Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Kebangkrutan Tuan Rendra


__ADS_3

Tuan Rendra Hermawan tengah duduk di ruang kerjanya dengan wajah kusut menatap sebuah berkas di tangannya. Sesekali Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar seraya menghembuskan napas berat.


Sedangkan sang Assisten, Tom. Ia masih setia berdiri didepan meja Tuan Rendra sembari memperhatikan ekspresi wajah Big Bossnya tersebut.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Tom? Padahal aku sudah menjalankan perusahaan ini dengan baik," tutur Tuan Rendra sembari memijat pelipisnya.


"Entah mengapa aku jadi teringat akan sumpah serapah Mira hari itu. Aku rasa Tuhan benar-benar telah mengabulkan doanya. Huft! Sebenarnya aku memang pantas mendapatkan hukuman ini. Karena sudah menyia-nyiakan Ariana dan Naila," tutur Tuan Rendra dengan wajah tertunduk.


Baru saja Tom ingin menjawab pertanyaan Tuan Rendra, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Dan tampaklah Nyonya Rita dengan langkah tergesa-gesa menghampiri Suaminya.


Wanita itu berjalan dengan langkah cepat dengan sepatu heels mahal yang sedang ia kenakan. Dan tidak lupa, tas mahal yang selalu menggantung di tangannya.


"Sayang, aku benar-benar malu hari ini! Kenapa tagihan kartu kreditku masih tidak kamu bayarkan?! Semua teman-temanku pada menertawakan aku ketika kartu itu tidak bisa digunakan. Padahal aku ingin sekali membeli tas branded yang kini sedang viral itu lo, Ayah!" ucap Nyonya Rita dengan wajah kesal menatap Tuan Rendra.


Tuan Rendra kembali menghembuskan napas berat. Ia membalas tatapan istrinya dengan wajah malas. "Apa kamu tidak tahu, Rita? Perusahaan kita dalam masalah besar. Dan yang ada didalam pikiranmu itu hanya belanja dan belanja! Sekarang kamu lihat, Tas, sepatu dan barang-barang branded yang kamu beli dengan harga fantastis itu bahkan menumpuk seperti barang tidak berguna!" hardik Tuan Rendra.


"Perusahaan dalam masalah? Apa maksudmu, Sayang?" tanya Nyonya Rita.


"Ya, Perusahaan kita terancam bangkrut, Rita. Dan disaat seperti ini, kamu masih bisa memikirkan membeli barang-barang Branded yang tidak berguna itu!" kesal Tuan Rendra.


Nyonya Rita terdiam. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Saking terkejutnya, tas branded yang terus menggantung di lengannya jatuh ke lantai.


"Lalu, bagaimana nasib kita sekarang?" tanya Nyonya Rita dengan tatapan kosong menatap kearah luar.


"Entahlah, kita berdoa saja semoga Tuhan memberikan keajaiban untuk keluarga kita," ucap Tuan Rendra seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


.


.


.


Beberapa minggu kemudian,

__ADS_1


Drrrett ... drrrett ... Ponsel Melisa bergetar,


Melisa yang masih menikmati waktu santainya, terkejut ketika ponselnya bergetar diatas meja. Wanita itu segera bangkit dari posisinya, ia meraih ponsel itu kemudian mengecek siapa yang tengah menghubunginya.


"Ibu? Tumben," gumam Melisa.


Melisa menerima panggilan dari Ibunya kemudian meletakkan ponsel itu ke samping telinganya. "Ya, Bu. Ada apa?"


Terdengar suara isak tangis Sang Ibu dari seberang telepon. "Mel ..." Isak tangis itu semakin terdengar jelas di telinga Melisa.


"Bu? Ibu kenapa, kok nangis?!" tanya Melisa panik. Ini pertama kalinya ia mendengar Ibunya menangis saat di telepon.


"Ibu bertengkar sama Ayah, ya?" sambungnya, dengan wajah cemas.


"Bu-bukan masalah itu, Mel. Ayah dan Ibu baik-baik saja, kok. Tapi ada masalah yang lebih menyesakkan dari itu," sahut Nyonya Rita dengan terbata-bata.


Melisa semakin penasaran, sebenarnya apa yang membuat Ibunya sampai menangis seperti itu. "Katakan, Bu! Sebenarnya Ibu kenapa?!" tanya Melisa lagi.


"Loh, kok bisa?!" pekik Melisa,


"Sebenarnya ini sudah terjadi sejak beberapa minggu yang lalu. Namun, Ibu tidak ingin mengatakan hal ini kepadamu. Ibu takut kamu kepikiran dan mempengaruhi kandunganmu," ucap Nyonya Rita.


"Tapi, bagaimana ini bisa terjadi ..." lirih Melisa.


Nyonya Rita pun menceritakan semua yang terjadi kepada keluarganya kepada Melisa. Dan Melisa mendengarkan ucapan Sang Ibu dengan seksama.


Saat itu Keanu baru saja tiba dari kantornya. Ia sengaja pulang lebih cepat dari biasanya karena ingin menyelesaikan permasalahannya dengan Melisa. Semenjak kejadian malam itu, dimana Keanu mabuk dan terus menyebutkan nama Naila, hubungan Melisa dan Keanu semakin renggang. Mereka terus saja bertengkar, bahkan hingga sekarang tidak ada penyelesaian sedikitpun.


Keanu memperhatikan ekspresi Melisa ketika bicara di ponselnya, Keanu nampak heran karena Melisa terlihat sangat cemas. Akhirnya panggilan Nyonya Rita pun terputus, tetapi Melisa masih terdiam di posisinya. Dan masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


Keanu menghampiri Melisa kemudian duduk di sampingnya. "Ada apa, Melisa?" tanya Keanu seraya menatap wanita itu.


"Ibu ...." Melisa tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya. Ia sempat terdiam sambil membalas tatapan Keanu.

__ADS_1


"Ada apa dengan Ibu?" tanya Keanu cemas.


"Ehm, Ibu barusan bilang padaku, bahwa Perusahaan Ayah terancam bangkrut, Keanu. Bahkan Ibu sudah tidak memiliki simpanan apapun lagi. Semuanya sudah dijual untuk menutupi kerugian Perusahaan," tutur Melisa.


Keanu mengerutkan alisnya, ia heran sekaligus bingung setelah mendengar penuturan Melisa. "Bagaimana itu bisa terjadi?!" tanya Keanu.


"Itu karena, Akh ...!" Melisa merintih kesakitan pada perutnya. Dan kali ini bukanlah pura-pura. Melisa benar-benar merasakan sakit di perutnya. Perutnya bahkan terasa keram saat itu.


"Keanu, tolong aku! Perutku keram," lirih Melisa dengan wajah pucat.


"Mel, kamu tidak apa-apa?!" tanya Keanu seraya menghampiri Melisa yang sedang memeluk perutnya dengan wajah pucat pasi.


"Aku tidak tahu, tapi ini benar-benar sakit!" ucap Melisa.


Perlahan Keanu menyentuh perut Melisa yang sudah lumayan membesar. Ia begitu terkejut ketika mendapati perut Melisa yang benar-benar terasa kencang.


"Sebaiknya kita ke Rumah Sakit!" seru Keany seraya mengangkat tubuh Melisa.


Melisa mencoba memberontak dan meminta Keanu untuk menurunkannya. "Sudahlah Keanu, aku baik-baik saja! Lagipula setelah dibawa istirahat sebentar pun, ia akan pulih dengan sendirinya! Ku mohon, turunkan aku!" pinta Melisa panik.


"Tidak, kita harus segera ke Rumah Sakit! Aku tidak ingin terjadi apa-apa kepada bayiku!" sahut Keanu.


Keanu membawa tubuh Melisa hingga ke halaman depan dengan langkah cepat. Beruntung saat itu Sid masih bersantai bersama para keamanan ditempat itu dan belum pulang.


"Sid, antar aku ke Rumah Sakit!" titahnya kepada Sid.


Sid bergegas menghampiri Keanu dan membukakan pintu mobil untuk Tuannya itu. "Keanu, aku bilang aku baik-baik saja!" kesal Melisa.


"Cukup Melisa! Jangan keras kepala! Apa kamu tidak lihat, perutmu mengeras seperti itu! Dan lihat juga wajahmu, wajahmu memucat!" sahut Keanu yang tidak kalah kesal karena istrinya itu begitu keras kepala.


Setelah Keanu dan Melisa masuk, Sid pun segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit terbesar di kota XX.


...***...

__ADS_1


__ADS_2