
"Masuklah ke mobilku, aku akan mengantarkanmu ke Rumah Sakit!" ucap Danish panik.
"Tidak, Tuan! Saya tidak apa-apa, coba lihat ini? Saya baik-baik saja," tutur Nazia mencoba meyakinkan Danish.
"Tapi ..." lanjut Zia, Gadis itu menoleh pada sepeda kesayangannya. Wajahnya mendadak murung karena sepeda satu-satunya, kini berbentuk tiada rupa.
Danish dan Pak Ahmad mengerti apa maksud Nazia. Gadis itu ingin minta ganti rugi tetapi tidak berani bicara kepada mereka.
"Kamu tenang saja, aku akan menggantinya," ucap Danish sembari meraih dompetnya dan berniat mengambil uang cash untuk mengganti sepeda Gadis itu.
Namun, Danish lupa bahwa semua uang cash miliknya sudah ia serahkan kepada Nazia tadi pagi. Danish menahan malu ketika dibuka ternyata dompetnya kosong melompong hanya penuh dengan berbagai macam kartu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian tersenyum kecut kepada Gadis itu.
"Ehm, sebaiknya kita ke Rumah Sakit dulu. Dan soal sepedamu, malam ini pasti akan ku ganti. Aku berjanji," ucap Danish sambil menatap wajah teduh Gadis di depannya.
Nazia pun menganggukkan kepalanya. Ia percaya bahwa lelaki tampan berjas hitam itu tidak akan membohonginya.
"Mari!"
Baru saja Danish ingin menuntun Gadis itu memasuki mobilnya, Nazia kembali berbalik dan menatap sepedanya. "Tapi, bagaimana dengan sepeda saya yang rudak itu?" Nazia menunjuk sepeda malangnya yang kini tergeletak diaspal.
"Nanti Pak Ahmad yang akan mengurusnya. Ya, 'kan Pak Ahmad?!"
"Ya," sahut Pak Ahmad.
Pak Ahmad mengamankan sepeda Nazia yang kini sudah tidak berbentuk ke pinggir jalan. Setelah mengamankan sepeda Gadis itu, Pak Ahmad kembali ke mobilnya,
"Nah, sudah beres, 'kan?!" ucap Danish.
"Ehm, Tuan. Sebaiknya tidak usah membawa saya ke Rumah Sakit. Cukup di Klinik dekat rumah saya saja, lagipula saya hanya hanya luka kecil, Tuan." tutur Rania.
Danish memperhatikan gadis manis yang sedang duduk disampingnya dan setelah mempertimbangkan semuanya, Danish pun menyetujui keinginan Gadis itu.
"Baiklah kalau begitu,"
. . .
__ADS_1
Satu jam kemudian,
"Terima kasih, Tuan. Saya disini saja, soalnya rumah saya sudah dekat," ucap Zia setelah selesai berobat di Klinik yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
"Ehm, baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu dan soal sepedamu, sebentar lagi anak buahku akan mengantarkannya ke rumahmu."
Setelah berpamitan, mobil yang dikemudikan oleh Pak Ahmad pun meluncur ke jalan raya, menuju kediaman Majikannya tersebut.
Sepeninggal Danish, Nazia melangkah gontai menuju rumahnya. Rumah sederhana yang ia tinggali bersama sang Bibi.
Tok ... tok ... tok ...
"Bi, ini Zia,"
"Ah, sebentar ya, Zia."
Seorang wanita paruh baya melangkah dengan tergesa-gesa menghampiri pintu rumahnya. Ia tersenyum hangat sembari membukakan pintu tersebut untuk Zia.
"Kok, kamu pulangnya telat, Zia?" tanya Bibinya.
Nazia masuk kedalam rumah kemudian duduk disebuah kursi kayu yang ada diruangan itu. Ia bersandar di sandaran kursi untuk melepaskan rasa penatnya.
"Terus, kamunya tidak apa-apa, 'kan?" tanya Bibi cemas. Wanita paruh baya itu duduk disamping Nazia sambil memperhatikan wajah lelah gadis itu.
"Nazia tidak apa-apa, Bi. Hanya luka kecil saja," sahut Nazia.
Tepat disaat itu, seorang laki-laki memanggil namanya dari luar rumah. Nazia terkejut dan segera bangkit dari tempat duduknya.
"Siapa itu, Zia?"
"Entahlah, mungkin orang yang mengantarkan sepeda Nazia,"
Nazia berjalan menghampiri pintu rumahnya kemudian ia mengintip dari balik jendela. Ia melihat seorang laki-laki sedang berdiri diluar sana dengan sebuah sepeda baru disampingnya.
"Ah, ternyata benar! Itu sepeda baru untuk Nazia," serunya.
__ADS_1
Ia bergegas membukakan pintu kemudian menyambut lelaki itu dengan senyuman manisnya.
"Nona Nazia?" tanya lelaki itu sembari membalas senyumannya.
"Ya, saya Nazia!"
"Tolong tandatangan disini," perintah lelaki itu kepada Zia.
Nazia pun segera menandatangani kertas itu dan akhirnya iapun mendapatkan sebuah sepeda baru.
"Lihat, Bi! Sepeda barunya keren, ya! Nazia jadi semangat buat kerja besok!" ucapnya dengan wajah berseri-seri memperhatikan sepeda barunya.
"Zia,"
"Ya, Bi," sahut Zia tanpa menoleh kepada Bibinya yang masih duduk disalah satu kursi kayu.
"Zia, Pak Dody kembali bertanya tentang perjodohan itu. Bagaimana, Zia? Bibi tidak tahu harus menjawab apa," ucap Bibi dengan wajah sendu menatap Zia yang berdiri membelakanginya.
Nazia berbalik, wajahnya pun ikut sendu sama seperti Bibinya. Sudah beberapa bulan ini Pak Dodi (sahabat Almarhum Ayahnya Nazia) selalu menanyakan perihal perjodohan dirinya dengan anak semata wayang lelaki itu. Pak Dodi dan Ayah Nazia sudah sejak lama merencanakan perjodohan mereka bahkan sejak Zia masih kecil.
Nazia sendiri bingung harus berkata apa. Sebenarnya ia masih belum siap untuk menikah, tetapi lelaki yang bernama Pak Dodi tersebut, terus mendesaknya agar menikah dengan putra kesayangannya.
"Zia benar-benar tidak mengerti, mengapa almarhum Ayah bersikeras menjodohkan Nazia dengan anak laki-laki Pak Dodi. Padahal Zia juga ingin memilih calon suami untuk Zia sendiri," keluh Zia.
...***...
Siapa Nazia?
Nazia adalah tokoh baru untuk menjadi pasangan hidup Danish.
Nazia anaknya siapa?
Yang jelas, bukan anaknya Melisa. Kalau anaknya Melisa, takutnya makin berabe 😅😂
Berapa usia Danish dan Danisha sekarang?
__ADS_1
Udah 25 tahun, nah kalo yang lain itung aja sendiri kalo pengen 😅😅😅 Author pusing soal hitung-menghitung 😵😵😵