Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 68


__ADS_3

"Apa kamu mencintainya, Keyla?" tanya Mike


"Sebenarnya Ardhan--" Keyla menghembuskan napas berat. "Ardhan adalah lelaki yang selama ini aku kejar-kejar, Mike. Lelaki yang terus berlari menjauhiku, di saat aku mengejarnya. Dan sekarang, disaat aku sudah lelah mengejarnya, dia malah datang padaku dengan membawa sebuah cincin pengikat," sahut Keyla.


Mike tersenyum getir setelah mendengar penuturan Keyla. "Aku doakan semoga hubungan kalian langgeng hingga ke pelaminan," ucapnya.


"Maafkan aku, Mike." Keyla menggaruk tengkuknya. Ia merasa bersalah karena sudah membuat Mike kecewa.


"Tidak apa-apa, Keyla. Lagipula aku sudah mempersiapkan diriku sebelumnya. Jadi kamu tidak perlu khawatir," jawab Mike sambil terkekeh pelan.


Tepat di saat itu, seorang pelayan di kafe tersebut menghampiri mereka dengan membawa makanan dan minuman yang sudah di pesan oleh Mike sebelumnya.


"Nah, pesanan kita sudah datang. Mari kita makan karena aku sudah sangat lapar," ucap Mike sembari mengelus perutnya.


Keyla memperhatikan ekspresi Mike saat itu dan apa yang dikatakan oleh lelaki itu sepertinya benar. Tak nampak sedikitpun beban yang di wajahnya. Padahal bagi sebagian orang, di tolak saat menyatakan cinta itu rasanya sangat sakit karena Keyla sendiri sudah pernah merasakannya.


"Makan yang banyak, Key karena kurasa tubuhmu kurusan sekarang," goda Mike.


"Hhhh, masa 'sih? Perasaan berat badanku segitu-gitu aja," balas Keyla sambil menekuk wajahnya.


Sementara itu.


Hari ini Aditya berencana mengambil cincin pertunangannya bersama Adriela. Yang sudah ia pesan sebelumnya di sebuah toko perhiasan terbesar dan ternama di kota XX. Setelah meminta izin keluar kepada Big Bossnya, Aditya pun segera menjemput Adriela di kediamannya.


"Masuk, Nak."


Arumi mempersilakan Aditya masuk ke dalam rumah mereka dan duduk di sofa yang ada di ruang utama.


"Tunggu sebentar ya, Nak Aditya. Tante panggilin Adriela-nya dulu."


"Ya, Tante. Maaf merepotkan," ucap Aditya sungkan.

__ADS_1


"Ih, tidak kok. Tidak merepotkan sama sekali, yang ada anak perempuan Tante, tuh yang suka merepotkan kamu, ya 'kan?"


Arumi tersenyum kemudian segera melangkahkan kakinya menaiki lantai dua, dimana kamar Adriela berada.


"Driel, Aditya udah nungguin kamu di bawah," ucap Arumi sembari mengetuk pintu kamar gadis itu.


"Ya sebentar, Mah."


Tidak butuh waktu lama, pintu kamar gadis itupun terbuka. Adriela tersenyum manis seraya menghampiri Arumi.


"Aku sudah terlihat cantik gak 'sih, Mah?"


"Cantik. Kamu selalu cantik," sahut Arumi sembari menyentuh wajah cantik Adriela.


"Ah, Mama bisa aja."


Setelah pamit kepada Arumi, Adriela pun bergegas menuju ruang utama. Dimana Aditya sudah menunggunya disana.


"Sudah lama nungguinnya, Kak Adit?" tanya Adriela.


"Ya, tentu saja."


Adriela dan Aditya pun segera menuju halaman depan, dimana mobil milik Aditya terparkir disana.


"Silakan masuk, Princess-ku," goda Aditya ketika membuka pintu mobilnya untuk Adriela sembari mengedipkan matanya.


"Ih, Kak Adit genit." Adriela terkekeh pelan.


"Tidak apa, bukankah tidak lama lagi kita akan menikah?"


"Melamar aja belum. Kalah sama Kak Ardhan yang mendadak melamar Keyla."

__ADS_1


"Tapi ini 'kan aku lagi usaha. Aku ingin acara lamaran kita diadakan secara meriah. Biar semua orang tahu bahwa kamu sudah ku ikat dengan kuat dan tidak akan ada yang berani mendekatimu lagi," jawab Aditya sambil terkekeh.


Tidak berselang lama, mobil yang di kemudian oleh Aditya pun tiba di toko perhiasan tersebut. Kedatangan mereka segera di sambut oleh sang pemilik toko karena mereka sudah membuat janji sebelumnya.


Sang pemilik toko memperlihatkan dua buah cincin dengan bentuk yang sama, tetapi dengan ukuran yang berbeda. Adriela meraih cincin tersebut kemudian mencobanya.


"Bagaimana, kamu suka?" tanya Aditya.


"Ya, aku suka, Kak."


Setelah membayar cincin tersebut, Aditya berencana mengajak Adriela makan siang di sebuah restoran yang tidak jauh dari toko perhiasan tersebut.


"Aku sudah lapar, apa kamu juga lapar?" tanya Aditya sambil menggenggam tangan Adriela dengan erat.


Adriela menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, aku lapar sekali, Kak."


Tiba-tiba saja pasangan itu dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang tidak biasa di depan mobil mereka.


"Brugkhh!!!"


Seorang wanita dengan perut buncit di dorong dari sebuah mobil mewah yang kini berhenti secara tiba-tiba di depan mereka. Beruntung saat itu mobil yang di dikemudian oleh Aditya berjalan cukup pelan dan tidak sempat menabrak bagian belakang mobil mewah itu.


"Ada apa itu, Kak?" tanya Adriela kebingungan.


"Entahlah," jawab Aditya yang juga sama bingungnya.


Wanita berperut buncit itu menagis lirih sambil memohon-mohon kepada sang pemilik mobil dengan menangkupkan kedua tangannya ke dada. Bukannya iba, lelaki yang sedang duduk di jok bagian belakang mobil mewah itu malah mendorong wanita itu hingga terjengkal ke tanah.


Setelah wanita itu terlihat tidak berdaya, mobil itu malah melaju dengan cepat meninggalkan wanita itu sendirian di pinggir jalan.


"Apakah kita harus menolongnya?" lirih Adriela sembari memperhatikan wanita dengan kepala tertunduk tersebut.

__ADS_1


"Sepertinya, ya."


...***...


__ADS_2