
Tidak berselang lama, Adnan pun turun dari kamarnya dan melangkah menuju ruang makan. Langkah Adnan sempat terhenti ketika Arumi berjalan menghampirinya sambil tersenyum manis.
Semanis apapun senyuman yang Arumi lemparkan, tetap tidak mampu mengikis kekesalannya terhadap wanita itu.
Arumi memperlihatkan Adnan yang terlihat tampan dengan kemeja yang sudah ia persiapkan diatas tempat tidur. Arumi bahagia, ternyata Adnan bersedia mengenakan pakaian yang sudah ia persiapkan.
"Mari, Mas! Kita sarapan," ajak Arumi.
Arumi memeluk lengan Adnan dan mengajak suaminya itu ke meja makan. Arumi menarik sebuah kursi dan mempersilakan Adnan untuk duduk disana. Ia juga mengisi piring kosong dengan masakan yang baru saja ia masak kemudian menyerahkannya kepada suaminya itu.
"Semoga Mas Adnan menyukainya. Ini semua Arumi yang masak lo, Mas," tutur Arumi sembari meletakkan piring itu ke hadapan Adnan.
Adnan mengernyitkan keningnya sambil menatap makanan yang disajikan oleh Istrinya itu. Ia tersenyum kecut sembari meraih garpu dan sendok. Adnan mencoba mencicipi masakan Arumi. Wajahnya mendadak aneh dan hal itu membuat Arumi benar-benar takut.
"Makanannya tidak enak ya, Mas?" tanya Arumi penasaran karena ekspresi Adnan yang sangat aneh.
Bukan hanya Arumi, Pelayan pun merasa aneh ketika melihat ekspresi majikannya tersebut. Padahal menurut Pelayan itu rasa masakan yang dibuat oleh Arumi lumayan enak.
"Bi, apa ada makanan lain selain ini?" ucap Adnan tanpa menoleh sedikitpun kepada Arumi. Apalagi menjawab pertanyaan darinya.
"Ehm ... tidak ada lagi, Tuan."
"Kalau begitu aku sarapannya ditempat kerja saja."
Adnan bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah keluar. Arumi pun ikut bangkit dan mengikuti Adnan dari belakang. "Mas, aku akan buatkan yang lain. Kamu maunya apa? Sebutkan saja," ucap Arumi sambil berlari kecil mengikuti langkah kaki Adnan.
"Aku sudah terlambat," sahut Adnan. Lelaki itu segera masuk kedalam mobilnya dan melaju meninggalkan rumah itu.
Arumi terdiam sambil menatap mobil Adnan yang melaju kemudian menghilang dari pandangannya. "Apakah kesalahanku terlalu besar, hingga Mas Adnan tidak bisa memaafkan kesalahanku?" gumam Arumi dengan airmata yang menyeruak.
Sementara itu, di Kediaman Keanu dan Naila.
__ADS_1
"Tapi, Beb. Aku malu," ucap Keanu dengan wajah bingung.
"Sudah, ayo lepaskan! Aku mau kamu pake yang warna Pink, Hubby!" sahut Naila sembari melepaskan kemeja putih yang sedang dikenakan oleh Keanu dan menggantinya dengan kemeja berwarna Pink yang baru saja Naila beli lewat aplikasi belanja online.
Setelah berhasil mengganti kemeja Keanu, Naila menuntun suaminya itu kedepan cermin hias sambil tersenyum manis.
"Nah, Hubby! Kamu terlihat kiuutttt ..." seru Naila sambil memeluk lengan Keanu.
Keanu membulatkan matanya dengan sempurna. "Ya ampun, Beb! Kamu tidak salah kan, meminta aku mengenakan kemeja ini?"
Naila menggelengkan kepala pelan sambil memasang senyuman semanis mungkin kepada Keanu. "Tidak, Hubby. Naila tidak salah," sahut Naila.
Keanu mendengus kesal kemudian menatap wajah istrinya yang terus tersenyum kepadanya tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Sekarang kamu sudah puas, Beb?" tanya Keanu.
"Yup! Ehm, sebenarnya belum, Hubby. Naila ingin mengubah warna kamar kita jadi warna Pink, kamar mandi juga, dapur, ruang tengah, ruang bersantai dan semuanya jadi warna P ... ehm ..."
Keanu menghentikan bibir mungil itu dengan ciuman mendadaknya. Ia tidak ingin mendengar permintaan aneh Naila yang lainnya. "Sudah cukup, Baby! Sebaiknya kita ke ruang makan dan sarapan. Aku sudah lapar," bujuk Keanu sambil menuntun istri mungilnya menuju ruang makan.
Padahal dari lubuk hatinya yang paling dalam, Keanu menolaknya. Namun, demi istri kesayangannya, ia rela mengenakan kemeja itu.
. . .
Setelah selesai sarapan, Naila mengantarkan Keanu hingga ke halaman depan. Wanita itu masih bergelayut manja di lengan Keanu sambil tersenyum manis, sedangkan Keanu masih menekuk wajahnya. Ia benar-benar merasa risih jika harus mengenakan kemeja berwarna Pink itu ke kantor.
"Beb, bisakah aku mengganti pakaian ku?" bujuk Keanu sambil memasang senyuman semanis mungkin agar istri mungilnya itu tidak marah setelah mendengar permintaannya.
Naila menekuk wajahnya sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan, Hubby! Naila tidak mau,"
Keanu meraba kening Naila dan suhu tubuh istrinya itu masih normal. "Kamu masih sehat, Beb. Tapi sepertinya otakmu sedang ada masalah pagi ini," gumam Keanu.
"Hah? Hubby ngomong apa?" tanya Naila yang tidak mendengar ucapan Keanu dengan jelas.
__ADS_1
"Tidak, Baby. Tidak apa-apa. Hanya saja, kamu terlihat sangat cantik pagi ini," sahut Keanu sembari melabuhkan ciuman hangat di kening Naila sama seperti biasanya.
"Ingat pesan Naila ya, Hubby! Jangan pernah lepaskan kemeja itu sampai Hubby kembali lagi kerumah ini. Kalau dilepas, Naila pasti tau lo, Hubby!"
"Iya, iya! Bye, Baby!" Keanu segera masuk kedalam mobil dan melambaikan tangannya kepada Naila. Dan wanita mungil itupun tersenyum manis sembari membalas lambaian tangan suaminya.
Sid terkekeh melihat Keanu yang mengenakan kemeja berwarna Pink. "Kenapa Sid, apa aku terlihat cute seperti Hello kitty?" tanya Keanu dengan wajah masam menatap pundak Sid yang bergerak turun naik.
"Maafkan saya, Tuan." sahut Sid seraya menghentikan tawanya.
"Sudah, jangan banyak omong! Cepat jalan dan ingat ya, Sid. Jika kita sudah tiba di kantor, tolong lindungi aku. Aku tidak ingin menjadi bahan tertawaan seluruh karyawan ku. Benar-benar tidak lucu?!" kesal Keanu.
Setelah beberapa saat, mobil yang dikemudikan oleh Sid pun tiba di kantor Keanu. Seperti perintah Keanu, Sid melindungi Keanu yang melangkah menuju ruangannya agar tidak menjadi perhatian seluruh karyawannya.
Mata Sid melotot menatap seluruh Karyawan yang mencoba tersenyum ketika melihat penampilan Keanu yang sangat berbeda pagi ini.
Keanu bisa bernapas lega, akhirnya ia tiba di ruangannya dengan selamat. Itu menurutnya, padahal para karyawannya sedang bergosip ria membicarakan penampilan anehnya pagi ini.
Baru saja Keanu menjatuhkan tubuhnya diatas kursi kerajaannya, tiba-tiba ponsel Keanu berdering. Ia segera menerima panggilan itu setelah tahu siapa yang memanggilnya.
"Ya, Arumi. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Keanu sembari menautkan kedua alisnya.
"Tuan Keanu, ada hal penting yang ingin saya bicarakan sama Anda. Bolehkah saya meminta waktu anda sebentar, Tuan Keanu?" tanya Arumi dari seberang telepon.
Keanu nampak berpikir sambil menatap Sid yang masih setia menemaninya diruangan itu. "Baiklah, kamu bisa temui aku di kantor ku, Arumi."
Setelah Arumi memutus panggilannya, Keanu meletakkan ponsel itu ke atas meja kerjanya. "Sid, Arumi ingin menemuiku. Kira-kira apa yang ingin dibicarakannya kepadaku?"
Sid menggelengkan kepalanya. "Entahlah, Tuan."
...***...
__ADS_1