Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Pernikahan Adnan


__ADS_3

Dua minggu kemudian


Acara pernikahan Adnan dan Arumi pun digelar dengan sangat meriah. Apalagi Arumi adalah anak semata wayang dari Nyonya Rahma. Tentu saja Nyonya Rahma menginginkan yang terbaik untuk putri kesayangannya.


Di ruang Make Up


"Ya ampun, Arumi sayang! Kamu benar-benar sangat cantik!" seru Nyonya Rahma sambil membelai lembut wajah Arumi.


"Arumi sangat bahagia, Mah! Apa yang Arumi cita-cita kan selama ini akhirnya menjadi kenyataan. Akhirnya Adnan resmi menjadi suami Arumi," tutur Arumi dengan wajah semringah.


"Semoga kalian selalu bahagia. Doa Mama akan selalu menyertai kalian," ucap Nyonya  Rahma.


Sementara itu,


Naila sudah siap untuk berangkat ke acara pernikahan Adnan. Ia menggunakan dress panjang berwarna merah muda selaras dengan warna lipstik yang melekat di bibirnya.


Naila terlihat sangat cantik. Semua orang yang tidak mengenalnya, tidak akan menyangka bahwa wanita muda itu sudah menikah dan punya anak.


"Kenapa melihatku seperti itu, Hubby?" tanya Naila kepada Keanu yang tidak henti menatap dirinya.


"Entah mengapa aku tidak pernah bosan ketika menatap mu, Baby." goda Keanu.


"Huft! Jangan mulai, Hubby! Sebaiknya kita berangkat. Atau kita akan terlambat dan tidak bisa menyaksikan Kak Adnan menikah." Naila menarik tangan Keanu dan mengajaknya masuk kedalam mobil.


Merekapun segera berangkat menuju sebuah hotel berbintang, dimana acara resepsi pernikahan Adnan dan Arumi dilangsungkan. Setibanya ditempat itu, ternyata sudah banyak tamu yang berhadir.


Si Kembar sangat senang, mereka berlarian kesana kemari membuat Baby sitter yang berjaga kewalahan. Bahkan sampai Keanu pun terpaksa turun tangan mengejar mereka.


"Aduh, Beb. Kamu lihat anak kembar kita ini?! Mereka benar-benar aktif. Aku bahkan ikut kewalahan mengejar mereka," keluh Keanu sambil menggendong Danish dan Danisha disisi kiri dan kanannya.

__ADS_1


"Selamat berjuang ya, Hubby!" Naila tersenyum menggoda sembari mengelus pipi Keanu yang kini bercucuran keringat.


Keanu tidak berkata apa-apa lagi, ia hanya bisa memasang wajah malas sambil menatap istrinya.


Kedua pengantin itu akhirnya resmi menjadi pasangan Suami Istri. Wajah Arumi berseri-seri karena bahagia. Sedangkan Adnan, ia terlihat biasa-biasa saja, seolah hari itu bukanlah hari spesial untuknya.


Naila tersenyum hangat sambil menatap pasangan itu dari kejauhan. Ia turut bahagia karena akhirnya Adnan melepaskan masa lajangnya bersama seorang wanita yang sejak dulu tergila-gila padanya.


Perlahan Naila menghampiri pasangan pengantin itu kemudian mengucapkan selamat untuk mereka. "Selamat ya, Kak Adnan. Naila turut bahagia melihat kalian akhirnya sah menjadi Suami-Istri." Naila mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Adnan.


Untuk sejenak, Adnan terdiam sambil menatap lekat Naila yang terlihat begitu cantik. Ia bahkan lupa, sudah berapa detik ia menggenggam tangan mulus itu. Arumi merasa risih ketika Adnan menatap Naila seperti itu. Ia meraih tangan Adnan hingga akhirnya tangan Naila terlepas dari genggaman lelaki itu.


"Dimana anak-anakmu, Naila?" tanya Arumi, mencoba mengalihkan perhatian Adnan, agar lelaki itu tidak terus-terusan fokus pada wanita di depannya.


"Tuh, mereka disana bersama Daddy mereka!" Naila melambaikan tangan kepada Keanu yang masih mengejar kedua anaknya. Keanu membalas lambaian tangan Naila sambil tersenyum hangat, kemudian kembali mengejar kedua anaknya.


"Mereka lucu, ya! Mana lincah banget," seru Arumi sambil memeluk lengan Adnan.


"Ah, aku ingin punya anak seperti mereka. boleh 'kan, Sayang?" tanya Arumi sambil memperhatikan ekspresi wajah Adnan kala itu.


Adnan pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Ya, boleh." sahut Adnan.


"Ehm, Kak Adnan, Arumi. Aku permisi dulu, ya! Kasihan lihat Baby sitter dan Hubby ku yang begitu kewalahan menjaga si Kembar," ucap Naila. Naila pun segera menjauh kemudian menghampiri Keanu dan kedua anak kembarnya.


"Mas, Mas masih suka ya, sama Naila?" tanya Arumi dengan wajah sendu menatap Adnan.


"Tidak, kenapa?" sahut Adnan. Ia bahkan tidak ingin menatap wajah Arumi ketika mengatakannya.


"Coba lihat aku, Mas." Arumi meraih wajah Adnan hingga merekapun saling bertatap mata.

__ADS_1


Adnan menghembuskan napas berat kemudian menepis tangan Arumi dari wajahnya. "Aku bilang tidak, ya tidak! Aku menyayangi Naila sama seperti seorang Kakak menyayangi Adiknya," tutur Adnan sembari membuang pandangannya kearah lain.


Wajah Arumi sendu. Ia sekarang mengerti bagaimana perasaan Adnan terhadap Naila sesungguhnya. "Mungkin bibir mu bisa saja mengatakan tidak, Mas Adnan. Tapi, aku yakin sekali di hatimu masih tersimpan cinta untuk wanita itu." batinnya.


Arumi kembali memeluk lengan Adnan dan bersandar di bahunya. Adnan menoleh, tetapi tatapan lelaki itu tetap kosong. Tidak ada perasaan apapun yang terpancar di matanya. "Aku berjanji, Mas. Aku akan merebut kembali hatimu dari wanita itu. Aku tidak akan pernah menyerah, sampai kamu benar-benar luluh padaku," ucap Arumi dalam hati. Wanita itu tetap tersenyum walaupun saat ini hatinya tersayat.


Akhirnya acara pernikahan itupun selesai.


Adnan sudah memboyong Arumi ke kamar VIP yang ia pesan sebelumnya untuk merayakan malam pertamanya bersama Arumi.


Arumi sudah bersiap menunggu Adnan diatas tempat tidur dengan menggunakan lingerie seksinya. Ia terlihat cantik dan menggoda. Wanita itu tersenyum hangat ketika Adnan menghampirinya dan kini Adnan duduk di atas tempat tidur disamping dirinya.


Adnan meraih wajah Arumi kemudian menatap bibir indah yang dipoles dengan lipstik berwarna pink. Lelaki itu menyentuh bibir Arumi dengan ibu jarinya. Iapun akhirnya tergoda untuk menikmati bibir itu. Namun, baru saja Adnan menyentuh bibir itu dengan bibirnya, perasaan itu hadir kembali. Dimana bayang-bayang Naila kembali terlintas di kepalanya.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa, Arumi!"


Adnan melepaskan tubuh Arumi kemudian merebahkan dirinya membelakangi wanita yang kini sah menjadi istrinya itu.


"Mas?!" Arumi sangat kecewa. Namun, ia masih bisa menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Tidurlah, Arumi. Aku sudah lelah," sahut Lelaki itu tanpa membalikkan tubuhnya.


Arumi masih terdiam sambil menatap punggung Adnan. "Bersabarlah, Arumi! Perjuangan mu masih panjang! Bagaimana pun sakitnya hatimu, jangan menangis! Jangan menangis!!!" Arumi mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri dan ia yakin suatu saat nanti, ia pasti berhasil meluluhkan hati suaminya.


Arumi menghampiri Adnan yang masih berbaring dengan posisi membelakanginya. Ia mengelus puncak kepala Adnan kemudian melabuhkan sebuah ciuman hangat disana. "Selamat malam, selamat tidur, Sayang!" ucap Arumi sembari merebahkan tubuhnya tepat dibelakang Adnan. Ia memeluk tubuh Adnan sambil menciumi punggung suaminya itu.


"Aku cinta kamu, Mas!" ucap Arumi lagi.


Adnan diam seribu bahasa. Pelukan hangat yang diberikan oleh Arumi saat itu, bahkan tidak mampu meluluhkan hatinya. "Maafkan aku Arumi, aku terpaksa melakukan ini," batin Adnan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2