Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Arumi Kembali Kerumah


__ADS_3

"Tapi, ... tidak bisakah kamu memberikan kesempatan untukku memperbaiki semua kesalahanku?" tanya Adnan dengan wajah memelas menatap Arumi.


Arumi menghembuskan napas berat kemudian meraih tangan Adnan dan menggenggamnya. "Aku tahu perasaan yang kamu rasakan padaku bukanlah rasa cinta, Mas. Kamu hanya kasihan padaku, kasihan karena melihat keadaanku yang seperti ini. Sekarang aku sadar, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Sekuat apapun aku memperjuangkan perasaanku padamu, tidak akan pernah merubah keadaan. Hatimu tetap milik Naila dan tidak akan ada celah untukku walaupun aku terus berusaha mencari celah itu," tutur Arumi.


"Arumi, ku mohon ..."


"Maafkan aku, Mas."


"Kamu dengar sendiri 'kan Adnan, sebaiknya kamu pulang dan biarkan Arumi menjalani kehidupannya tanpa dirimu. Dia akan baik-baik saja walaupun tanpa dirimu di sisinya." Nyonya Rahma masuk kedalam ruangan itu dan segera menghampiri Arumi.


Adnan bangkit dari tempat duduknya kemudian berdiri disamping tempat tidur Arumi. "Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Arumi. Kamu akan tetap menjadi istriku sampai kapanpun! Dan kamu tetap akan menjadi tanggung jawabku walaupun kamu tidak tinggal bersamaku lagi," ucap Adnan dengan mata berkaca-kaca menatap Arumi.


"Sebaiknya kamu lupakan Arumi, Adnan. Urus surat perceraian kalian dan biarkan Arumi mencari kebahagiaannya sendiri. Dengan begitu kamu juga bisa bebas melakukan apa saja tanpa ada yang melarang kamu lagi, 'kan? Kamu bisa mengejar cintanya Naila lagi tanpa harus menyakiti perasaan wanita lain," sela Nyonya Rahma.


"Sekarang pulanglah, ini sudah saatnya untuk Arumi beristirahat."


Nyonya Rahma berjalan menuju pintu ruangan itu kemudian membuka pintunya dengan lebar. "Pulanglah," titah Nyonya Rahma sekali lagi.


Adnan menoleh kepada Arumi, tetapi wanita itu hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya. Adnan tidak memiliki pilihan lain, selain keluar dari ruangan itu dengan hati hancur berkeping-keping.


Setelah Adnan keluar dari ruangan itu, Nyonya Rahma segera menutup pintu itu kembali. Ia berjalan menghampiri Arumi yang masih bersandar di sandaran tempat tidur dengan kepala tertunduk.


"Sabarlah, Sayang. Mama yakin setelah ini kamu pasti berhasil melupakannya. Dan Mama juga sangat yakin bahwa hidupmu akan lebih bahagia tanpa lelaki itu, percayalah."


Tiba-tiba terdengar suara isak tangis Arumi dari balik wajahnya yang masih tertunduk. Nyonya Rahma terkejut dan segera memeluk tubuh putrinya itu.

__ADS_1


"Mah, Arumi masih sangat mencintai Mas Adnan. Bahkan sampai saat inipun cinta Arumi sama sekali tidak berkurang terhadapnya," lirih Arumi didalam pelukan Ibunya.


Nyonya Rahma hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengusap rambut anak perempuannya itu.


Beberapa hari kemudian,


Akhirnya Arumi diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah semakin membaik. Kini ia sudah berada didalam mobilnya dan bersiap meluncur menuju kediaman Nyonya Rahma. Namun, sebelum mobil itu meluncur memecah keramaian kota, mereka berpamitan kepada Dokter Fahri yang kini menjadi Dokter untuk Arumi, mengnggantikan posisi Dokter Lisa.


"Terima kasih banyak, Dokter. Kami benar-benar berhutang budi padamu," ucap Nyonya Rahma dengan mata berkaca-kaca menatap Dokter Fahri.


"Sama-sama, Bu. Lagipula ini sudah menjadi tugas saya," sahut Dokter Fahri. "Oh ya, Arumi! Ingat selalu pesanku, jangan terlalu lelah dan jangan lupa minum obatmu. Aku pasti akan datang dua atau tiga hari sekali ke tempatmu untuk memantau kondisimu," tutur Dokter Fahri sambil tersenyum kepada Arumi.


"Siap, Dok!" Arumi membalas senyuman Dokter Fahri sambil mengacungkan jempolnya kepada lelaki itu.


"Baiklah, kami permisi dulu, Dok. Terima kasih banyak."


"Eh, Sayang. Dokter Fahri itu tampan, ya?!" ucap Nyonya Rahma tiba-tiba.


Hal itu spontan membuat Arumi mengerutkan kedua alisnya sembari menoleh kepada sang Ibu. "Memang kenapa, Mah?" tanya Arumi sambil terkekeh pelan.


"Bukan apa-apa, hanya saja Mama sangat menyukai kepribadian Dokter Fahri. Selain tampan, ia juga sangat baik dan begitu memperhatikan dirimu. Coba saja kamu lihat cara dia merawat kamu. Dia begitu perhatian dirimu bahkan dalam hal sekecil apapun," tutur Nyonya Rahma


Arumi kembali terkekeh setelah mendengar penuturan Ibunya. "Ya iyalah, Mah. Dokter Fahri 'kan sekarang menjadi Dokternya Arumi menggantikan posisi Dokter Lisa. Tentu saja dia akan selalu memperhatikan Arumi dan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Arumi," sahut Arumi


"Ih, kamu ini tidak mengerti! Apa kamu tahu, Dokter Fahri itu sepertinya menyukai kamu!" kesal Nyonya Rahma karena dari tadi anaknya itu tidak mengerti-mengerti apa yang dia maksudkan.

__ADS_1


Arumi tergelak mendengar penuturan Ibunya dan ini merupakan pertama kalinya Nyonya Rahma melihat Arumi tertawa lepas seperti itu setelah hari pernikahannya dengan Adnan.


"Mamah ada-ada saja!"


Nyonya Rahma ikut terkekeh melihat ekspresi anaknya. Ia meraih tubuh Arumi kemudian memeluknya. "Teruslah seperti ini, Arumi. Mama senang melihat kamu bisa tertawa lagi seperti dulu," ucap Nyonya Rahma.


Setelah beberapa saat, akhirnya merekapun tiba di halaman depan kediaman Nyonya Rahma. Nyonya Rahma segera menuntun Arumi memasuki kediaman mereka dan membiarkan anaknya itu beristirahat di dalam kamarnya.


Tanpa sepengetahuan Arumi dan Nyonya Rahma, Adnan mengikuti mereka dari belakang. Ia menghentikan mobilnya tak jauh dari kediaman Nyonya Rahma. Lelaki itu terus memperhatikan kamar Arumi yang terletak di lantai atas dan berharap bisa menatap Arumi barang sekilas.


Arumi sudah lelah harus berbaring di tempat tidur. Ia memutuskan untuk duduk bersantai di balkon kamarnya. Namun, baru saja ia ingin menyentuh gagang pintu, ia melihat sebuah mobil yang sangat ia kenali sedang terparkir dipinggir jalan.


"Mas Adnan?!" gumam Arumi.


Arumi mengurungkan niatnya untuk bersantai di balkon. Ia memperhatikan mobil itu dari kaca jendela kamarnya. Tidak berselang lama, keluarlah lelaki itu dari dalam mobilnya.


Adnan menatap kearah kamar Arumi sambil menyandarkan tubuhnya dimobil. Lelaki itu tersenyum manis seraya melambaikan tangannya kepada Arumi yang sedang berdiri didepan jendela kamar.


Arumi menghembuskan napas dalam kemudian berbalik dan kembali ketempat tidurnya. Sedangkan Adnan masih berdiri ditempat itu sambil terus tersenyum.


"Baiklah, Arumi! Jangan kira dengan kamu bersikap seperti itu padaku, aku akan menyerah mendapatkan dirimu kembali. Semakin kamu mencoba menjauhiku, aku semakin bersemangat mengejarmu!"


Adnan terkekeh kemudian masuk kedalam mobil. Lelaki itu segera melajukan mobilnya ke Restoran milik Tante Mira. Wanita itu sudah berkali-kali memarahinya karena Adnan selalu bolos kerja selama Arumi meninggalkan dirinya.


...***...

__ADS_1


Hehe, maaf baru UP 😄😄😄 yee ...


__ADS_2