Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 32


__ADS_3

"Bukan, Mas. Bukan begitu! Sebenarnya--"


"Aduh, bagaimana menceritakannya? Aku benar-benar malu," batin Nazia sembari menatap wajah Naila dan Danish secara bergantian.


"Sebenarnya apa, Nazia? Jangan buat aku cemas," sahut Danish.


Bukan hanya Danish yang sedang menunggu jawaban Nazia, bahkan Naila pun terlihat tidak sabaran menunggu jawaban menantunya itu.


"Sebenarnya Nazia pengen minum es kelapa muda, Mas." lirihnya dengan kepala tertunduk menghadap lantai.


"Es kelapa muda?" pekik Danish.


Sontak saja, Ibu dan anak itu menoleh kearah jam dinding dan memperhatikan jarum jam saat itu.


"Ini masih terlalu pagi, sayang. Lagipula tidak akan ada yang menjual es kelapa muda pagi-pagi buta begini. Para penjualnya masih terlelap tidur," ucap Danish seraya meraih tubuh Nazia kedalam pelukannya.


"Itu sebabnya Nazia kesal, Mas. Kenapa bisa Nazia pengennya pagi-pagi begini?!" sahutnya dengan mata berkaca-kaca.


Naila hanya terdiam sambil memperhatikan gelagat aneh Nazia. Ia jadi teringat ketika ia menginginkan rujak buah, saat ia tengah mengandung baby Danish dan Danisha. Ia pun menangis histeris hanya karena tidak mampu membeli rujak tersebut.


"Sini deh, Nak. Ikut Mami."


Naila meraih tangan Nazia dari pelukan Danish kemudian menuntun menantunya itu ke tepian tempat tidur. Mereka duduk disana, begitupula Danish yang masih shok dengan perilaku aneh istrinya malam ini.


"Nak, kamu udah dapet tamu bulanan belum?" tanya Naila sambil menatap wajah Nazia lekat.


Nazia mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir ia mendapat tamu bulanan.


"Sebenarnya sudah telat satu hari sih, Mih. Seharusnya kemarin Nazia udah dapet," jawabnya.


Naila tersenyum lebar sembari memukul pundak Danish. Sedangkan Danish kebingungan melihat reaksi Mami-nya, karena ia masih belum mengerti apa yang dibicarakan oleh Nazia dan Mami-nya barusan.


"Mami kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Danish.


"Ya Tuhan, Danish! Kamu masih belum mengerti?!" pekik Naila

__ADS_1


"Apa sih, Mih?!" tanya Danish, makin penasaran.


Bukan hanya Danish, Nazia pun masih tidak mengerti apa maksud Ibu mertuanya itu.


Naila menepuk jidatnya, "Danish, sepertinya Nazia itu sedang mengandung! Kenapa kamu masih belum mengerti juga? Dia lagi ngidam, ya 'kan, Nazia?"


Pasangan itu terperanjat mendengar penuturan sang Mami. Dengan tergesa-gesa Danish menghampiri Nazia dan berjongkok tepat dihadapan istrinya itu.


"Beneran, Mih? Ada bayiku disini?" pekiknya dengan wajah semringah sambil mengelus perut Nazia.


"Sepertinya sih, iya. Besok pagi kita panggil Dokter untuk memeriksanya," ucap Naila.


"Kenapa tidak sekarang saja, Mih. Danish penasaran!" sahut Danish dengan sangat antusias.


"Danish, tinggal menunggu beberapa jam lagi, kok. Lagian kamu gak kasihan apa sama Dokternya, masa pagi-pagi buta disuruh memeriksa kehamilan Nazia, 'kan tidak lucu,"


"Iya, ya. Baiklah, kita tunggu sampai pagi dan sepertinya Danish sudah tidak sabar lagi menunggu saat itu tiba," sahutnya sambil menatap wajah cemas Nazia.


Nazia cemas, ia takut apa yang dikatakan oleh Ibu mertuanya ternyata salah. Sedangkan Danish begitu mengharapkan bahwa dirinya sedang hamil.


Tepat disaat itu, Keanu tiba di depan kamar Danish. Lelaki itu benar-benar menyusul sang istri yang tak kunjung kembali ke kamar mereka.


"Hubby, kita bakal punya cucu!" pekik Naila sambil bergelayut manja di lengan suaminya itu.


"Apa? Cucu?!" Keanu tidak kalah kaget. Ia membulatkan matanya menatap Danish dan Nazia.


"Benarkah itu?" tanyanya penasaran.


"Ya, Hubby! Kita bakal jadi Grandma dan Grandpa," sahut Naila sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Wah, akhirnya! Selamat ya, Danish, Nazia. Dan kita harus merayakan ini, kita akan kedatangan personil baru di keluarga besar kita," seru Keanu.


Di tengah-tengah kebahagiaan mereka, Nazia malah terdiam. Ia benar-benar cemas dan berharap apa yang dikatakan oleh Naila adalah benar, agar semua orang tidak kecewa nantinya.


Setelah Naila dan Keanu kembali ke kamar mereka, Nazia dan Danish masih bersandar di sandaran tempat tidur mereka sambil berpelukan. Tangan Danish bahkan tidak hentinya mengusap perut Nazia yang masih rata.

__ADS_1


"Semoga itu benar ya, Sayang. Aku sudah tidak sabar lagi mengubah statusku menjadi seorang Ayah," ucap Danish sambil tersenyum hangat.


"Tapi, bagaimana jika itu tidak benar, Mas. Bagaimana jika ternyata aku tidak hamil dan cuma telat beberapa hari saja," sahut Nazia cemas.


"Tidak masalah, kita masih bisa mencobanya lagi. Kita coba terus sampai berhasil," jawab Danish sembari melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala Nazia.


Pagi pun menjelang.


Keluarga kecil Keanu sudah berkumpul di ruang utama sambil menunggu kedatangan Dokter kandungan yang akan memeriksa Nazia. Gosip kehamilan Nazia begitu cepat tersebar, apalagi ketika Keyla yang mendengar gosip itu. Ia tidak hentinya bercerita pada siapapun yang ada di kediamannya itu, termasuk para pelayan dan para penjaga keamanan.


Tidak berselang lama, Dokter pun tiba. Kedatangan Dokter kandungan tersebut segera disambut langsung oleh Naila dan segera menuntunnya menuju kamar Nazia.


"Mari, Dok. Dia sedang menunggu di dalam. Sepertinya dia masih belum yakin, tetapi saya benar-benar yakin bahwa Nazia sedang hamil, Dok."


"Ya, semoga saja ya, Nyonya Naila."


Dan setelah mengantarkan Dokter tersebut ke kamar Nazia, Naila pun kembali ke ruang utama untuk menunggu hasil pemeriksaannya.


Hampir tiga puluh menit mereka menunggu di ruangan itu dengan wajah cemas. Sedangkan Dokter masih berbincang bersama Danish dan Nazia di kamar mereka.


"Ya Tuhan, Hubby! Coba sentuh tanganku, dingin sekali, 'kan?" ucap Naila sembari meletakkan tangannya ke genggaman Keanu.


"Ya, Mih. Keyla pun sama, rupanya seperti inilah rasanya menunggu kepastian menjadi seorang Tante," sambung Keyla.


Tepat disaat itu, ketiga orang yang sudah mereka tunggu sejak tadi, akhirnya tiba. Wajah ketiganya terlihat berseri-seri memandangi keluarga kecil Keanu yang sedang berkumpul.


"Bagaimana hasilnya?" sambar Naila yang sudah tidak sabar lagi mendengarkan hasil pemeriksaan mereka.


"Selamat, Tuan, Nyonya, kalian akan segera menjadi Oma dan Opa," ucap Dokter sambil tersenyum hangat.


"Aakhh!!!" jerit Keyla sambil memeluk tubuh Danisha yang duduk disampingnya.


"Aduh, Key! Suaramu," pekik Danisha sambil mengucek telinganya yang sakit.


"Aku sedang bahagia, Kak! Akhirnya kita akan menjadi Tante-tante kece!" serunya, masih memeluk tubuh Danisha.

__ADS_1


"Kasihan nasib ponakanku, harus punya Tante seperti dirimu," ucap Danisha.


...***...


__ADS_2