
"Kamu lihat, Nai? Aku tidak akan membiarkan mereka bahagia diatas penderitaan mu," gumam Adnan.
Setelah semuanya beres, Adnan pun pulang. Lelaki itu tiba di kediaman Tante Mira disaat semua penghuni rumah itu sudah beristirahat. Hanya para penjaga keamanan yang masih berjaga didepan.
Perlahan Adnan melangkahkan kakinya memasuki ruangan demi ruangan. Hingga akhirnya langkahnya terhenti ketika menyaksikan seorang wanita muda tengah memperhatikan foto berukuran jumbo di ruang tengah.
Adnan memperhatikannya dari kejauhan, nampak Naila begitu fokus menatap salah satu wanita yang berdiri didalam foto tersebut.
"Anda begitu mirip dengan Ibu saya, Nyonya. Tapi sayang, nasib Ibu saya tidak sebaik nasib anda. Dia hanya dari keluarga miskin sedangkan anda lahir dari keluarga yang berada." batin Naila
"Kamu masih belum tidur, Nai?" tanya Adnan seraya menghampiri Naila yang masih fokus menatap foto tersebut.
Naila tersentak kaget. "Astaga, Tuan! Anda bikin saya terkejut!" seru Naila sambil membulatkan matanya.
Adnan terkekeh pelan, "Kenapa masih disini? Ini sudah larut malam, lho!" sahut Adnan
Naila tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya kearah foto itu lagi. "Entah kenapa saya begitu senang memperhatikan foto Adik Nyonya Mira. Dia sangat cantik dan saat saya melihatnya, saya seakan melihat almarhumah Ibu saya, Tuan. Dia sangat mirip dengan Ibu saya, tapi bedanya, Ibu saya hanya seorang penjual kue yang setiap harinya mengenakan pakaian lusuh. Berbeda dengan Adik Nyonya Mira yang berasal dsri keluarga kaya," ucap Naila.
Adnan mengerutkan alisnya sambil memperhatikan wajah Naila. "Benarkah?" tanya Adnan.
"Ya, Tuan. Wajah mereka sangat mirip, bahkan seandainya mereka duduk berdampingan, mungkin banyak orang yang akan menganggap mereka saudara kembar." sahut Naila
Adnan sangat penasaran setelah mendengar ucapan Naila.
"Nai ..." Adnan ingin menanyakan lebih banyak lagi tentang Ibundanya Naila. Namun, Naila sudah memotong ucapannya.
"Sepertinya saya harus kembali, Tuan. Mata saya sudah sangat ngantuk," ucap Naila
Adnan pun menganggukkan kepalanya pelan sambil memperhatikan Naila yang berjalan semakin menjauh hingga hilang dari penglihatannya.
__ADS_1
"Ibu Naila mirip Adiknya Tante Mira? Atau ... mereka adalah orang yang sama? Bukankah dulu Tante Mira bilang bahwa mata Naila begitu mirip dengan Adiknya? Akh, kenapa aku begitu penasaran!" gumam Adnan sembari melangkahkan kakinya menuju kamar.
Keesokan harinya,
Seperti biasanya Naila kembali melakukan tugasnya. Disaat majikannya tengah menikmati sarapan mereka, Naila memilih membantu Pelayan lain membersihkan ruangan demi ruangan dirumah mewah itu.
Dan hari ini, Tya kembali berkunjung ke kediaman Tante Mira karena hari ini ia tidak masuk sekolah berhubung pihak sekolah tengah sibuk mempersiapkan ujian akhir untuk anak didik mereka yang duduk dikelas 12.
Tya kembali menyapa Naila yang sedang memebersihkan ruang tengah. "Hai, Nai. Apa kabar? Eh, temanku kemarin titip salam lho, buat kamu! Ngomong-ngomong, dia tampan kan? Lagipula orang tuanya tajir, lho!" ucap Tya.
Naila tersenyum kecut mendengar ucapan Tya. "Kabarku baik dan bilang pada temanmu, terimakasih." sahut Naila.
"Eh Nai, temani aku yuk! Aku ingin mengajakmu jalan-jalan tapi nanti, setelah pekerjaan mu sudah selesai," imbuh Tya.
"Maafkan aku,Tya. Sebenarnya aku tidak bermaksud menolak ajakan mu tetapi aku rasa tidak mungkin aku diijinkan meninggalkan tempat ini," sahut Naila sambil tersenyum hangat.
Sementara itu diruang makan,
"Adnan, barusan Nyonya Melisa, istri dari Tuan Keanu Armani Putra menelepon Tante. Dia bilang, dia sangat kecewa karena dinner romantis mereka tadi malam berantakan akibat ulah salah satu Pelayan kita. Apa itu benar?" tanya Tante Mira
Adnan mengelap bibirnya dengan lap yang sudah tersedia di meja makan. Ia baru saja selesai dengan sarapannya.
"Ya, Tante. Itu benar," sahut Adnan sambil terkekeh pelan.
Tante Mira menautkan kedua alisnya sambil menatap Adnan. "Lho, bagaimana bisa? Bukankah seharusnya kamu yang menangani semuanya? Kenapa hal itu bisa sampai terjadi?" tanya Tante Mira lagi.
Adnan menghembuskan napas kasar. "Apa Tante tahu, Keanu Armani Putra, pemilik Perusahaan Tekstil terbesar itu adalah suami Naila. Lelaki yang sudah menghancurkan kehidupan Naila. Dan tadi malam ia bersenang-senang bersama istri keduanya tanpa memikirkan nasib istri pertamanya! Aku kesal, Tante. Aku kacaukan saja dinner mereka! Beruntung aku cuma mengacaukan dinner mereka, padahal aku ingin sekali memberikan sesuatu ke makanan mereka, biar mereka kena diare dan kapok. Tapi sayang, aku masih memikirkan nama baik Restoran dan mengurungkan niat ku melakukannya," sahut Adnan.
Tante Mira terdiam, ia tidak percaya bahwa Keanu yang dimaksudkan oleh Naila adalah Keanu Armani Putra, sang pemilik Perusahaan Tekstil ternama itu.
__ADS_1
"Apa kamu serius, Adnan? Jadi ... Keanu yang disebut oleh Naila adalah Tuan Keanu?!"
"Ya! Dan maafkan soal sikap Adnan tadi malam, Adnan tidak bisa menahan emosi ketika melihat kemesraan mereka," sahut Adnan sambil menundukkan kepalanya.
"Ya sudahlah, Adnan. Tidak masalah! lagipula seandainya Tante berada disana saat itu, mungkin kejadiannya akan lebih tragis lagi. Tante akan teriaki mereka, biar mereka malu dan tahu apa kesalahan mereka!" sahut Tante Mira yang sudah tersulut emosi seraya menggebrak meja makan dengan keras.
Adnan terkekeh melihat aksi Tantenya. "Wah, Tante mengerikan!" ucap Adnan.
"Tentu saja! Mereka bersenang-senang setelah menghancurkan kehidupan Naila! Siapa yang tidak kesal! Punya duit banyak tapi istri pertama luntang-lantung dijalan dan harus bekerja keras hanya untuk menyambung hidup! Sedangkan istri kedua, dimanja dan disayang-sayang! Jangan bilang alasannya karena Naila hanya istri siri!" sahut Tante Mira geram.
Tiba-tiba Adnan teringat akan perkataan Naila tadi malam tentang Ibunya yang begitu mirip dengan Adiknya Tante Mira yang sudah lama tidak diketahui keberadaannya.
"Tante, Tante pernah bilang kalau mata Naila begitu mirip dengan Adiknya Tante. Emang iya, ya?" tanya Adnan
Tante Mira terlihat bingung mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Adnan kepadanya.
"Ya, memangnya kenapa, Adnan?" Tante Mira balik bertanya.
Ekspresi wajah Adnan mendadak serius menatap Tante Mira. "Begini Tante, tadi malam Adnan melihat Naila menatap foto keluarga Tante diruang tengah. Dan setelah Adnan ajak bicara, Naila bilang Adik Tante begitu mirip dengan Ibunya. Bahkan sangat mirip, bedanya cuma Ibunya lahir dari keluarga miskin sedangkan Adik Tante kan, berasal dari keluarga berada. Apa itu mungkin, Tante? Apa mungkin Adik Tante punya kembaran? Atau mereka adalah orang yang sama?" tutur Adnan.
Seketika mata Tante Mira berkaca-kaca. Kalau sudah membahas masalah Adiknya, kesedihan itu kembali lagi menyelimuti hatinya.
"Kamu serius, Adnan? Naila berkata seperti itu padamu?" tanya Tante Mira.
"Ya, Tante. Itu yang dikatakan oleh Naila. Dan Adnan rasa, Naila tidak mungkin berbohong," imbuhnya
"Tante harus segera mencari tahu, siapa orang tua Naila yang sebenarnya," ucap Tante Mira
...***...
__ADS_1