arumi yang tengah beradegan romantis ala-ala pasangan di layar televisi yang sering ia tonton.


Adnan tengah menahan tubuh Arumi agar tidak jatuh. Sedangkan Arumi melingkarkan tangannya ke leher Adnan dengan erat. Dan mata merekapun bertaut dengan sempurna.


Naila terpaku, tubuhnya bahkan terasa sangat berat dan sulit untuk digerakkan ketika menyaksikan kemesraan kedua insan yang terlihat sangat serasi itu. Bibirnya terkunci rapat dan matanya terus tertuju kepada mereka.


Rupanya saat Adnan dan Arumi menjelajahi ruangan itu, Arumi berpura-pura tersandung dan akhirnya Adnan refleks menyambut tubuh seksi Arumi kemudian terjadilah adegan mesra yang tidak disengaja itu.


Menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka, Adnan segera menoleh dan ternyata orang itu adalah Naila yang seperti patung menatap dirinya dan Arumi.


"Naila?!" pekik Adnan.


Adnan segera melepaskan tubuh Arumi dan seandainya Arumi tidak memegang tubuh Adnan dengan erat, mungkin ia sudah terjatuh ke lantai.


Pekikan Adnan membuat Naila sadar. Ia gelagapan, kemudian segera menundukkan kepalanya. "Maafkan Naila, Kak! Naila tidak bermaksud mengganggu kalian," ucap Naila sembari berkali-kali membungkukkan tubuhnya sebagai tanda permintaan maafnya. Naila bergegas pergi dari ruangan itu dan segera menuju dapur.


"Nai!" teriak Adnan dan ingin mengejarnya. Namun Arumi menahannya.


"Adnan sayang, kamu mau kemana? Bukankah kamu sudah berjanji akan menemaniku mengelilingi rumah ini? Kenapa malah ingin mengejar gadis itu?" seru Arumi sembari menatap wajah Adnan yang terlihat panik.


Adnan mendengus kesal dan melupakan niatnya untuk mengejar Naila. Dan kini ia menatap wajah cantik Arumi dengan tatapan malasnya. "Baiklah, sekarang kamu ingin kemana lagi?" tanya Adnan.


Arumi membalas tatapan Adnan dengan penuh selidik. Ia merasa ada yang salah pada diri lelaki tampan yang tengah berdiri di hadapannya itu. "Kamu mencintai gadis itu, ya?!" pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut Arumi.

__ADS_1


...***...


Readers, kita UP bab yang ringan dulu ya 😄😆 nanti agak siangan baru lanjutan tentang Keanu yang ingin bicara empat mata dengan Adnre, penasaran kan, kan, kan ... 😅😆 Tungguin Up selanjutnya ya, jangan lupa kasih LIKE, COMMENT, VOTE, RATE dan TIPSnya boleh banget, 😍😍😍 untuk Author remahan kayak aku, itu sangat-sangat berarti lo, Reader tersayang ... Terimakasih 😘😘😘


__ADS_2