
Di saat Aditya masih mengecek kondisi ban mobilnya, ia tidak sadar ada dua orang lelaki yang sedang menghampiri mobilnya. Adriela menyadari keberadaan kedua orang itu dan ia sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat dan perasaannya sudah mulai tidak nyaman. Apalagi di tempat itu tak ada seorangpun yang terlihat. Hanya mereka dan dua lelaki mencurigakan itu.
"Kak Aditya!" panggil Adriela.
Suara Adriela tidak terdengar oleh Aditya. Lelaki itu masih berada di belakang mobil. Ia masih belum menyadari bahwa dua orang lelaki bersenjata tajam tersebut sudah mendekati pintu mobil bagian depan, dimana Adriela sedang duduk di dalam sana.
"Kak Aditya!" lirih Adriela yang sudah tidak bisa membendung rasa takutnya ketika salah satu dari mereka mengintipnya dari balik kaca mobil. Apalagi sekarang lelaki itu mengetuk-ngetuk kaca mobil sambil menyeringai padanya.
"Hei, lihat! Ada seorang gadis cantik di dalam sana," ucap salah satunya.
Mendengar ada gadis cantik, teman lelaki itu juga ikut-ikutan mengintip di balik kaca.
"Wah, kamu benar! Ada gadis cantik didalam sana. Bisa kita kerjain, nih!" sahut lelaki itu.
Ketika kedua lelaki jahat itu mencoba membuka pintu mobilnya, Aditya tepat berada di belakang mereka. Ia terkejut dan sontak berteriak kepada mereka.
"Berhenti!!! Apa yang kalian lakukan?!"
Kedua lelaki itu menghentikan aksinya setelah mendengar teriakan Aditya. Mereka segera berbalik dan menyeringai menatap lelaki itu. Tak lupa, mereka mengacungkan senjata tajam yang sedang mereka pegang kepada Aditya.
"Heh, serahkan semua uangmu kalau tidak ingin celaka!" ancam salah satu dari mereka.
Aditya mengangkat kedua tangannya karena kedua lelaki itu mulai menodongkan pisau tersebut ke tubuhnya. Aditya memundurkan langkahnya dan mencoba menenangkan kedua lelaki itu.
"Baiklah, baiklah! Aku akan memberikan uangku tapi setelah itu pergilah," pinta Aditya.
__ADS_1
Aditya meraih dompet yang ia simpan di saku celananya kemudian mengambil sejumlah uang yang ada didalam dompet tersebut.
"Ah, lama! Serahkan semuanya!" Lelaki itu mengambil semua uang yang ada di dalam dompet Aditya.
"Jam tanganmu juga, kemarikan! Ponsel juga, mana sini!!!" titah lelaki itu.
Disaat lelaki itu sedang merampas sejumlah uang dan harta berharga milik Aditya. Salah satu temannya malah lebih berminat kepada Adriela. Ia membuka pintu mobil dan memaksa Adriela untuk keluar dari mobil tersebut.
"Kemarilah, Neng Manis! Temani abang, yuk! Abang janji tidak akan menyakiti Eneng asalkan Eneng bersedia melayani Abang sampai puas," ucapnya sambil menarik tangan Adriela yang mulai menangis histeris karena ketakutan.
"Kak Aditya! Tolong aku!!!" teriak Adriela sembari mencoba melepaskan cengkeraman lelaki itu.
Sontak saja Aditya menoleh dan melihat lelaki itu sedang menyeret Adriela dan berusaha membawa gadis itu le semak-semak. Aditya meradang, ia benar-benar marah bahkan sampai melupakan lelaki yang sedang mengacungkan senjata kepadanya.
"Lepaskan gadis itu!" teriak Aditya.
"Dasar bajing**, rasakan ini!!!"
Bukkk!!!
Pukulan pun mendarat dengan sempurna di wajah lelaki itu. Darah pun mengucur deras di hidung dan sudut bibirnya. Namun, tanpa sepengetahuan Aditya, lelaki yang tadi mengambil uang dan harta berharganya, menusukkan pisau dari arah punggung Aditya.
"Akh!!!" teriak Aditya ketika pisau tajam itu menembus punggungnya.
Rasa sakit yang amat sangat ketika benda tajam itu menembus kulitnya membuat tubuh Aditya meluncur ke tanah. Darah segar keluar dengan derasnya hingga membuat kepala Aditya terasa berputar-putar dan pandangannya pun semakin kabur.
__ADS_1
"Kak Aditya!" teriak Adriela dengan tubuh bergetar.
Adriela segera berlari dan menghampiri Aditya yang sudah tergeletak di atas tanah. Sedangkan kedua lelaki itu hanya menatapnya dengan wajah panik.
"Kenapa kamu menusuknya?"
"Aku refleks! Aku hanya mencoba melindungimu."
"Sebaiknya kita kabur sebelum ada yang melihat kita!"
Kedua lelaki jahat itupun segera pergi dan meninggalkan Aditya serta Adriela yang masih dalam keadaan panik dan butuh pertolongan segera.
"Tolong!!!" teriak Adriela di sela isak tangisnya.
"Kak Aditya, bertahanlah! Aku mohon ...," lirih Adriela sembari meletakkan kepala Aditya di pangkuannya.
"Kamu tidak apa-apa 'kan, Driel?" tanya Aditya dengan terbata-bata dan mencoba menatap Adriela yang masih menangis lirih.
"Aku tidak apa-apa, Kak! Justru Kakak lah yang harus di khawatirkan disini. Bertahanlah, Kak! Semoga saja sebentar lagi ada yang lewat," ucap Adriela sambil menyeka air matanya.
Adriela menoleh ke kanan dan ke kiri hingga ia melihat secercah harapan. Sebuah pancaran cahaya lampu mobil terlihat di kejauhan dan ia berharap orang itu bisa membantunya.
"Kak, Kakak tunggu disini sebentar, ya! Aku akan cari pertolongan,"
Adriela mengangkat kepala Aditya dan meletakkannya ke tanah sedangkan ia segera berlari menuju cahaya mobil yang sepertinya semakin mendekat padanya. Gadis itu berdiri di tengah jalan kemudian mengangkat tangan sambil melambai-lambai kepada mobil yang akan melewatinya.
__ADS_1
...***...