Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 70


__ADS_3

"Ja-jadi gadis ini kekasihmu, Aditya?" tanya Helen dengan wajah panik.


"Ya, dia kekasihku. Calon istriku," jawab Aditya dengan wajah sumringah.


Perlahan Helen bangkit dari tempat duduknya, kemudian wanita itu melangkah mundur ke belakang.


"Ehm, sebaiknya aku kembali, Aditya. Terima kasih sudah menolongku," ucap Helen yang kemudian segera berlari meninggalkan Adriela dan Aditya di tempat itu.


"Loh, dia kenapa langsung pergi, Kak? Apa mungkin ia tidak suka dengan hubungan kita?"


Aditya terkekeh sambil mengacak puncak kepala Adriela dengan lembut. "Entahlah, aku tidak mau tahu soal itu. Biarkan dia, selama dia tidak mengganggu hubungan kita," jawab Aditnya.


Adriela pun tersenyum. Ia bangga pada lelaki yang tengah merengkuh tubuh mungilnya tersebut. Lelaki itu bahkan tidak canggung ketika ia harus mengakui bahwa Adriela adalah calon istrinya.


"Sebaiknya kita pulang, Adriela. Aku tidak ingin nanti Ibumu marah-marah padaku," goda Aditya sambil terkekeh pelan.


Adriela pun menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, sebaiknya kita pulang sekarang. Tapi soal Mama, aku mau protes!  Mama itu tidak pernah marah-marah, ya. Mamaku 'kan baik," sahut Adriela.


"Iya, iya. Maaf, aku hanya bercanda."


Setelah membayar makanan dan minumannya, Aditya pun segera mengajak Adriela kembali ke kediamannya. Setelah mengantarkan Adriela ke kediamannya, Aditya memilih kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan setelah ini.


"Wah, sebentar sekali. Apa urusanmu sudah selesai?" ucap Danish ketika Aditya memasuki ruangannya.


Aditya tersenyum hangat sembari menunduk hormat kepada Danish. "Ya, Tuan. Kami hanya mengambilnya saja. Soalnya cincin pertunangan itu sudah kami pesan jauh hari sebelumnya."


"Oh, baguslah kalau begitu."


Aditya terdiam sejenak. Ia teringat akan pertemuannya dengan Helen barusan. Tiba-tiba saja Aditya ingin menceritakan masalah itu kepada Danish.

__ADS_1


"Tuan Danish, tadi setelah selesai mengambil cincin, aku dan Adriela bertemu dengan Helen. Kondisinya sekarang terlihat memprihatinkan, Tuan."


Danish menatap Aditya sambil mengerutkan alisnya. "Helen?"


"Ya, Tuan."


"Sayang sekali sebenarnya. Helen adalah karyawan yang sangat bisa diandalkan. Pekerjaannya bagus dan selama bekerja di sini, ia tidak pernah melakukan kesalahan sekalipun. Sebab itulah aku sangat menyayangkan waktu dia resign dari perusahaan ini," tutur Danish.


"Ya, Tuan. Anda benar," sahut Aditya.


. . .


Sore menjelang, tiba saatnya Aditya kembali ke kediamannya. Setelah berpamitan kepada Danish yang kini sudah menghilang dari pandangannya, Aditya pun segera menyusul. Lelaki itu memasuki mobilnya kemudian melajukan benda tersebut menuju kediamannya.


Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Aditya tiba di halaman depan rumahnya. Setelah memarkirkan benda tersebut, ia bergegas memasuki ruang bangunan yang cukup megah tersebut.


"Selamat sore juga, Nak. Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Bu Radia sembari mengelus puncak kepala anak lelakinya itu.


"Berjalan lancar, sama seperti biasanya, Bu."


Setelah perbincangan singkat itu selesai, Aditya pun kembali ke kamarnya untuk melakukan ritual mandi dan berganti pakaian.


Dreett ... dreeettt ....


Ponsel yang Aditya yang di letakkan di atas nakas, bergetar. Aditya yang baru saja selesai melakukan ritual mandinya, segera meraih ponsel tersebut kemudian menerima panggilannya. Padahal saat itu, Aditya sama sekali tidak tahu siapa yang sedang mencoba menghubunginya.


"Ya, Hallo?"


"Dit, ini aku, Helen. Bolehkan kita bicara sebentar? Aku sedang berada di depan gerbang rumahmu," Terdengar suara lirih Helen dari seberang telepon.

__ADS_1


"Helen? Bicaralah di sini saja. Aku sedang malas keluar," jawab Aditya dengan malas.


"Ini tentang kehamilanku, Aditya. Dan ini ada hubungannya denganmu!" kesal Helen karena lelaki itu tidak ingin menemuinya.


"Jangan mengada-ada, Helen. Aku bukan laki-laki yang bodoh yang bisa kamu bohongi begitu saja," sahut Aditya sambil tersenyum sinis.


"Aku serius, Aditya! Aku bilang keluar, maka keluarlah! Atau aku akan berteriak disini dan akan aku katakan yang sebenarnya, bahwa anak ini adalah anakmu!" hardik Helen.


Aditya sudah mencurigai hal ini sebelumnya. Ia tahu wanita itu akan mencoba mengacaukan hubungannya bersama Adriela. Ia mendengus kesal kemudian meraih pakaiannya.


"Baik! Tunggulah disana."


Aditya bergegas mengenakan pakaiannya kemudian keluar dari kamar tersebut dengan langkah cepat.


"Mau kemana, Dit?"


"Keluar sebentar," jawab Aditya tanpa menoleh sedikitpun kepada wanita yang sudah melahirkannya itu.


Ketika Aditya tiba di depan gerbang rumahnya, ternyata yang dikatakan oleh Helen itu benar. Helen tersenyum bahagia ketika menyaksikan Aditya yang berjalan ke arahnya.


"Aditya,"


"Apa maumu, Helen?"


"Apa kamu tidak melihat perutku yang membesar ini, Aditya? Gara-gara bayi ini, hidupku terus di rundung kesedihan! Om tajir itu mencampakkan aku karena usia kehamilanku melebihi usia perkenalanku dengannya! Kamu tahu apa artinya itu, Dit? Itu artinya bayi ini adalah milikmu!"


Aditya tergelak. "Oh ayolah, Helen. Tidak usah bersandiwara denganku. Aku bukan lagi Aditya bodoh yang bisa kamu kelabui seperti dulu. Ya, aku akui kita memang sering melakukan hal terlarang itu, tetapi aku selalu bermain aman denganmu. Jadi mustahil bayi itu milikku," jawab Aditya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2