Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 72


__ADS_3

"Siapa?" tanya Keyla penuh selidik.


"Entahlah, aku juga tidak tahu siapa. Dia hanya bilang ingin bertemu denganku. Katanya ada sesuatu hal yang penting, yang ingin ia bicarakan," jawab Ardhan.


"Mencurigakan," ucap Keyla sambil menautkan kedua keningnya ketika bertatap mata dengan Ardhan.


Ardhan terkekeh pelan kemudian mencubit dagu gadis itu. "Kenapa? Jangan bilang kamu sedang cemburu, ya."


"Cemburu? Halah," sahut Keyla sembari menepis tangan Ardhan dari wajahnya.


Ardhan kembali mengenakan helmnya kemudian menghidupkan mesin motornya. "Mau ikut?"


Keyla terdiam sejenak sebelum ia menganggukkan kepalanya. "Baiklah."


"Tinggalkan saja motormu disini atau titipkan pada seseorang. Kita naik satu motor saja, biar gak ribet," ucap Ardhan sambil menyeringai licik.


"Hmm, alasan."


Akhirnya Keyla menitipkan motornya pada pemilik sebuah warung yang tidak jauh dari lokasi tersebut. Ia menaiki motor Ardhan kemudian bersiap melaju bersama lelaki itu.


"Pegangan, Key! Aku takut kamu terjatuh karena aku akan menjelma menjadi seorang pembalap profesional setelah ini," ucap Ardhan sambil terkekeh pelan.


"Ya, ya! Terserah." Keyla melingkarkan tangannya ke tubuh Ardhan dan lelaki itupun terlihat sangat senang karena mendapatkan pelukan hangat dari gadis itu.


"Kalian mau ketemuan dimana?" tanya Keyla di samping kepala Ardhan yang tertutup helm.


"Di sebuah Kafe yang tidak jauh dari tempat ini," sahut Ardhan.

__ADS_1


Tidak berselang lama, pasangan itupun tiba di Kafe tersebut dan ternyata orang itu sudah menunggu Ardhan di sana. Wanita itu melambaikan tangannya kepada Ardhan sambil tersenyum hangat.


"Aku kenal wanita itu. Dulu dia pernah bekerja di perusahaan Kak Danish. Sebenarnya mau apa dia?" tanya Keyla sembari melepaskan helmnya kemudian menyerahkannya kepada Ardhan.


"Benarkah? Apa dia mengenalku?"


"Mana ku tahu? Jangan-jangan dia fans beratmu lagi."


Ardhan tersenyum kemudian meraih tangan Keyla dan menuntunnya menghampiri wanita itu.


"Chef Ardhan? Kenalkan namaku Helen."


Helen tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada Ardhan dan segera disambut oleh lelaki itu.


"Silakan duduk, Chef."


Ardhan menarik sebuah kursi untuk Keyla kemudian mempersilakan gadis itu untuk duduk disana. Setelah itu ia pun ikut duduk di samping Keyla.


Helen memperhatikan Keyla dan Ardhan secara bergantian sambil tersenyum licik. Ternyata ia pun baru sadar bahwa gadis tomboy nan cantik yang sedang duduk di hadapannya adalah adik kandung dari Danish, lelaki yang pernah menjadi targetnya. Namun terlalu sulit untuk ia dapatkan.


"Aku cuma ingin memberitahumu sesuatu, Chef. Berhati-hatilah kepada Aditya. Dia calon suami adikmu, 'kan?"


"Aditya?! Apa maksudmu?"


"Sebenarnya aku hanya ingin menyelamatkan adikmu dari lelaki itu. Dia bukanlah laki-laki yang baik. Aku adalah salah satu korbannya. Lihat aku! Aku sedang mengandung anaknya, tetapi dia menolak bertanggung jawab kepadaku."


Sontak saja, Keyla dan Ardhan memperhatikan penampilan Helen saat itu dan benar, perut wanita itu terlihat membuncit.

__ADS_1


"Tidak mungkin Kak Aditya bersikap seperti itu! Kamu pasti hanya mengada-ada, 'kan?" sanggah Keyla dengan wajah kesal.


"Terserah jika kalian tidak percaya. Itu urusan kalian! Yang penting aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Dan jangan bilang kalau aku tidak pernah memperingatkan kalian tentang hal ini, ya! Ya, siapa tahu adikmu akan menjadi korban Aditya yang selanjutnya," tutur Helen.


"Apa kamu tidak malu mengakui hal itu kepada orang yang baru kamu temui, Nona Helen?" tanya Keyla yang tidak habis pikir kenapa wanita itu tanpa tahu malu membuka aibnya sendiri.


"Aku mencoba menyelamatkan Adriela dari mulut manis lelaki itu, apa itu salah? Ya, aku pun sebenarnya malu tapi harus bagaimana lagi?!"


Ardhan hanya diam sambil terus memperhatikan Helen tanpa berkedip sedikitpun.


"Jangan gegabah dulu. Sebaiknya kamu selidiki apakah yang diucapkan oleh wanita ini benar. Dan jika itu benar, baru kalian putuskan bagaimana sebaiknya," ucap Keyla sembari mengelus pundak Ardhan yang sejak tadi hanya diam tanpa ekspresi apapun.


"Sebaiknya kita pulang, Key!"


Ardhan menarik tangan Keyla kemudian mengajaknya pergi dari tempat itu. Helen sempat melambaikan tangannya sambil menyeringai licik kepada Keyla yang terus saja memperhatikan dirinya.


"Menjijikkan!" gumam Keyla sebelum Ardhan benar-benar membawanya keluar dari Kafe tersebut.


"Apa kamu mempercayai kata-katanya?" tanya Keyla sembari mengenaka helmnya kembali.


"Aku tidak tahu, tetapi aku harus mencari tahu secepatnya."


Setelah Keyla duduk di belakangnya, Ardhan pun segera melajukan motornya.


Sementara itu.


Aditya bersiap menjemput Adriela. Ia ingin membicarakan masalah dirinya kepada gadis itu agar tidak terjadi kesalah pahaman.

__ADS_1


"Sebaiknya aku menceritakan hal ini kepada Adriela, sebelum ia mengetahuinya dari orang lain. Aku yakin, Helen tidak akan berhenti sampai di sini. Dia tidak akan pernah merasa puas sebelum apa yang diinginkannya terwujud," gumam Aditya.


...***...


__ADS_2