Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Seperti Badut


__ADS_3

"Biar Bibi yang bersihkan ya, Non," ucap Pelayan yang ingin membantu Arumi membersihkan meja makan.


"Tidak usah, Bi. Biar nanti Arumi saja yang bersihkan. Bibi kembali aja ke kamar," tolak Arumi sambil tersenyum hangat kepada Bibi.


"Baiklah kalau begitu, Non. Bibi pamit dulu,"


Pelayan itupun pergi meninggalkan Arumi sendirian di ruang makan. Sepeninggal Pelayan itu, Arumi kembali bersedih tatkala menyaksikan deretan makanan yang masih banyak diatas mejanya.


Perasaannya bercampur menjadi satu, sedih, marah, kesal dan juga kecewa. Namun, ia tidak tahu kemana harus melampiaskan semuanya.


Tubuh Arumi perlahan merosot ke lantai. Ia tergolek disana dengan airmata yang terus menyeruak dari kedua pelupuk matanya. Hingga akhirnya, iapun tertidur.


. . .


Waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi,


Adnan terbangun dari tidurnya karena tiba-tiba ia merasa kehausan. Andan menoleh ke samping, ternyata ia tidak menemui Arumi disana.


"Kemana wanita itu? Pasti dia pulang ke rumah Ibunya dan merengek lagi disana. Heh, kebiasaan! Bukankah dia sudah berjanji akan berubah, tapi apa buktinya? Aku menyesal karena sudah menikahinya!"  Kesal Adnan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Ya, begitulah pandangan Adnan terhadap Arumi. Gadis manja yang suka merengek kepada Ibunya. Dan hal itu merupakan salah satu yang paling tidak ia suka dari Arumi.


Adnan bangkit dari tempat tidurnya kemudian melangkah menuju dapur. Dan setibanya Adnan disana, ia terkejut karena lampu di ruang makan masih menyala. Perlahan Adnan memasuki ruangan itu dan menyaksikan banyaknya makanan yang tertata diatas meja.


"Apa ini?" gumam Adnan sembari menautkan kedua alisnya. Ia terus melangkahkan kakinya menghampiri meja makan dan tidak sengaja ia menginjak dress yang sedang dikenakan oleh Arumi.


Adnan tersentak kaget ketika menyaksikan wanita itu tergeletak di lantai tanpa alas apapun. Adnan berjongkok dan mencoba membangunkan Arumi.

__ADS_1


"Arumi ... Arumi, apa yang kamu lakukan disini?" Adnan menggoyang-goyangkan tubuh Arumi dan ia merasakan tubuh Arumi yang begitu dingin.


Perlahan wanita itu membuka matanya. Ia kaget ketika melihat Adnan berada di hadapannya. "Mas," sapa Arumi sambil memasang senyuman semanis mungkin.


Adnan memperhatikan penampilan Arumi saat itu. Make Up yang menghiasi wajah Arumi berantakan. Begitupula rambutnya yang semula tertata rapi, kini acak-acakan. Adnan terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya.


"Untuk apa kamu berdandan berlebihan seperti ini, Arumi? Naila saja tidak pernah menggunakan Make Up berlebihan seperti dirimu, tetapi ia tetap terlihat cantik. Sebaiknya kamu bersihkan wajahmu, penampilan mu malah terlihat seperti badut saat ini," tutur Adnan.


Duarrr ...


Arumi bagai ditembak petir ketika Adnan membandingkan dirinya dengan Naila. Tanpa rasa bersalah sama sekali, Lelaki itu malah meninggalkannya seorang diri di ruangan itu.


"Aku seperti badut?" Tangis Arumi kembali pecah.


Arumi bangkit. Sambil berlari kecil, ia menuju kamar mandi yang ada di kamarnya. Arumi mengunci pintunya kemudian cermin yang terpasang di dinding kamar mandi.


"Ya, Mas! Aku memang tidak secantik Naila. Tetapi apakah salah, jika aku berusaha agar terlihat menarik di matamu? Make Up ini hanya topeng, Mas! Agar kamu tidak melihat apa yang ku sembunyikan di baliknya!" lirih Arumi sambil menyeka air matanya.


Sementara itu, Adnan sudah kembali ketempat tidur dan bersiap melanjutkan tidurnya. Sedangkan Arumi, setelah selesai membersihkan wajahnya, Arumi pun mengganti dress nya dengan baju tidur. Ia menghampiri tempat tidur dan berbaring disamping Adnan.


Bahkan sampai saat ini, Adnan belum pernah menyentuhnya sekalipun. Lelaki itu terus membelakangi nya ketika tidur.


"Aku lihat makanan yang berjejer diatas meja makan, sebenarnya apa yang kamu lakukan, Arumi? Apa kamu tahu, di luaran sana masih banyak yang tidak bisa makan, sedangkan kamu malah membuang-buang makanan!" ucap Adnan,


Arumi menoleh kearah Adnan yang masih berbaring sambil membelakangi nya. Arumi memiringkan tubuhnya dan kini berada tepat dibelakang suaminya itu.


"Hari ini, sebagai permintaan maaf Arumi kepada Mas Adnan, Arumi belajar masak buat menyambut kedatangan Mas. Namun, Mas tidak mau ketika Arumi ajak ke ruang makan. Jadinya makanan itu tergeletak disana dan sekarang sudah tidak terlihat menarik lagi," lirih Arumi.

__ADS_1


Adnan berbalik kemudian menatap wajah pucat Arumi. "Percuma, Arumi! Kamu sudah melupakan perjanjian kita sebelum menikah. Bukankah kamu sudah berjanji padaku bahwa kamu akan merubah sikap burukmu? Kamu bilang tidak akan posesif lagi dan tidak akan jadi anak manja yang suka merengek kepada Ibumu! Tapi apa buktinya? Sedikit saja punya masalah, kamu lari ke Ibumu dan mengerek disana seperti bayi?!" hardik Adnan, pelan namun tegas.


"Aku menikahimu karena kasihan sama Ibumu yang tiap kali merengek kepadaku agar aku bisa menerima dirimu lagi. Dan aku juga berharap dengan menikahimu, aku bisa menyingkirkan Naila dari hati dan pikiranku. Namun, ternyata aku salah besar! Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Naila dari hatiku jika kamu tetap seperti ini, yang ada aku semakin illfil!" ssmbung Adnan kesal.


Lelaki itu kembali berbalik dan membelakangi nya.


"Mas, berilah aku sedikit saja perhatian mu, agar nanti jika Tuhan sudah menjemputku, aku bisa pulang dengan tersenyum," lirih Arumi sambil menitikkan air matanya.


Adnan sama sekali tidak merespon, Lelaki itu menutup rapat mata dan telinganya. Seolah-olah ia sudah tidak ingin mendengar dan melihat apapun yang dilakukan oleh Arumi.


"Selamat malam, Mas Adnan. Semoga mimpi indah."


Arumi membalikkan badannya dan mencoba memejamkan matanya hingga akhirnya ia benar-benar tertidur.


. . .


Pagi-pagi sekali, Arumi sudah bangun. Ia bergegas mandi dan berdandan. Wajahnya masih pucat, sama seperti kemarin dan ia tidak ingin Adnan melihatnya dengan wajah seperti itu.


Ia juga mempersiapkan pakaian Adnan dan segala sesuatu yang diperlukan oleh suaminya itu. Setelah selesai, ia segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Biar saya saja yang melakukannya, Nona. Anda istirahat saja, saya tidak ingin anda kelelahan," ucap Pelayan itu dengan wajah cemas memperhatikan Arumi yang siap bergelut dengan alat-alat memasaknya.


Arumi tersenyum sambil menatap Pelayannya. "Sudah, tidak apa-apa, Bi. Aku masih penasaran bagaimana reaksi Mas Adnan ketika mencicipi masakanku karena tadi malam aku sudah gagal," sahut Arumi.


Tidak berselang lama, akhirnya sarapan pagi ala Arumi pun tertata di atas meja. Tinggal menunggu Excecutive Chef itu turun dari kamarnya kemudian mencicipi masakannya.


Dengan hati berdebar-debar, Arumi menunggu diruang makan dan ia berharap Adnan akan menyukai masakannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2