
"Ngapain kamu disini, Key?"
Aditya ikut duduk dengan posisi yang sama seperti Keyla. Menekuk lutut dan meletakkan kedua tangan di atasnya. Sebelum menjawab pertanyaan Aditya Keyla masih sempat-sempatnya melemparkan sebuah batu besar ke danau hingga menimbulkan gemericik diatas permukaan air. Aditya tahu bahwa saat ini, gadis itu tengah kesal, tetapi ia tidak tahu apa alasannya.
"Meluapkan kekesalanku, Kak," jawabnya singkat dengan netra yang masih tertuju ke seberang danau.
Aditya terkekeh pelan. Apa yang ia duga ternyata benar, gadis itu tengah kesal.
"Kamu sedang kesal, Key? Kakak baru tau, ternyata kamu bisa kesal juga, ya!" goda Aditya.
Keyla menyeret netranya kearah Aditya. Ia memicingkan matanya dengan sinis. Keyla sangat kesal karena lelaki itu bukannya menghibur, malah membuat dirinya semakin terpuruk. Mendapat ekspresi mengerikan dari Keyla, Aditya pun dengan segera meminta maaf kepada gadis itu.
"Ehm, maaf-maaf. So, sebenarnya kamu lagi kesal kenapa kalau boleh tau? Ya, siapa tahu dengan berbagi ke Kakak bisa mengurangi sedikit kekesalanmu, Key," ucap Aditya dengan wajah serius.
Keyla sempat terdiam sejenak. Ia ragu ingin menceritakan masalah pribadinya kepada Aditya. Namun, setelah perdebatan singkat yang terjadi di otaknya, akhirnya Keyla pun bersedia untuk menceritakan masalahnya kepada Assisten Kakaknya itu.
"Key tu 'kan suka sama cowok, udah ngejar dia bertahun-tahun. Dia selalu bilang bahwa dia gak punya waktu buat mikirin cewek. Tapi ternyata barusan aku lihat dia sedang dekat dengan seorang cewek, mana ceweknya primadona sekolah lagi," lirih Keyla sambil terus melemparkan batu-batu kecil ke danau.
Aditya ingin tertawa mendengar penuturan gadis itu, tetapi ia tahan. Ia tidak menyangka bahwa Keyla yang terlihat tomboy dan tidak terlalu memikirkan masalah penampilan itu, tidak tertarik dengan laki-laki. Ternyata ia salah, gadis itu bahkan punya gebetan.
"Sudahlah, sebaiknya lelaki seperti itu lupakan saja. Masih banyak laki-laki yang baik dan pantas untuk kamu dapatkan." Aditya menepuk pundak Keyla dengan lembut, berharap bisa meringankan beban gadis itu.
"Sebentar,"
Keyla membenarkan posisi duduknya kemudian merapikan rambutnya yang agak berantakan dan segera menoleh kepada Aditya yang masih duduk di sampingnya.
"Menurut Kak Aditya, Keyla itu cantik gak, sih?"
__ADS_1
Keyla menatap lekat wajah lelaki itu dan begitupula Aditya. Ia memperhatikan wajah cantik Keyla dengan seksama.
"Cantik," jawab Aditya yakin.
"Serius, Kak. Jangan dipaksakan begitu mengatakan kata 'cantik'nya,"
"Serius, kamu itu cantik loh, Key. Wajahmu itu perpaduan yang sempurna antara Daddy dan Mami kamu. Dan menurut Kakak, kamu akan semakin cantik jika dipoles sedikit dengan sentuhan Make Up, pemilihan pakaian yang tepat dan taadaa ... kamu pasti akan menjadi gadis yang perfecto!" tutur Aditya.
Seketika ekspresi wajah Keyla berubah. Wajahnya terlihat lebih berseri-seri dari sebelumnya. Ia bahkan dapat menyunggingkan sebuah senyuman manis untuk Aditya.
"Ah, Kakak bisa saja!"
Gadis itu mendorong tubuh Aditya dengan maksud 'bercanda'. Namun, karena posisi duduk Aditya yang tidak kokoh, ia pun terjengkang ke tanah.
Gdubrak!!!
"Ah, maaf-maaf. Maafkan Keyla ya, Kak!" pekik Keyla ketika menyaksikan Aditya tersungkur di tanah sambil tersenyum kecut.
"Aduh, Key. Kamu itu sebenarnya cowok atau cewek, sih? Kekuatan kamu itu seperti anak cowok aja," ucap Aditya sembari membersihkan celananya yang kotor dibagian belakang.
"Maaf," lirih Keyla.
"Ya, sudah. Kakak duluan ya, soalnya pekerjaan Kakak masih banyak. Nanti bisa-bisa Kakak di pecat lagi sama Tuan Danish," balas Aditya sembari melangkahkan kakinya meninggalkan Keyla.
"Bye, Key! Sebaiknya kamu pulang dan ingat jangan ngebut lagi," ucap Danish sambil melengos bersama mobilnya dari hadapan Keyla.
"Ya, Kak. Terima kasih," jawabnya.
__ADS_1
Keyla kembali meraih jaket dan mengenakannya. Setelah itu ia pun kembali melesat dengan motor kesayangannya setelah menggunakan helm dengan benar.
Setibanya di kediamannya, Keyla bertemu Nazia yang sedang memasak di dapur bersama Ibunya, Naila. Kedua wanita itu memang memiliki hobby yang sama, mengobrak-abrik dapur, tempat favorit mereka setelah kamar.
"Hey, Keyla! Tumben pulang cepat," goda Naila sambil memperhatikan wajah kusut Keyla.
Keyla meraih sebuah kursi kemudian duduk tepat disamping Nazia yang sedang memotong-motong sayuran.
"Kakak ipar," ucap Keyla sembari menyandarkan kepalanya ke bahu Nazia.
Nazia tersenyum kemudian mengelus pipi gadis itu. "Kamu kenapa, Key?"
Keyla menarik kembali kepalanya kemudian duduk dengan posisi yang benar. Ia menekuk wajahnya kemudian berucap.
"Menurut Mami sama Kakak Ipar, Keyla itu cantik gak, sih?"
Pertanyaan aneh Keyla sontak membuat kedua wanita itu tertawa. Mereka merasa lucu ketika mendengar pertanyaan gadis itu.
"Tuh, 'kan kalian menertawakan aku," lirih Keyla dengan wajah sedih.
"Bukan begitu, Sayang. Hanya saja pertanyaan kamu itu lucu. Memangnya siapa sih yang sudah berani menyebut Keyla-nya Mami jelek. Ayo, bilangin sama Mami biar Mami bantu marahin," ucap Naila sambil terkekeh pelan.
"Tidak ada yang bilang jelek sih, Mah. Tapi--"
Ucapan Keyla terhenti. Ia tidak sanggup menceritakan kisah sedihnya hari ini, kepada kedua wanita itu.
...***...
__ADS_1