Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 39


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


"Driela, mana Keyla? Tumben udah tiga hari ,gak nongol-nongol?" tanya Ardhan kepada Adriela, adiknya, ketika mereka sedang makan malam bersama.


"Entahlah, sudah berkali-kali aku mencoba menghubunginya, tetapi Keyla tidak merespons. Pesan chat pun dibalas seadanya," jawab Adriela sambil menautkan kedua alisnya.


Jawaban Adriela sontak membuat keluarga kecil itu bertanya-tanya. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran gadis periang itu dan sekarang, tiga hari tanpa kehadirannya, aura rumah itu terasa berbeda.


"Loh, jangan-jangan dia lagi marah? Tapi sama siapa? Jangan-jangan sama kamu, Ardhan," sambung Arumi yang juga tak kalah bingung dari kedua anaknya.


Ardhan terkekeh pelan. "Marah sama Ardhan? Yang benar saja, memangnya Ardhan salah apa?" jawabnya.


"Ya, bisa saja 'kan? Atau sama Adriela juga, siapa tau saat kalian bercanda, kamu tidak sengaja menyinggung perasaannya," tutur Arumi.


Adriela mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa waktu lalu, terakhir kalinya ia bertemu dengan Keyla.


"Sepertinya tidak juga, Mah. Terakhir kali kami bertemu, hubungan kami masih baik-baik saja," jawab Adriela.


Arumi semakin bingung dibuatnya. Baginya dan Adnan, anak-anak Naila dan Keanu sudah seperti anaknya sendiri. Baik itu si kembar Danish dan Danisha maupun Keyla.


"Sebenarnya ada apa, ya. Mama jadi bingung," gumam Arumi.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan," ucap Adnan sambil mengelus pundak Arumi.


"Oh ya, Driela. Kamu sudah tau belum, teman-teman SMA kita mengadakan acara reuni minggu ini. Apa kamu mau ikutan?" tanya Ardhan kepada Adriela.


"Sebenarnya sih pengen, tapi sama siapa? Bagaimana jika Keyla gak mau ikut, aku sendirian, donk? Ah, males banget!" jawabnya sambil memasang wajah malas.


Ardhan menghembuskan napas panjang kemudian menyandarkan punggunya ke sandaran kursi. "Sebenarnya Kakak juga malas, Driel. Tapi Naura terus memaksa Kakak untuk ikut bersamanya ke acara reunian itu," jawabnya.


Adriela memutarkan bola matanya dan kembali memasang wajah malas.

__ADS_1


Sementara itu di kediaman Tuan Keanu.


Sudah tiga hari Keyla diam dirumah dan lebih banyak menghabiskan waktu didalam kamar sambil terus memikirkan nasibnya. Ia belum siap bertemu Ardhan, ia masih kesal dan takut tidak bisa menahan emosinya ketika mereka bertemu nanti.


Disaat Keyla masih larut dalam pikirannya, tiba-tiba ponsel yang ia letakkan diatas nakas, berdering. Dengan malas, Keyla meraih ponsel tersebut kemudian memperhatikan nama siapa yang tertera si layar ponselnya. Setelah tahu bahwa yang menghubunginya adalah Adriela, ia pun segera menerima panggilan itu.


"Ya, Driela?"


"Key, kamu kenapa, sih? Sudah beberapa hari ini enggak jengukin aku? Aku punya salah apa, sih? Bilangin dong, Key. Aku 'kan jadinya gak enak," lirih Adriela dari seberang telepon.


"Gak kenapa-kenapa. Aku cuma lagi kurang fit aja,"


"Loh, kamu kenapa? Sakit apa? Sudah berobat ke Dokter?" tanya Adriela bertubi-tubi.


Keyla tersenyum tipis. Sebenarnya ia kangen sama gadis bawel yang satu ini, tapi hatinya masih kesal sama si 'Es Batu' dan ia tidak ingin bertemu dengan lelaki itu untuk saat ini.


"Sudah kok, Driel. kamu tidak perlu khawatir."


"Serius?"


"Ehm, Key. Minggu depan teman-teman SMA kita mengadakan acara reuni, kamu mau ikutan, gak?"


"Reuni?"


Keyla menautkan kedua alisnya. Ia sama sekali tidak tahu tentang rencana reuni yang akan diadakan oleh teman-temannya.


"Ya ampun, Key! Serius, kamu belum tau? Kemana aja kamu, orang di grub lagi pada heboh bahas masalah ini,"


Keyla tersenyum kecut. Sudah beberapa hari semenjak kejadian itu, ia benar-benar malas melakukan apa-apa. Jangankan memantau grub aplikasi hijau, bahkan ponselnya saja jarang tersentuh dan dibiarkan begitu saja tergeletak diatas nakas.


"Gimana, Key? Mau ikutan? Mau, ya! Mau, ya, plisss!" sambung Adriela sambil memohon-mohon.

__ADS_1


"Ya, nanti aku pikirkan lagi."


"Ceileeehhh, jangan kelamaan mikir, Key. Nanti keburu acara reuninya dimulai,"


"Ya, ya. Nanti aku kabari sebelum hari H-nya dimulai," jawab Keyla.


"Baiklah kalau begitu, udah dulu ya, Key. Aku mau bantu Mama beres-beres dapur. Kalo gak di bantuin, ngomelnya pasti panjang kayak rel kereta api," ucap Adriela yang kemudian memutus panggilannya.


Keyla menghembuskan napas berat kemudian mengembalikan benda pipih itu keatas nakas. Ia bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah menghampiri meja rias dan bercermin. Keyla terdiam sambil memperhatikan bayangannya di dalam cermin. Nampak gurat kesedihan terpancar dari wajahnya. Beruntung, Keyla memiliki pribadi yang kuat. Ia pantang mengeluarkan air mata walaupun hatinya terasa sakit.


"Aku yakin sekali Ardhan dan Naura pasti ikut ke acara reuni. Dan aku yakin sekali, aku akan sakit melihat kebersamaan mereka. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Menolak datang atau mencoba sesuatu hal yang baru?" gumamnya.


Tiba-tiba Keyla bangkit dari posisi duduknya. Ia bergegas menuju kamar Kakak perempuannya, Danisha, yang letaknya tidak jauh dari kamarnya.


Setibanya di kamar tersebut, Keyla langsung menggedor pintunya tanpa ampun.


"Key!!!"


Terdengar teriakan kesal dari dalam kamar. Danisha yang tengah asik berchatting ria bersama Dokter Rayhan (tunangannya), terkejut mendengar gedoran maut dari Keyla. Ia begitu hapal dengan gedoran gadis itu. Jika yang lain mengetuk pintunya dengan pelan, si gadis bontot ini selalu mengeluarkan jurus menyebalkannya.


Dengan langkah cepat, Danisha berjalan menghampiri pintu dan membukanya.


"Apa sih, Key?" tanya Danisha sambil memasang wajah malas menatap Adiknya itu.


"Keyla masuk dulu!"


Bukannya menjawab pertanyaan dari Kakaknya, Keyla malah menyerobot masuk kedalam kamar Danisha. Gadis itu bergegas menuju tempat tidur kemudian menjatuhkan dirinya disana sambil tersenyum hangat.


"Ada apa sih, Key?"


Danisha ikut menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur sambil menatap wajah kusut Keyla saat itu.

__ADS_1


"Kak Nisha, bantuin Keyla, pliss!" lirih Keyla.


......***......


__ADS_2