
Sepulang dari kantor, Aditya segera menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk kesayangan Bu Radia. Ia memejamkan matanya dan mencoba melepas lelah setelah seharian bekerja.
Wajahnya nampak kusut begitupula pikirannya. Hari ini, entah kenapa Helen terus marah-marah tanpa sebab kepadanya. Jika ditanya kenapa, bukannya menjawab, kemarahan wanita itu semakin menjadi.
Bu Radia memperhatikan anaknya dari kejauhan. Sebagai seorang Ibu, ia merasa iba ketika melihat anaknya kelelahan seperti itu. Perlahan, Bu Radia menghampiri Aditya kemudian duduk di sofa yang lain, tidak jauh dari tempat Aditya berbaring.
"Nak, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Bu Radia.
"Aku sedang lelah, Bu. Jangan di ganggu!" ucapnya dengan mata terpejam.
"Tapi, sebaiknya kamu mandi dulu, Dit. Biar segar."
"Udah, Bu. Adit bilang jangan ganggu. Ya, jangan ganggu," ketusnya.
Bu Radia menghembuskan napas berat, kemudian mengelus puncak kepala Aditya dengan lembut.
"Nak, sebenarnya kapan kamu dan Helen menikah? Tidak mungkin 'kan selamanya kalian akan terus berpacaran seperti ini?" tanya Bu Radia.
Masih dengan mata tertutup, Aditya menjawab pertanyaan Ibunya. "Kenapa baru sekarang Ibu tanyakan hal itu? Kemarin-kemarin malah memaksaku menikahi gadis kampungan itu."
"Oh iya, Dit. Soal Nazia, Ibu sedikit lebih tenang karena di hari pernikahan kalian waktu itu, ada seseorang yang bersedia menggantikan posisimu. Dan sekarang Nazia sudah sah menjadi istri dari lelaki itu," tutur Bu Radia.
Aditya membuka matanya kemudian melirik Bu Radia sambil tersenyum sinis. "Baguslah kalau begitu!"
"Apa kamu mau tahu, siapa lelaki yang sudah menggantikan posisimu?" tanya Bu Radia, mencoba memancing Aditya.
__ADS_1
"Heh, aku tidak peduli. Paling-paling lelaki yang statusnya sama seperti dirinya. Miskin dan tidak berpendidikan ya, 'kan?!"
Aditya bangkit dari posisinya kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.
"Sayangnya bukan, Nak. Ibu yakin kamu pasti akan terpelongo ketika mengetahui siapa yang sudah bersedia menggantikan posisimu," gumam Bu Radia ketika Aditya sudah pergi dari ruangan itu.
Sementara itu.
Danish dikejutkan dengan penampilan Nazia yang terlihat sangat berbeda. Wanita itu terlihat jauh lebih cantik. Selain pakaiannya yang jauh lebih modis, tatanan rambut serta riasan wajahnya pun terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Wow, Sayang! Kamu cantik sekali!" seru Danish sambil membulatkan matanya.
Ia memperhatikan penampilan Nazia dari ujung rambut hingga ujung kaki sambil berdecak kagum.
"Bagaimana, Kak Danish? Kakak Ipar jauh lebih cantik ya, 'kan?! Ucapkan terima kasih dulu donk sama Keyla."
"Terima kasih, Adik Kakak yang cantik," ucap Danish.
Rupanya hari ini Keyla mengajak Nazia ke salon serta membeli pakaian yang bagus-bagus untuk Kakak iparnya itu. Setelah di Make Over, Nazia yang dulunya terlihat kuno dan kampungan, kini berubah 180 derajat. Wanita itu terlihat cantik sempurna, nyaris tanpa cela. Siapapun yang melihatnya tidak akan pernah menyangka bahwa dirinya adalah Nazia, yang dulunya hanya seorang gadis penjual bunga di perempatan jalan.
Danish merengkuh tubuh Zia dan membawanya menuju kamar mereka.
"Bagaimana penampilan Zia, Mas? Apa Mas menyukainya?" tanya Zia malu-malu.
"Ya, Aku menyukainya. Apapun penampilanmu, aku akan selalu menyukainya. Oh ya, Sayang. Setelah kita menikah, aku ingin mengajakmu tinggal di tempat tinggal baru kita. Kita bisa mengajak Bi Narti tinggal bersama kita jika kamu mau."
__ADS_1
"Benarkah?!" Wajah Nazia nampak berseri-seri ketika mendengar ucapan Danish. Ia bahagia karena ia akan berkumpul lagi bersama Bibinya.
"Ya, tentu saja, Sayang."
. . .
Keesokan harinya
Seperti biasanya, Danish berangkat ke kantornya. Hari ini ia agak terlambat karena bangunnya kesiangan. Maklum, pengantin baru, setiap malam mereka bergempur mencetak Danish kecil.
Ketika handak memasuki ruangannya, Danish mendengar Aditya sedang berbicara bersama Helen sambil tergelak.
"Katanya gadis itu sudah mendapatkan pengganti diriku. Untung saja aku tidak jadi menikahi gadis itu. Jika seandainya itu benar-benar terjadi, mau di taruh dimana wajahku ini?!" ucap Aditya yang kemudian disusul dengan gelak tawa.
"Lalu, siapa yang sudah berbaik hati menggantikan posisimu itu?" tanya Helen dengan wajah malas.
"Entahlah, aku tidak mau tahu. Tapi aku sangat yakin, lelaki itu pasti selevel dengannya, kampungan dan juga tidak berpendidikan. Lagipula, aku sudah tidak ingin berurusan dengan gadis itu lagi," tutur Aditya.
Danish meradang mendengarnya. Tangannya mengepal dengan sempurna. Wajahnya memerah. Ia sangat marah, tetapi bukan karena Aditya sudah menghina dirinya. Ia marah karena lelaki itu sudah menghina istrinya dengan sedemikian rupa.
"Keterlaluan kamu, Aditya. Aku pastikan setelah ini kamu menyesali kata-katamu karena sudah menghina Nazia," gumam Danish.
Danish menghampiri pasangan itu kemudian menyapa mereka. "Wah, sepertinya ada yang seru nih? Bolehkah aku tau, apa yang sedang kalian bicarakan?" ucap Danish sambil melirik pasangan itu secara bergantian.
Aditya terlihat serba salah, ia tidak mungkin menceritakan tentang dirinya yang pernah di jodohkan dengan gadis kampungan kepada Big Bossnya tersebut.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, Tuan. Kami hanya menceritakan lelucon saja, ya 'kan, Helen," kilah Aditya.
...***...