
"Tolong! Tolong! Aku mohon tolong kami!" teriak Adriela di tengah jalan sambil melambaikan tangannya kepada mobil di depan.
"Bukankah itu Adriela?" ucap Ardhan kepada Ayahnya, Adnan yang saat itu juga turut mencari keberadaan Adriela.
"Ah, syukurlah! Akhirnya kita menemukannya disini," sahut Adnan.
Ardhan bergegas menghentikan laju mobilnya dan Adriela pun bergegas menghampiri mobil tersebut. Adriela sangat terkejut setelah mengetahui bahwa mobil yang berhenti tepat di hadapannya adalah mobil Ardhan dan ada Ayahnya juga di dalam mobil tersebut.
"Oh, syukurlah! Pah, Kak, keluarlah! Tolong Kak Aditya, dia baru saja ditusuk oleh seseorang," ucap Adriela panik sembari menarik lengan sang Ayah agar segera keluar dari mobil.
"Apa? Bagaimana bisa!" pekik Ardhan.
Ardhan dan Ayahnya segera menghampiri Aditya yang sudah tergolek lemah. Lelaki itu bahkan hampir tidak sadarkan diri karena darah segar terus mengalir deras dari luka tusuknya.
"Bagaimana, Dhan?" tanya Adnan ketika Ardhan sedang mengecek kondisi Aditya saat itu.
"Sebaiknya kita cepat bawa dia ke Rumah Sakit, Pah. Lukanya terlalu banyak mengeluarkan darah," jawab Ardhan.
Tanpa pikir panjang, Ardhan dan Adnan mengangkat tubuh Aditya dan memasukkan tubuhnya yang sudah tidak berdaya kedalam mobil mereka. Adriela pun menyusul masuk dan ia duduk di jok belakang bersama Aditya. Sedangkan Ardhan dan Ayahnya duduk di jok depan.
"Cepat, Kak! Jangan sampai Kak Aditya kenapa-napa!" ucap Adriela panik.
Ardhan pun segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
__ADS_1
Adriela menatap sedih wajah Aditya yang kini terlihat memucat. Bahkan dress yang ia kenakan pun sudah penuh dengan noda darah Aditya.
"Kak Adit, bertahanlah ...."
Adriela mengelus wajah tampan yang kini terbaring di pangkuannya. Air mata Adriela tak henti keluar, apalagi di saat ia teringat bahwa Aditya terluka karena menyelamatkan dirinya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Driel? Ponselmu mana? Sejak tadi Papa dan Mama terus menghubungi ponselmu tetapi tidak aktif," tanya Ardhan sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Saat itu jalanan sudah sepi, hanya ada beberapa mobil dan sepeda motor yang masih terlihat melintas di jalanan tersebut. Itulah sebabnya, Ardhan bisa mengemudikan mobilnya lebih cepat dari biasanya.
"Bukankah aku sudah bilang bahwa ponselku sudah off sejak berada di acara reuni? Aku lupa mengechargenya, Kak. Makanya aku bingung ketika Kakak pergi begitu saja meninggalkanku di tengah pesta," lirih Adriela.
Adnan menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir kenapa Ardhan begitu tega meninggalkan Adiknya sendirian.
"Ya! Tentu saja Kakak tidak mendengar apa yang aku katakan karena kerjaan Kakak saat itu hanya memperhatikan Kak Aditya dan Keyla, bukan? Jangankan aku, Naura saja Kakak cueki," kesal Adriela.
Ardhan mengusap tengkuknya. Entah mengapa hari ini dia merasa bahwa dirinya benar-benar bodoh, hanya gara-gara tidak suka melihat kemesraan Aditya dan Keyla di hadapan matanya.
"Maafkan aku," lirih Ardhan.
"Kamu masih belum menceritakan bagaimana lelaki ini bisa terluka, Driel!" sela Adnan dengan wajah panik menatap Aditya.
"Sebenarnya Kak Aditya berniat mengantarkan Adriela pulang. Di saat kami melewati jalan tadi, tiba-tiba ban mobil Kak Adit meletus. Mungkin kejadian ini sudah direncanakan oleh para penjahat itu. Mereka mengincar uang serta harta berharga milik Kak Adit dan mengancamnya dengan senjata tajam. Salah satu dari penjahat itu mencoba memperkosa Adriela, Pah, disitulah Kak Adit meradang dan memukul lelaki yang mencoba memperkosa Adriela. Namun, tak disangka teman penjahat itu menusukkan pisaunya ke punggung Kak Aditya," tutur Adriela sambil terisak.
__ADS_1
"Ya, Tuhan! Ini semua salahku," gumam Ardhan sambil mengusap wajahnya dengan kasar setelah mendengar penuturan Adriela.
Begitupula Adnan, ia pun shok setelah mengetahui bahwa Aditya terluka karena berusaha menolong anak perempuannya. Itu sama artinya, apa yang terjadi pada Aditya adalah tanggung jawabnya.
"Lebih cepat lagi, Dhan! Aku tidak ingin lelaki ini kenapa-napa. Dia rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Adriela," ucap Adnan.
"Baik, Pah. Akan Ardhan usahakan,"
Tidak berselang lama, akhirnya mobil yang dikemudian oleh Ardhan pun tiba di halaman Rumah Sakit XX. Setelah memarkirkan mobilnya, Ardhan meminta bantuan para tim medis untuk segera memberikan pertolongan kepada Aditya.
"Apa kamu tahu nomor ponsel keluarga Aditya, Driel?" tanya Adnan.
Adriela menggelengkan kepalanya pelan.
"Coba kamu lihat kartu identitasnya, Dhan. Setelah itu segera hubungi keluarganya," titah Adnan.
Ardhan pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah mendapatkan alamat rumah Aditya, Ardhan pun segera melaju ke alamat tersebut. Sedangkan Adriela dan sang Ayah memilih menginap di Rumah Sakit.
Tidak berselang lama, Pak Dodi dan Bu Radia tiba di Rumah Sakit. Dengan wajah cemas, mereka berjalan menyusuri lorong demi lorong di Rumah Sakit tersebut bersama Ardhan sebagai penunjuk jalan.
"Semoga Aditya baik-baik saja ya, Yah. Pantas saja sejak Aditya pamit pada Ibu, Ibu merasa sangat berat untuk berkata 'Ya'," tutur Bu Radia dengan mata berkaca-kaca.
...***...
__ADS_1