
"Disana ada meja kosong, Kak. Sepertinya itu memang untuk Key, deh."
Keyla mengajak Aditya duduk disebuah kursi kosong yang letaknya tak jauh dari meja Ardhan dan Naura. Bahkan saat menuju ke meja tersebut Keyla melewati meja mereka. Dengan anggunnya, Keyla melangkah sambil memeluk lengan kekar Aditya.
Aditya memperhatikan ekspresi wajah Ardhan saat itu dan ia tahu bahwa Ardhan sedang panas melihat ia dan Keyla bersama. Ia mendekatkan wajahnya kepada Keyla kemudian berbisik.
"Chef dingin itu mulai memperhatikan kita, Key."
Key sempat melirik kearah Ardhan, tetapi hanya sebentar. Ia kembali fokus kearah depan dan seolah ia tidak melihat orang-orang yang ada di meja tersebut.
"Biarkan saja, sebaiknya kita pura-pura gak lihat aja, Kak."
"Baiklah," sahut Aditya sambil terkekeh.
Ini pertama kalinya dalam seumur hidup Aditya berpura-pura menjadi kekasih seseorang dan ia begitu menghayati perannya.
"Silakan duduk, Sayang."
Aditya menarik sebuah kursi dan mempersilakan Keyla untuk duduk disana. Setelah Keyla duduk, ia pun segera menyusulnya, duduk di samping Keyla.
Ketika acara makan-makan dimulai, mata Ardhan tidak hentinya memperhatikan kemesraan pasangan itu. Kemesraan yang sengaja diciptakan oleh Aditya dan Keyla untuk membuat Ardhan kepanasan.
"Driel, apa kamu tidak ingin bergabung bersama Keyla? Dia 'kan sahabatmu," tanya Ardhan.
Ardhan sengaja memancing Adriela agar bergabung bersama Keyla agar kemesraan pasangan itu sedikit terganggu. Dengan begitu matanya tidak akan terlalu sakit.
Adriela membulatkan matanya ketika Ardhan mengucapkan hal itu. "Yang benar saja, Kak! Yang ada aku akan menjadi pengganggu buat mereka," jawab Adriela.
Ketika semua orang tengah menikmati hidangan yang sudah tersedia, Ardhan bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali. Matanya masih saja tertuju pada Keyla dan Aditya yang memang sengaja suap-suapan didepan matanya.
__ADS_1
"Aaa ... buka mulutnya, Sayang!" ucap Aditya sambil melirik Ardhan.
Keyla pun mengerti dengan permainan yang diciptakan oleh Aditya. Ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari Aditya.
"Sebentar, Sayang. Ada noda di sudut bibirmu," lanjut Aditya sembari membersihkan sudut bibir Keyla dengan selembar tissue.
"Terima kasih, Sayang! Kamu memang yang terbaik," balas Keyla sambil tersenyum manis kepada Aditya.
Naura merasa bingung karena tidak biasanya Ardhan hanya diam saja ketika bersamanya. Bahkan makanan yang ada di hadapan lelaki itupun tidak tersentuh sama sekali.
"Ardhan, kamu kenapa, sih? Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Naura sambil menautkan kedua alisnya menatap lelaki itu.
"Ehm, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, kok."
"Kamu yakin?" tanya Naura sekali lagi.
"Ya, percayalah. Aku baik-baik saja."
Naura pun kembali melanjutkan makannya bersama Adriela. Sedangkan Ardhan masih tidak ingin menyentuh makanan itu. Perutnya terasa penuh setelah melihat kebersamaan Keyla dan Aditya.
"Ternyata inilah alasanmu yang sebenarnya, Key. Alasanmu menjauhiku selama beberapa hari ini. Aku tidak menyangka bahwa dirimu akan berpaling secepat ini dariku," batin Ardhan sambil menelan salivanya dengan susah payah.
Detik berganti menit dan menit pun terus berganti menjadi jam. Ardhan sudah berada di puncak batas kesabarannya. Ia bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri meja Keyla dan Aditya.
"Selamat malam, Key," sapa Ardhan dengan sebuah senyuman yang benar-benar dipaksakan.
"Eh, Ardhan. Mari, silakan duduk," sahut Keyla dengan wajah semringah memyambut kedatangan Ardhan.
"Siapa dia?" tanya Ardhan sambil melirik kearah Aditya.
__ADS_1
"Oh, ini Kak Aditya, kekasihku," jawab Keyla sambil melemparkan senyuman manis khas Keyla.
Senyuman yang selalu menghiasi hari-hari Ardhan sebelum gadis itu menjauhinya. Senyuman yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini.
Ardhan tersenyum kecut mendengar jawaban Keyla. Ia mengulurkan tangannya kepada Aditya dan memberikan selamat kepada lelaki itu.
"Selamat ya," ucap Ardhan.
"Terima kasih," sahut Aditya sembari menyambut uluran tangan Ardhan.
Adriela dan Naura kebingungan melihat Ardhan yang tiba-tiba menghampiri meja Keyla dan Aditya.
"Sebenarnya apa hubungan Kakakmu dengan gadis tomboy itu? Kok, aku jadi curiga, ya!"
Adriela tidak menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya sebagai tanda bahwa ia pun tidak mengerti hubungan seperti apa yang terjadi antara Kakaknya dengan Keyla.
Baru saja Naura ingin melangkah menghampiri Ardhan, lelaki itu malah pergi keluar dari ruangan pesta.
Adriela tersentak kaget ketika melihat Kakaknya kabur begitu saja meninggalkan pesta. Bukan hanya meninggalkan pesta, tetapi juga meninggalkan dirinya dan Naura yang masih menikmati kemeriahan pesta di gedung tersebut.
"Kak!" panggil Adriela.
"Kamu lihat Kakakmu itu, Adriela! Dia adalah lelaki paling menyebalkan yang pernah hadir dalam hidupku!" kesal Naura. Naura melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan ruangan itu. Ia menyusul Ardhan yang kini berjalan jauh di depannya.
"Loh, kok marah-marahnya sama aku, sih? Aku 'kan gak tau apa-apa," gumam Adriela.
Adriela kembali duduk di kursi sambil menekuk wajahnya. Ia bingung harus pulang bersama siapa. Sementara Adriela kebingungan dengan nasibnya, Keyla dan Aditya masih terkekeh di meja mereka. Mereka senang karena berhasil mengerjai Ardhan dan Naura.
"Kamu lihat wajahnya, Key?! Wajahnya terlihat sangat menyedihkan," ucap Aditya sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
"Kamu benar, Kak. Dan entah mengapa aku sangat senang melihatnya seperti itu," sahut Keyla.
...***...