
Adnan kembali ke kediamannya. Dengan langkah gontai, Adnan melangkahkan kakinya menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di rumah itu.
"Ehm, Tuan sudah pulang rupanya?" sapa Pelayan.
Adnan berbalik kemudian menatap wanita paruh baya itu sambil tersenyum tipis. "Bi, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Adnan.
"Tentu saja, Tuan," sahut Bibi dengan cepat.
Adnan pun segera mengajak Bibi ke ruang tengah. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk yang ada di ruangan itu.
"Duduklah, Bi." Adnan menepuk ruang kosong di sampingnya dan meminta Pelayannya itu untuk duduk disana
Pelayan itu nampak sungkan, tetapi karena sang Majikan yang memerintahkan dirinya untuk duduk disana, iapun menurutinya. Dengan malu-malu, Pelayan itu duduk disana sambil memperhatikan wajah Adnan yang masih nampak kacau.
Adnan menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan. "Bi, apakah Bibi tau bahwa selama ini Isteriku memiliki riwayat penyakit?" tanya Adnan tanpa menoleh kepada Pelayan itu.
Pelayan itu menganggukkan kepalanya. "Ya, Tuan. Sebenarnya saya juga baru tahu ketika Nona Arumi jatuh pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit," sahutnya.
Adnan menoleh kepada Pelayan itu sambil menautkan kedua alisnya. "Masuk Rumah Sakit? Kapan?" tanya Adnan kebingungan.
Pelayan itu nampak berpikir sejenak. Ia memikirkan kapan kejadian itu terjadi. "Ehm, ketika anda menjenguk sepupu anda di Rumah Sakit, Tuan." sahut Pelayan itu mantap.
"Menjenguk sepupuku? Naila?" tanya Adnan lagi.
"Ya, Tuan."
Sekarang giliran Adnan yang berpikir keras. Mencoba mengingat kapan terjadinya kejadian itu. "Astaga! Aku ingat sekarang, saat itu kami sedang bertengkar karena Arumi telah menghapus pesan chat dari Tante Mira. Tapi dia baik-baik saja ketika aku meninggalkannya," ucap Adnan.
"Tidak lama setelah Tuan keluar, penyakit Nona Arumi kambuh dan ia jatuh pingsan. Beruntung Pak Budi segera membawanya ke Rumah Sakit. Sedikit saja terlambat, mungkin Nona Arumi sudah ...." Pelayan itu tertunduk dan tidak berani meneruskan ucapannya.
Adnan mengusap wajahnya dengan kasar. Penuturan Pelayannya itu membuat ia semakin frustrasi.
"Ya Tuhan, bodohnya aku!" gumam Adnan.
. . .
Keesokan harinya, di Rumah Sakit
__ADS_1
Nyonya Rahma masih setia duduk disamping Arumi yang tergolek lemah diatas tempat tidur pasien. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan nampaklah Dokter Lisa bersama seorang laki-laki berperawakan tinggi menghampirinya.
"Bu Rahma. Kenalkan, ini Dokter Fahri. Dokter yang akan menangani Operasi Arumi hari ini," ucap Dokter Lisa. Dokter cantik yang selama ini menangani penyakit Arumi.
Lelaki berperawakan tinggi itupun mengulurkan tangannya kepada Nyonya Rahma sambil tersenyum hangat. "Dokter Fahri"
"Bu Rahma," sahut Nyonya Rahma sambil tersenyum lebar menyambut uluran tangan Dokter itu.
"Ibu banyak-banyak berdoa ya, semoga semuanya berjalan dengan lancar agar anak Ibu bisa kembali sehat seperti sedia kala," ucap Dokter Fahri.
"Terima kasih, Dokter. Saya akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anak saya," sahut Bu Rahma dengan mata berkaca-kaca menatap Dokter Fahri.
Dokter Lisa tersenyum, "Tenang saja, Bu Rahma. Dokter Fahri ahlinya dan dia sudah sangat berpengalaman dalam menangani penyakit seperti ini."
Tanpa sepengetahuan Nyonya Rahma dan kedua Dokter itu, ternyata Adnan juga mendengarkan percakapan mereka dari luar ruangan. Adnan sudah tiba di Rumah Sakit itu sejak pagi-pagi sekali. Ia hanya bisa memantau Arumi dari kejauhan.
Ia tidak berani menampakkan dirinya kepada Nyonya Rahma karena ia sangat yakin, Mertuanya itu pasti akan mengusirnya dan meminta dirinya untuk mengurus surat perceraian itu lagi.
Adnan tidak menginginkan itu. Ia masih ingin bersama Arumi dan memperbaiki kesalahannya selama ini.
"Rahma," lirih seorang wanita sembari memegang pundak Nyonya Rahma yang sedang duduk di kursi tunggu dengan wajah cemas.
Nyonya Rahma menengadah dan ternyata wanita itu adalah Mira, sahabatnya. Nyonya Rahma mendengus kesal sambil membuang muka. Ia masih sangat kesal dengan Adnan, yang tidak lain adalah keponakan sahabatnya itu.
"Maafkan aku, Rahma."
Tante Mira duduk disamping Nyonya Rahma sembari mengelus punggung sahabatnya itu.
"Kamu tidak salah, Mira. Yang bersalah disini adalah keponakanmu, lelaki jahat yang sudah membuat Arumi ku menjadi seperti ini!" hardik Nyonya Rahma sambil menitikkan air matanya.
"Aku pun tidak menyangka hal ini akan terjadi, Rahma. Aku tidak menyangka Adnan mampu berbuat seperti itu kepada Arumi," lirih Tante Mira.
Nyonya Rahma menepis tangan Tante Mira yang berada di pundaknya. "Tidak semudah itu bagiku memaafkan semua kesalahan Adnan, Mira. Dia sudah mengecewakan aku dan aku harap dia segera mengurus surat perceraiannya dengan Arumi."
Tante Mira menghembuskan napas berat. "Tidak bisakah kamu memberi Adnan kesempatan kedua, agar ia bisa memperbaiki semua kesalahannya. Dia benar-benar telah menyesali perbuatannya dan dia sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi," tutur Tante Mira dengan wajah sendu menatap Nyonya Rahma.
"Seandainya hal ini terjadi kepada Naila, apakah kamu bisa memaafkan lelaki itu, Mira?" tanya Nyonya Rahma dengan tatapan tajam menatap Tante Mira.
__ADS_1
Tante Mira kembali menghembuskan napas panjang. "Sama halnya Arumi, Naila pun pernah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari Suaminya, Rahma. Namun, Naila dengan lapang dada bersedia memaafkan dan memberikan kesempatan kepada Suaminya untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalunya. Aku sebagai Tante sekaligus orang tua Naila, mendukung penuh keputusan Naila saat itu."
Nyonya Rahma terdiam sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh Mira, sahabatnya. "Kamu benar, Mira. Tetapi aku masih sakit hati dan kecewa dengan perlakuan Adnan terhadap Arumi dan rasanya aku tidak bisa memaafkan semua kesalahannya," kesal Nyonya Rahma.
Tante Mira hanya bisa pasrah dan menunggu keajaiban datang kemudian membukakan pintu hati sahabatnya itu agar bisa memaafkan semua kesalahan Adnan.
Beberapa jam kemudian,
Tante Mira masih setia menemani Nyonya Rahma walaupun Sahabatnya itu enggan berbicara dengannya. Sedangkan Adnan, lelaki itu masih memantau dari kejauhan.
Ceklek ... (Pintu ruangan terbuka)
Dokter Fahri keluar dari ruangan itu dengan wajah semringah. Ia menghampiri Nyonya Rahma yang sejak tadi sudah tidak sabar ingin mengetahui bagaimana keadaan anak semata wayangnya.
"Bagaimana, Dok?!" tanya Nyonya Rahma dengan mata berkaca-kaca menatap Dokter Fahri.
"Operasinya berjalan lancar, Bu Rahma," sahut Dokter itu sambil tersenyum puas.
Nyonya Rahma begitu bahagia mendengarnya, ia segera memeluk tubuh sahabatnya sambil terisak. Ia bahkan lupa akan rasa kesalnya terhadap Tante Mira.
"Anakku akan sehat lagi, Mira!" ucap Nyonya Rahma disela isak tangisnya.
"Syukurlah, aku turut bahagia mendengarnya, Rahma," sahut Tante Mira sembari mengelus punggung sahabatnya itu.
Bukan hanya Nyonya Rahma yang bahagia mendapatkan kabar baik ini, Adnan pun tidak kalah bahagianya. Ia bahkan sampai menitikkan air matanya karena terharu.
"Terima kasih, Tuhan!" seru Adnan
...***...
Tungguin ya, besok kita lanjut lagi cerita Adnan dan Arumi 😍😍😍
Sekalian mampir yukk di cerita baru Author, tapi ini cerita gak ada bawang-bawangnya, pokoknya area dewasa dan karakternya sesuai judul 😄😄
Terima kasih buat yang udah bersedia mampir ...
__ADS_1