Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 36


__ADS_3

Sementara Nazia, Danish dan Aditya masih mengobrol di ruang utama, Naila menghampiri Keyla yang baru saja selesai mandi dan sekarang gadis itu sedang mengenakan piyama tidurnya.


"Kamu dari mana saja sih, Key? Bilangnya mau pulang cepat, eh gak tau nya baru sekarang nongolnya," tanya Naila sembari duduk di tepian tempat tidur gadis itu.


"Dari rumah Om Adnan. Key emang pulang cepet kok, Mih. Tapi motor Key tuh yang bikin huru hara, bannya tiba-tiba meleduk. Untung aja Keyla gak kenapa-napa," jawab gadis itu lancar seperti jalan tol tanpa hambatan.


"Sini deh, duduk di samping Mami,"


Naila meraih tangan Keyla dan membawanya duduk bersamanya. Naila tersenyum sembari merapikan rambut Keyla yang berantakan.


"Apa tidak sebaiknya kamu lupakan saja si 'Es Batu' mu itu, Key? Tidakkah kamu lelah, sejak dulu cuma kamu yang mengejar-ngejar dia. Sedangkan lelaki itu, dia tetap cuek bebek seperti biasanya," ujar Naila.


Keyla menghembuskan napas berat sembari tersenyum kecut kepada Naila.


"Memalukan ya, Mih."


Kepala Keyla tertunduk menghadap lantai dan kedua tangannya kini sedang menggulung-gulung ujung piyama tidur yang sedang ia kenakan.


"Biarkan Keyla tetap berjuang, Mih. Hingga nanti Keyla berada di titik jenuh dan tak lagi berkeinginan untuk memperjuangkannya," lirihnya.


"Huft! Baiklah, terserah kamu saja."


Naila sudah putus asa memberitahu gadis itu. Ia sudah sering menyampaikan perihal itu, tetapi masih sama. Gadis itu tetap kekeh pada pendiriannya. Naila bangkit dari posisi duduknya kemudian bersiap pergi meninggalkan Keyla di ruangan itu.


"Mami ke kamar dulu ya, Key. Selamat malam."


"Malam, Mih."

__ADS_1


Sebelum Naila meninggalkan kamarnya, Keyla sempat memeluk dan menciumi wajah Ibunya.


Keesokan harinya.


Setelah Danish dan Danisha berangkat ketempat kerja mereka masing-masing, Naila memperhatikan Putri 'bontot'nya dari kejauhan.


"Hey, Merah! Kamu jangan kayak si Hitam, ya! Tiba-tiba saja bannya meleduk, mana meleduknya di jalanan yang sepi lagi, kurang asyem!" gerutu Keyla sembari mengelus motor barunya yang berwarna merah.


"Mau kemana lagi, Key?" tanya Naila dengan alis yang saling bertaut menatap Keyla yang sedang duduk diatas motor sport barunya.


"Key mau ketemu teman, Mih. Kemarin Key udah janji soalnya," jawab Key sembari menghidupkan mesin motornya.


Naila hanya bisa menggelengkan kepalanya. Key tersenyum kemudian melambaikan tangannya kepada Naila sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangannya sang Ibu.


"Moga kamu temukan kebahagiaanmu, Key," gumam Naila.


"Key! Ya ampun, Key, ternyata kamu tidak berubah, ya! Tetap tomboy seperti dulu," ucap gadis itu seraya menyambut kedatangan Keyla.


Kedua gadis itu nampak begitu bahagia karena setelah sekian tahun akhirnya bertemu lagi.


"Bagaimana kabarmu, Feb? Sekarang udah kerja?" tanya Keyla.


Keyla menarik sebuah kursi kemudian duduk disana. Begitupula Febrina, sahabat semasa SMA keyla, ia duduk tepat berseberangan dengan Keyla. Febrina adalah sahabat Keyla saat di bangku SMA, tetapi sayang ketika lulus SMA Febrina memilih kuliah diluar negeri untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang Designer ternama.


"Ya, begitulah. Sekarang aku sedang merintis karierku sedikit demi sedikit. Doa'in yah, biar aku bisa sukses. Nanti aku traktir kamu cilok di gerbang sekolah kita dulu, satu gerobak," ucapnya sambil tergelak.


Keyla terkekeh pelan. "Sialan, jadi Designer sukses traktrirannya cilok satu gerobak. Gak modal amat," jawab Keyla.

__ADS_1


"Eh, satu gerobak cilok itu harganya berapa loh, lumayan mahal itu!" balas Febrina.


Tiba-tiba saja mata Keyla tertuju pada sebuah mobil mewah berwarna hitam yang begitu ia kenali. Mobil hitam milik si 'Es Batu' yang dingin itu. Gelak tawa Keyla mendadak berhenti dan memperhatikan sosok lelaki tampan yang baru saja keluar dari dalam mobil dengan menenteng sebuah buket bunga mawar yang begitu cantik.


"Key, kamu kenapa?" tanya Febrina.


Keyla tidak menjawab dan terus memperhatikan lelaki itu tanpa berkedip sedikitpun. Febrina yang begitu penasaran dengan apa yang dilihat oleh sahabatnya itu, segera menoleh kearah Ardhan yang baru saja memasuki cafe tersebut dengan wajah semringah.


Lelaki itu terus menyunggingkan sebuah senyuman hangat sambil berjalan menuju salah satu meja. Hingga akhirnya ia berhenti disalah satu meja yang sedang di tempati oleh seorang gadis cantik berlesung pipi dengan dress ketat berwarna biru malam.


Gadis cantik itu tersenyum manis sembari menyambut kedatangan Ardhan. Ia menciumi pipi Ardhan kanan dan kiri kemudian menyambut buket bunga yang dibawakan oleh lelaki itu.


"Bukankah itu Ardhan, cowok gebetan kamu, Key?" ucap Febrina dengan mata membulat.


Keyla menelan salivanya dengan susah payah. Entah mengapa ia begitu sakit ketika harus dihadapkan dengan pemandangan seperti itu di depan matanya. Ardhan yang ia kenal begitu dingin dan kaku, ternyata bisa bersikap begitu hangat kepada gadis itu.


"Ya," lirih Keyla dengan bibir bergetar.


Keyla menggigit bibir bawahnya sambil terus memperhatikan kedua orang itu dari tempat duduknya. Ardhan sama sekali tidak menyadari keberadaan Keyla, ia dan gadis itu terus berbincang hangat dan sesekali tawa renyah keluar dari bibir mereka.


"Dan gadis itu, bukankah dia--" ucapan Febrina disela oleh Keyla.


"Naura Amalia, gadis tercantik ketika di SMA, benarkan?"


"Ya," jawab Febrina sambil mengelus lembut tangan Keyla yang terasa dingin. Febrina tahu apa yang dirasakan oleh Keyla saat itu, karena ia tahu bahwa Keyla begitu tergila-gila pada pribadi Ardhan yang cool bahkan saat mereka masih kecil.


...***...

__ADS_1


__ADS_2