
Tanpa menghiraukan Helen, Aditya berlari menuju Ayah dan Ibunya yang masih berdiri di pojokan sambil memperhatikan kebahagiaan Danish dan Nazia.
"Nazia, beruntung sekali ya, Yah. Ibu ikut bahagia melihat kebahagiaan mereka."
"Ayah juga, Bu."
Tepat di saat itu, Aditya datang menghampiri mereka dengan wajah cemas dan napas terengah-engah.
"Bu, jangan katakan bahwa gadis yang sedang bersanding bersama Tuan Danish adalah Nazia, calon istriku?!" ucapnya dengan wajah panik.
Bu Radia menghembuskan napas berat kemudian menepuk pundak Aditya dengan lembut.
"Ya, Nak. Dia adalah Nazia. Nazia Anastasya, gadis yang kamu tinggalkan di hari pernikahan kalian," tutur Bu Radia.
"Oh, Tuhan!"
Tubuh Aditya merosot ke tanah, ia berjongkok sambil mengacak rambutnya dengan kasar. "Bagaimana ini bisa terjadi?" gumamnya.
"Sudahlah, Aditya! Buat apa kamu menyesalinya? Ini pilihanmu, jadi terima saja semuanya!" ketus Pak Dodi.
"Tapi, Yah! Aku tidak habis pikir, bagaimana Tuan Danish bisa menggantikan posisiku? Dan Nazia, bukankah dia hanya seorang gadis culun lalu kenapa dia ...."
"Sudahlah, tidak usah kamu pikirkan bagaimana mereka bisa bersatu! Sekarang urus saja kekasihmu itu," geram Pak Dodi.
"Kamu selalu menghina Nazia, Dit. Bukankah sudah Ibu katakan padamu bahwa Nazia itu gadis yang cantik. Ibarat sebongkah berlian, ia jatuh di lumpur, Dit. Terlihat jelek dan tidak berharga, tetapi ketika ia berada di tangan yang tepat, nampaklah wujud aslinya. Sekarang kamu tahu 'kan, bahwa pilihan Ayah dan Ibu ini tidak pernah salah," sambung Bu Radia.
"Dimana aku harus meletakkan wajahku, Bu? Aku benar-benar malu," ucapnya dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
"Percuma, Aditya. Nasi sudah menjadi bubur. Dulu kamu bilang malu punya istri seperti Nazia dan sekarang kamu malu karena gadis yang kamu anggap kampungan itu, kini menjadi istri dari Bossmu sendiri,"
Pak Dodi gerah, ia mengajak sang Istri untuk meninggalkan tempat itu dan membiarkan Aditya larut dalam penyesalan.
Sementara itu, Helen kebingungan mencari keberadaan Aditya yang tiba-tiba saja meninggalkan dirinya di pesta itu sendirian. Ia terus mengelilingi tempat itu hingga akhirnya ia menemukan Aditya yang sedang duduk disalah satu kursi tamu dengan wajah tertunduk.
"Aditya, kamu kenapa?" tanya Helen, ia menarik salah satu kursi dan duduk di samping Aditya.
"Aku tidak apa-apa," sahut lelaki itu sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Helen terdiam sambil terus memperhatikan keadaan Aditya. Sebenarnya Helen tidak percaya lelaki itu baik-baik saja, tetapi ia tidak peduli.
"Ayo, Aditya, kita temui pasangan itu. Aku sudah mulai bosan dan aku ingin cepat pulang," kesal Helen.
Helen menarik paksa Aditya dan menuntun lelaki itu menuju pelaminan. Aditya sempat menolak, tetapi Helen tidak melepaskan tangannya dan tetap memaksa lelaki itu naik ke pelaminan hingga akhirnya mereka berada tepat di hadapan Nazia dan Danish.
"Selamat ya, Tuan Danish."
"Terima kasih," sahut Danish singkat.
Sedangkan Aditya, wajahnya terus tertunduk. Ia tidak mampu mengangkat kepalanya, apalagi harus bertatap mata dengan pasangan itu.
"Aditya, apa kamu tidak ingin mengucapkan selamat untuk kami?" goda Danish.
Nazia sempat shok karena ia tidak menyangka bahwa Aditya juga hadir di acara pernikahannya. Ia memeluk lengan Danish dengan wajah cemas dan berkali-kali mendongak kepada suaminya.
"Kamu tenang saja, dia tidak akan pernah berani menghinamu lagi, Sayang," bisik Danish.
__ADS_1
Danish tersenyum kemudian mengelus tangan Nazia yang melingkar erat di lengan kekarnya.
"Se-selamat ya, Tuan. Se-moga kalian bahagia," ucapnya dengan terbata-bata tanpa berani menatap wajah Danish saat itu.
"Terima kasih, Aditya. Oh ya, bagaimana menurutmu, istriku cantik 'kan? Aku merasa beruntung sekali mendapatkan gadis secantik dirinya, Aditya. Dan aku tidak malu memperkenalkan dirinya kepada dunia, bahwa dia adalah istriku," sindir Danish.
Harga diri Aditya yang menjulang setinggi langit, seakan roboh dan rata dengan tanah setelah mendapatkan sindiran keras dari Big Bossnya itu. Ia bahkan tidak mampu lagi mengangkat wajahnya karena rasa malu yang amat sangat.
Tanpa pikir panjang, Aditya bergegas turun dari pelaminan dan meninggalkan Helen disana bersama kedua mempelai.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Aditya?" gumam Helen.
Helen bergegas menyusul Aditya, tetapi lelaki itu sudah menghilang bersama mobilnya.
"Sialan, berani-beraninya Aditya meninggalkan aku disini!" umpat Helen dengan wajah kesal.
Sementara itu, di pelaminan.
"Setelah ini, tidak akan ada lagi yang berani menghinamu, Nazia. Bahkan Aditya sekalipun," ucap Danish sambil mengelus pipi Nazia dengan lembut.
"Sebenarnya jabatan Aditya itu apa sih, Mas? Sepertinya dia begitu menghormati Mas Danish?" tanya Nazia penasaran.
"Dia hanya Asistenku dan aku adalah pemilik perusahaan dimana ia bekerja."
Nazia terdiam sambil terus memperhatikan wajah suaminya. Ia bahkan tidak menyangka bahwa selama ini ia sudah menikahi pemilik perusahaan besar itu.
...***...
__ADS_1