Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 15


__ADS_3

Danish memperhatikan Naila yang sedang duduk bersantai di ruang utama dengan ditemani secangkir teh hangat. Perlahan Danish menghampiri Naila kemudian duduk disamping wanita itu.


"Mih," sapa Danish.


Naila mendongak kemudian tersenyum setelah mengetahui bahwa Danish lah yang tadi menyapanya.


"Nak. Sini, duduklah di samping Mami," ajak Naila sembari menepuk ruang kosong di sampingnya.


Danish pun menjatuhkan dirinya di samping Ibunya. Ia memperhatikan sekelilingnya, tak seorangpun anggota keluarganya yang nampak disana.


"Dimana semua orang?" tanya Danish.


"Siapa?" tanya Naila balik.


"Adek-adek dan Daddy?"


"Oh! Daddy lagi mandi, Danisha ada janji sama calon suaminya dan Adekmu yang bontot itu lagi merem, sama seperti biasanya," sahut Naila.


Danish sempat terkekeh pelan saat membahas Adiknya yang satu itu. Entah mengapa hanya Keyla yang memiliki sifat berbeda dari mereka semua.


"Mih, Danish ingin ngomong, boleh?"


"Tentu saja, Sayang! Ngomong apa?!" tanya Naila sembari mengelus pipi Danish dengan lembut.


Danish menghembuskan napas berat dan mencoba menenangkan dirinya karena saat itu ia merasa sangat gugup.


"Mih, bagaimana jika Danish jatuh cinta pada seorang gadis sederhana yang mungkin statusnya jauh dibawah kita," lirih Danish.


Naila menatap anaknya itu dengan tatapan serius. Ia memperhatikan wajah Danish saat itu dan ia tahu bahwa anaknya itu tidak sedang bercanda.

__ADS_1


"Siapa gadis itu, Nak? Apa Mami mengenalnya?" tanya Naila.


Danish meraih tangan Naila kemudian menggenggamnya dengan erat. "Tapi janji ya, Mami tidak akan marah sama Danish," pintanya.


"Ya, Mami janji."


"Namanya Nazia, Mi. Dia bekerja di sebuah Toko Bunga di perempatan jalan. Gadis itu sudah tidak punya orang tua lagi, dia hanya tinggal bersama Bibinya yang kini juga sudah mulai sakit-sakitan," tutur Danish.


Danish menatap mata Naila yang kini terlihat berkaca-kaca. Tiba-tiba saja wanita itu bangkit dari tempat duduknya kemudian bergegas melangkahkan kakinya meninggalkan Danish sendiri di ruangan itu. Dengan langkah cepat Naila berjalan menuju kamarnya.


Ekspresi wajah Danish berubah seketika. Tadinya, ia begitu bersemangat, kini menjadi murung dan terlihat menyedihkan. Ia sudah menduga hal ini sebelumnya. Ia tahu, tidak semudah itu bagi kedua orang tuanya menerima sosok Nazia yang memang tidak selevel dengan keluarganya.


Danish mengehela napas berat dan mencoba mengikhlaskan semuanya. Ia pun tidak bisa memaksa kedua orang tuanya untuk menyukai sosok Nazia.


Di saat Danish sudah putus asa, tiba-tiba saja Mami dan Daddy-nya turun dari lantai atas, dimana kamar mereka berada. Wajah mereka terlihat semringah. Senyuman hangat itu terus tersungging di sudut bibir mereka.


"Benarkah apa yang dikatakan oleh Mamimu, Danish? Kenapa tidak diajak main kesini? Kami juga ingin bertemu dengan gadis itu, siapa namanya, Sayang?!" ucap Keanu sambil menggandeng tangan sang Istri.


"Ja-jadi kalian tidak marah?!" tanya Danish dengan sangat antusias.


Naila dan Keanu duduk di samping kiri dan kanan Danish. Kini Danish duduk di antara kedua orang tuanya.


"Kenapa kami harus marah, Danish. Jika gadis itu memang gadis yang baik dan pantas untuk mendampingi dirimu, kenapa tidak?" sahut Keanu sembari menepuk pundak anaknya itu.


"Terima kasih, Daddy, Mami!"


Danish memeluk Daddy dan Maminya secara bergantian dengan rasa haru.


"Jadi, kapan kamu mau ajak dia main ke rumah? Mami penasaran secantik apa, sih gadis yang sudah berhasil mencuri hati Pangerannya Mami?!" goda Naila.

__ADS_1


"Mungkin minggu depan, Mi." ucapan Danish terjeda. "soal Nazia, dia hanya gadis sederhana dan bukan kecantikannya yang membuat Danish jatuh hati, tetapi kebaikannya lah yang membuat hati Danish luluh," sahut Danish.


"Oh, Danish ... kamu manis sekali!" ucap Naila sembari memeluk tubuh anaknya itu.


Sementara itu.


"Minggu depan? Apa itu tidak terlalu cepat, Bu?" tanya Nazia panik karena ia tidak menyangka bahwa pernikahannya akan dilaksanakan secepat itu. Ia bahkan tidak tahu bagaimana sifat Aditya yang sebenarnya.


"Maafkan kami, Nak. Kami tidak punya pilihan lain selain mempercepat pernikahan kalian agar Aditya ...," ucapan Pak Dodi terhenti. Ia menatap sang Istri yang juga nampak cemas sama seperti dirinya.


"Mas Aditya kenapa?" tanya Nazia.


"Ehm, tidak apa-apa, Nak. Sebenarnya kami sudah tidak sabar menjadikan dirimu sebagai menantu kami dan satu lagi, kami pengen cepat-cepat jadi Kakek dan Nenek. Ya 'kan, Yah?!" jawab Bu Radia sambil terkekeh pelan.


"Bagaimana ini? Aku tidak kuasa menolak pernikahan ini. Lagipula seluruh warga di sini sudah tahu bahwa aku akan segera menikah dan jika pernikahan ini dibatalkan secara tiba-tiba, aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh orang-orang terhadapku dan juga Bi Narti." batinnya.


Setelah berbincang lama, Pak Dodi dan Bu Radia pun pamit pulang. Keputusan mereka sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat. Pernikahan itu memang akan dilaksanakan minggu depan.


Nazia terdiam dalam waktu yang cukup lama dan hal itu menjadi perhatian Bi Narti. Ia menghampiri Nazia kemudian duduk di samping gadis itu.


"Kita hanya bisa berdoa, semoga saja Aditya memang yang terbaik untukmu, Nazia," ucap Bi Narti sembari memeluk tubuh mungil Nazia.


"Bagaimana jika Mas Aditya menghindari pernikahan ini, Bi? Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang terhadap Zia?!" tanya Nazia tiba-tiba.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Nak?" ucap Bi Narti heran.


"Ya. itu cuma seandainya saja, Bi. Nazia tidak bisa membayangkan hal itu, mungkin saja Nazia tidak akan keluar rumah lagi untuk beberapa bulan ke depan," tutur gadis itu sambil tersenyum kecut.


"Hust! Jangan bicara seperti itu, tidak baik!" ucap Bi Narti.

__ADS_1


...***...


__ADS_2