Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 30


__ADS_3

"Aku begitu mencintaimu, Helen. Apapun yang kamu mau, aku berikan. Seluruh kebutuhanmu, aku yang jamin. Tapi, lihatlah balasanmu kepadaku?! Ternyata selama ini kamu berbohong padaku. Kamu tidak pernah mencintaiku, kamu hanya mencintai uangku. Keterlaluan kamu, Helen!"


Tubuh Aditya bergetar menahan rasa sakit yang ia rasakan di hatinya.


"Ya, kamu benar, Aditya! Aku memang tidak pernah mencintaimu. Aku hanya menginginkan uangmu! Lagian kamu sendiri 'kan yang bodoh, setiap hari mengemis cinta kepadaku? Semua orang sudah tahu, Aditya. Kalau yang aku incar itu Tuan Danish, eh malah kamu yang kecantol! Ya, sudah, dari pada tidak sama sekali 'kan? Lebih baik aku iya'in aja!" ketusnya dengan wajah malas sembari menyilangkan tangannya ke dada.


"KAMU!!!"


Aditya mengangkat tangannya ke udara dan siap melayangkan satu pukulan ke wajah Helen, tetapi hanya tertahan di udara. Ia tidak sanggup melakukan itu terhadap seorang wanita yang pernah bertahta di hatinya.


Helen tersenyum sinis, "Kenapa? Ayo, lakukan! Biar kamu, puas!"


"Aku rasa tidak perlu, Helen. Malah sebaliknya, aku ingin berterima kasih atas jasamu selama ini. Kamu sudah bersedia melayaniku di atas tempat tidur. Aku sudah cukup puas menikmati setiap inci tubuh indahmu. Jadi, anggap saja apa yang aku berikan selama ini adalah bayaran untuk semua layananmu. Terima kasih," tutur Aditya sambil menyeringai licik.


"Ka-kamu!!! Jadi, kamu menganggapku seolah-olah aku adalah seorang *******, begitu?" kesal Helen, seolah tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari bibir Aditya.


"Bukan aku yang bilang, tapi kamu sendiri."


Aditya pergi dari ruangan itu sambil tergelak sedangkan Helen begitu kesal, ia berteriak-teriak sambil mengumpat kasar.


"Kurang ajar kamu, Aditya!" teriaknya.


Aditya terus melangkah gontai menuju ruangannya. Tidak bisa ia pungkiri, saat ini hatinya hancur berkeping-keping setelah tahu bahwa orang yang sangat ia cintai, ternyata hanya mempermainkan dirinya.


"Mungkin ini adalah karma karena aku sudah menyakiti perasaan Nazia. Aku dipermalukan dan sekarang aku dikhianati. Lengkap sudah penderitaanku," gumamnya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Aditya."


Aditya mengangkat kepalanya dan ternyata Danish sudah berada di ruangannya dengan wajah berseri-seri.


"Se-selamat pagi, Tuan Danish."


"Duduklah, Aditya," titah Danish sembari menunjuk kursi di depan mejanya.


"Baik, Tuan."


Dengan kepala tertunduk, Aditya duduk di kursi yang letaknya tepat di depan meja Danish.


"Darimana saja kamu, Aditya? Kata Om Sid sudah dua hari kamu tidak masuk kerja. Apa kamu juga ikut-ikutan berbulan madu, sama sepertiku?" ucap Danish sambil memperhatikan Aditya yang masih tertunduk di hadapannya.


"Kenapa, Aditya. Katakan saja."


Danish menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya sambil memainkan sebuah pena. Matanya tajam menatap lelaki yang terlihat menyedihkan di hadapannya.


Aditya bangkit dari kursi tersebut dan mundur beberapa langkah ke belakang. Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan bersimpuh disana dengan tubuh bergetar.


"Maafkan saya, Tuan Danish. Saya sangat menyesal karena selama ini saya begitu sombong dan sangat mengagungkan jabatan saya sebagai Asisten pribadi Anda. Saya bahkan sampai menghina seorang wanita hanya karena dirinya berasal dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan seperti saya. Maafkan saya, Tuan."


Aditya tidak mampu lagi membendung airmata penyesalannya agar tidak tumpah. Ia bahkan tidak sanggup mengangkat kepalanya dihadapan Danish karena malu yang amat sangat.


Danish tersenyum. "Sebenarnya kesalahan fatal yang kamu lakukan bukan kepadaku, Aditya. Tetapi pada Nazia, gadis yang selama ini kamu hina dan kamu remehkan. Gadis yang kamu tinggalkan di hari pernikahan kalian."

__ADS_1


Kepala Aditya semakin tertunduk dalam. Beberapa tetes air mata jatuh dan membasahi celana mahalnya. Bibirnya bergetar hebat, bahkan sekedar berucap kata 'Maaf' pun ia sudah tidak sanggup.


Danish bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri Aditya kemudian meraih tubuh lelaki itu. "Bangunlah," titahnya.


Aditya pun mengikuti perintah Danish. Ia bangkit dan berdiri tepat di hadapan Big Bossnya itu, tetapi kepalanya masih tertunduk.


"Tapi, aku juga ingin berterima kasih padamu, Aditya. Karena kamu, aku dan Nazia akhirnya bisa bersatu," ucapnya sambil menepuk pundak Aditya.


Akhirnya Aditya memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan menatap wajah Big Bossnya itu. "Ma-maafkan saya, Tuan."


Danish kembali tersenyum. "Sebaiknya kamu ucapkan hal itu dihadapan Nazia. Karena orang yang kamu sakiti disini bukanlah aku, melainkan istriku, Dit."


"Ya, Tuan. Saya bersedia meminta maaf pada Nona Nazia, bahkan jika perlu saya akan berlutut padanya, asalkan Nona Nazia bersedia memaafkan saya," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Danish kembali tersenyum kemudian merengkuh tubuh Aditya yang masih bergetar. "Isteriku adalah wanita yang baik, Dit. Aku yakin dia pasti akan memaafkan semua kesalahan yang kamu lakukan padanya. Tapi, ingat! Jangan coba-coba mendekatinya lagi, karena Nazia adalah milikku dan akan tetap seperti itu selamanya," jawabnya sambil menggoda Aditya yang masih terisak.


Semarah apapun Danish kepada lelaki itu. Ia tidak dapat membencinya karena selama ini Aditya selalu menemaninya sejak pertama berkarier. Lelaki itu lebih dari sekedar Assisten baginya, tetapi sudah seperti sahabatnya sendiri. Seperti Daddynya dan Sid.


"Saya tidak akan melakukannya, Tuan. Saya tidak berani menyentuh apapun milik Anda, apalagi mencoba mendekati Nona Nazia," lirihnya.


"Baguslah kalau begitu,"


Danish kembali ke kursi kesayangannya kemudian memulai pekerjaannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2