Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Kampung Naila


__ADS_3

Keesokan harinya,


Tante Mira dan Naila tengah di perjalanan menuju perkampungan, dimana Naila dan Sang Ibu dulu pernah tinggal. Sedangkan Adnan akan menjadi sopir pribadi mereka untuk sepanjang hari ini.


Tante Mira terus memeluk tubuh mungil Naila seraya mencium puncak kepalanya berkali-kali. Seolah-olah ia tidak ingin melepaskan Naila lagi.


Setelah beberapa saat, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Adnan pun tiba disebuah perkampungan yang benar-benar jauh dari keramaian. Lelaki itu menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah rumah yang terlihat sudah tua tetapi masih kokoh berdiri.


Mendengar suara mobil berhenti didepan rumahnya, Sang empunya rumah tersebut bergegas keluar dan mengecek siapa yang ingin bertamu kerumah tuanya.


Wanita tua itu terkejut, ternyata tamunya adalah gadis kecil yang dulu pernah tinggal disamping rumahnya. Gadis kecil periang dan suka membantu itu kini berdiri di hadapannya dengan mata berkaca-kaca menatapnya.


"Naila sayang ..." lirih Wanita tua.


"Nek Dija!" seru Naila seraya memeluk wanita tua itu.


"Naila, Nenek merindukan mu. Sudah lama kita tidak bertemu setelah kamu pergi bersama Iyem saat itu," ucap Nek Dija sambil membalas pelukan gadis itu.


"Naila juga kangen sama Nenek," sahut Naila.


Tante Mira dan Adnan memperhatikan sekelilingnya. Mereka tidak percaya ternyata selama ini Ariana tinggal di perkampungan ini bersama anaknya. Pantas saja mereka tidak pernah lagi melihat keberadaannya.


Tante Mira kembali bersedih mengingat sang Adik kini sudah tiada. Belum lagi penderitaan yang ia tanggung dimasa hidupnya bersama sang anak. Hal itu membuat matanya kembali berkaca-kaca. Butiran kristal itu sudah siap meluncur dari pelupuk matanya.


"Oh ya, Nek. Kenalkan, ini Tante Mira dan ini Kak Adnan." Naila memperkenalkan kedua orang itu kepada Nek Dija, tetangganya selama ia tinggal di kampung ini.

__ADS_1


Wanita itupun segera mengulurkan tangannya kepada Tante Mira dan Adnan kemudian mempersilakan mereka masuk kedalam rumah tua nya.


"Maafkan rumahnya sudah tua dan jelek begini," ucap Nek Dija seraya mempersilakan tamunya untuk duduk di lantai bersamanya, karena dirumah itu sama sekali tidak ada kursi apalagi sofa untuk duduk.


"Tidak apa-apa, Bu. Terimakasih," sahut Tante Mira.


"Ehm, sebenarnya apa tujuan kalian datang kemari?" tanya Nek Dija sambil tersenyum hangat.


Tante Mira pun membalas senyuman Nek Dija kemudian menjelaskan alasannya menemui wanita tua itu. Setelah mendengar penuturan Tante Mira, Nek Dija terdiam sambil menatap dinding rumahnya dengan tatapan kosong. Wanita tua itu mencoba mengingat perjuangan Ariana saat ia masih hidup. Tak terasa airmata wanita tua itu meluncur dikedua pipinya yang sudah keriput.


"Ariana tinggal disebelah rumahku. Saat pertama kali ia tiba di perkampungan ini, Ariana masih bersama suaminya. Namun hanya untuk beberapa bulan, sebelum lelaki itu pergi dengan alasan kembali bekerja. Tetapi setelah hari itu, lelaki itu menghilang tanpa jejak. Ariana bahkan sudah mencoba mencari keberadaannya. Hingga akhirnya ia menemukan suaminya kembali ke sisi istri pertamanya kemudian menceraikan dirinya begitu saja, padahal saat itu ia tengah mengandung. Sejak saat itu ia memutuskan untuk berjuang sendirian. Perjuangannya begitu berat, ia harus melewati kehamilan hingga melahirkan seorang diri tanpa suami dan sanak saudara. Bahkan hingga ia menghembuskan napas terakhirnya pun, lelaki itu tidak pernah muncul batang hidungnya!" tutur Nek Dija sambil menitikan air matanya.


Tante Mira tidak bisa menahan emosinya. Ia menangis histeris didalam pelukan Adnan. "Kau dengar itu Adnan, nasib adikku begitu tragis ..." ucap Tante Mira disela isak tangisnya.


"Kenapa kalian tidak berusaha mencari keberadaannya, Nyonya Mira? Seandainya kalian mencarinya, mungkin nasibnya berserta Naila tidak akan seburuk itu," sambung Nek Dija.


Nek Dija menundukkan kepalanya, "Ya, sebab itupula ia tidak ingin kembali kepada kalian. Ia benar-benar merasa bersalah sekaligus malu. Hingga akhirnya ia memilih berjuang hidup di perkampungan ini," lirih Nek Dija.


"Nah, Naila. Apa sekarang kamu sudah yakin? Kamu adalah keponakan ku, anak dari Adikku yang selama ini menghilang," ucap Tante Mira kepada Naila yang masih tertunduk.


Naila mengangkat kepalanya kemudian mengangguk. "Ya, Tante. Sekarang Naila percaya." Naila segera memeluk tubuh Tante Mira sambil menangis haru.


Setelah semuanya jelas, merekapun segera pamit kepada Nek Dija. Tidak lupa Tante Mira memberikan sedikit bantuan untuk Nek Dija yang selama ini begitu baik kepada Adik dan Keponakannya. Nek Dija sangat senang menerima bantuan dari Tente Mira. Maklum, Nek Dija juga bukanlah dari keluarga yang berada.


"Itu rumah Naila, apa kalian ini bertamu kerumah Naila sebentar?" ucap Naila seraya menunjuk sebuah bangunan reot disamping rumah Nek Dija.

__ADS_1


Adnan dan Tante Mira serempak menoleh kearah rumah itu. Tante Mira kembali bersedih melihat rumah yang selama ini didiami oleh Adiknya dan juga keponakannya.


"Jangan, Naila. Tante tidak sanggup," sahut Tante Mira.


Naila tersenyum kemudian mengikuti Adnan menuju mobilnya. Sekarang tujuan mereka adalah makam Ariana. Disepanjang perjalanan, Naila terus bercerita tentang tempat-tempat yang sering ia kunjungi di perkampungan itu. Tante Mira dengan sabar mendengarkan ocehan keponakannya itu. Sedangkan Adnan hanya bisa tersenyum simpul mendengarkan Naila yang terus bercerita dengan sangat antusias. Sekarang Tante Mira dan Adnan baru menyadari bahwa Naila adalah gadis yang periang, hanya saja selama ini penderitaan membuatnya berubah menjadi pendiam dan pribadi yang tertutup.


Akhirnya setelah 15 menit perjalanan, mereka tiba di sebuah pemakaman umum, dimana Ibundanya Naila dimakamkan. Naila menuntun Tante Mira dan Adnan menuju makam Ibunya.


Tante Mira kembali menangis histeris setelah melihat makam sang Adik. Ia benar-benar tidak menyangka nasib adiknya berakhir di perkampungan ini tanpa suami dan sanak saudara. Tapi dia masih bersyukur, Ariana masih meninggalkan seorang Naila untuknya.


"Semoga kamu tenang disana, Adikku."


Setelah berdoa dan menaburkan bunga yang sudah dipersiapkan oleh Tante Mira sebelumnya, merekapun segera pergi.


"Sekarang kita ke dokter kandungan, aku ingin memeriksakan keadaan calon cucuku, Naila." Tante Mira kembali merengkuh tubuh mungil Naila sembari melabuhkan kecupan hangat di pundak kepalanya.


"Bagaimana, apa kamu senang?" tanya Tante Mira kepada Naila yang hanya terdiam setelah mendengar bahwa Tante Mira akan mengajaknya memeriksakan kandungannya.


"Naila senang, Tante. Tapi ... Naila tidak pernah memeriksakan kehamilan ini sebelumnya," ucap Naila sambil tertunduk.


"Apa?!" pekik Tante Mira,


"Jadi suamimu yang bodoh itu ternyata dia juga pelit?! Hingga kehamilan istri saja tidak pernah diperiksakan?!" geram Tante Mira.


"Bukan! Bukan seperti itu, Tante. Tuan Keanu bahkan tidak tahu bahwa Naila sedang mangandung anaknya. Naila sengaja tidak memberitahunya, agar ia tidak bisa mengambil anakku. Naila ingin seperti Ibu, ia bisa merawat ku walaupun tanpa Tuan Rendra disampingnya!" sahut Naila.

__ADS_1


Tante Mira sangat terharu setelah mendengar penuturan Naila.


"Tenang saja, Nai sayang! Mulai sekarang kita akan rawat anak itu bersama-sama!" sahut Tante Mira.


__ADS_2