
Setelah selesai dengan permainan panas sesi kedua dikamar mandi, Danish kembali membopong tubuh Nazia ke tempat tidur mereka. Kali ini Nazia tidak lagi malu-malu, ia bahkan tidak sungkan melabuhkan ciuman hangat untuk suaminya itu.
Perlahan Danish meletakkan istrinya itu keatas tempat tidur dan iapun segera merebahkan tubuhnya tepat disamping Nazia.
"Sayang," panggil Danish sambil mengelus lembut pipi Nazia.
"Ya."
"Bolehkah aku bertanya sesuatu tentang dirimu, tetapi ini mungkin akan menyinggung perasaanmu," ucap Danish.
Nazia nampak berpikir sambil memperhatikan wajah tampan yang kini tersenyum kepadanya. "Tanyakanlah, Mas. Apapun itu," jawabnya.
"Kalau boleh tau, siapa sih lelaki jahat yang sudah tega meninggalkan dirimu di hari pernikahan kalian?" tanya Danish.
Wajah Nazia terlihat sendu tetapi ia tetap berusaha tersenyum kepada suaminya. "Namanya Aditya, Mas. Dia bekerja di perusahaan yang sama seperti Mas Danish," ungkap Nazia.
"Aditya?!"
Danish menautkan kedua alisnya. Entah mengapa tiba-tiba saja ia teringat sosok Aditya, asisten pribadinya. Namun, ia ragu jika Aditya itu yang dimaksud oleh Nazia. Pasalnya, pernikahan yang berlangsung di kediaman Nazia begitu sederhana, begitupula cincin yang dikenakan oleh Nazia sebelumnya, hanya cincin mas biasa dan beratnya pun hanya 5 gram.
"Ya, Mas. Tapi, Nazia tidak tahu apa jabatannya di perusahaan itu. Kata orang-orang sih, ia memiliki jabatan tertinggi kedua setelah pemilik perusahaan itu," tutur Nazia.
Nazia bahkan belum sadar bahwa Danish lah pemilik perusahaan besar tersebut. Ia hanya mengira bahwa Danish adalah pegawai biasa yang bekerja di bagian kantor dan berada dibawah jabatan Aditya.
Danish terkejut bukan main setelah mendengar penuturan istrinya itu. "Maksudmu Aditya anaknya Pak Dodi dan Bu Radia?!"
"Ya. Mas, mengenal mereka?!" tanya Nazia balik.
__ADS_1
"Ya, Tuhan!"
Danish bangkit dari posisinya, ia duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Danish nampak berpikir keras, ia benar-benar tidak menyangka bahwa Aditya adalah calon suami Nazia.
"Mas, kenapa? Nazia menyinggung perasaan Mas, ya?" tanya Nazia dengan wajah cemas turut bangkit dan duduk disamping suaminya itu.
Danish tersenyum, ia meraih Nazia kedalam pelukannya sambil mencium puncak kepala gadis itu berkali-kali.
"Tidak, Sayang. Aku hanya terkejut saja setelah mengetahui bahwa Aditya adalah lelaki jahat yang sudah meninggalkan dirimu."
Nazia menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan lelaki itu. Entah mengapa ia merasa nyaman ketika berada didalam pelukannya. Apalagi ketika ia bisa mendengar suara detak jantung Danish dengan sangat jelas.
"Beruntung kamu tidak jadi menikah dengannya, Nazia. Aditya tidak akan pernah menjadi suami yang baik untukmu karena di hatinya hanya ada Helen," batin Danish sambil mengusap lembut puncak kepala Nazia.
Keesokan harinya.
Lelaki itu melabuhkan ciuman hangatnya keatas puncak kepala Nazia. Tidak sengaja Keyla melihat aksi romantis Kakaknya. Ia menggoda pasangan itu hingga membuat Nazia benar-benar merasa malu.
"Cieee ... yang lagi bucin!" goda Keyla sambil terkekeh.
"Ye! Apaan, sih! Makanya cepat-cepat cari pasangan dan ajak nikah, biar bisa mesra-mesraan seperti ini!" ucap Danish sambil memeluk tubuh Nazia dengan erat.
"Ih, Kakak manas-manasin aku!" jawab Keyla sambil menekuk wajahnya.
"Ya, sudah! Kakak berangkat dulu. Ajak main Nazia, ya. Jangan cuekin dia, awas lo!" ancam Danish sambil setengah berbisik kepada Adiknya itu.
"Siap, Kakak!" sahutnya.
__ADS_1
Danish segera berangkat menuju kantornya. Ia tersenyum ketika melewati perempatan jalan dan melihat toko bunga dimana Nazia dulu bekerja. Ia ingat saat-saat istrinya itu menawarkan bunga-bunga jualannya kepada orang-orang yang lewat didepan toko itu.
"Lihatlah, Pak Ahmad. Kalau jodoh memang tidak akan kemana. Seperti Nazia, setiap hari aku menatapnya dari balik mobil ini dan kini ia sudah berada di rumah kami dan menjadi Nyonya Danish Armani Putra," ucapnya bangga kepada Pak Ahmad yang masih setia menjadi sopir pribadinya.
"Ya, Tuan Danish, Anda benar. Selamat untuk Anda."
Tidak berselang lama, Danish pun tiba di kantornya. Ternyata pagi itu Aditya sudah tiba lebih dulu dari dirinya. Lelaki itu menghampirinya sambil tersenyum hangat.
"Pagi, Tuan Danish. Sepertinya hari ini Anda terlihat begitu bahagia, ada apa gerangan?" goda Aditya yang kini berjalan di belakang Danish.
"Aku akan segera menikah, Dit."
Danish meraih kursinya dan duduk disana. Ia tersenyum menatap Aditya yang sangat terkejut setelah mendengar jawabannya.
"Me-menikah? Dengan siapa, Tuan?" tanya Aditya penasaran karena selama ini ia tidak pernah melihat Danish dekat dengan siapapun.
"Dengan seorang wanita tentunya!" jawab Danish sambil mengangkat sebelah alisnya.
Aditya terkekeh mendengar jawaban lelaki itu. "Tentu saja, Tuan. Tidak mungkin Anda menikah dengan seorang laki-laki. Bisa-bisa Anda dibilang G*y," jawabnya.
"Nah, itu kamu tahu!"
Danish segera memulai pekerjaannya, begitupula Aditya. Namun, beribu pertanyaan muncul di kepala Aditya. Ia begitu penasaran dengan sosok wanita yang akan menjadi istri Big Bossnya itu.
"Siapa wanita beruntung itu? Aku yakin, dia pasti wanita yang cantik, berpendidikan tinggi dan juga dari kalangan atas, sama seperti Tuan Danish," batinnya.
...***...
__ADS_1