
Beberapa hari kemudian,
Ditengah perjuangan antara hidup dan mati, Tuan Rendra sadar. Orang pertama yang ia ingat hanyalah Naila. Dan hal itu membuat hati Nyonya Rita hancur.
"Naila ... Ayah minta maaf, Nak."
Keanu menghampiri Tuan Rendra yang masih tergolek lemah dengan mata terpejam. "Naila ada disini, Tuan Rendra. Sekarang, bukalah mata anda dan lihatlah."
Keanu meminta Naila untuk mendekat. Namun, wanita muda itu masih enggan menghampiri lelaki itu. Naila menggelengkan kepalanya pelan dan tak bergerak sedikitpun dari posisinya berdiri.
"Ayolah, Naila!" bujuk Keanu sembari mengulurkan tangannya.
Naila menoleh kearah Tante Mira dan Tantenya itu hanya mengangkat bahunya. Ia menyerahkan semuanya kepada Naila. Naila menghembuskan napas berat kemudian perlahan ia menghampiri Tuan Rendra.
"Ini saya, Naila," ucap Naila ketika ia sudah berdiri disamping Tuan Rendra.
"Na-Naila?!" Tuan Rendra perlahan membuka matanya. Ia tersenyum hangat sambil menatap wajah sendu Naila.
"Maafkan Ayah, Naila. Ayah tau, mungkin sangat berat bagimu memaafkan semua kesalahan Ayah selama ini. Namun, Ayah mohon, di detik-detik terakhir Ayah. Ayah ingin Naila bersedia memaafkan Ayah. Agar Ayah bisa kembali dengan tenang kepada-Nya," ucap Tuan Rendra dengan terbata-bata.
Tak sepatah katapun yang terucap dari bibir Naila. Namun, cairan bening itu terus jatuh dari pelupuk mata dan mengalir dikedua pipinya.
"Naila, maukah kamu memberi maaf untuk Ayah?" tanya Tuan Rendra sekali lagi.
Akhirnya Naila pun mengangguk. Walaupun ia tidak tahu apakah yang ia lakukan itu benar atau salah. "Semoga Ibu juga senang dengan keputusan Naila kali ini," batin Naila.
Tuan Rendra tersenyum lebar kemudian mengulurkan tangannya kepada Naila. Naila sempat menatap uluran tangan Tuan Rendra. Walaupun ia ragu, tetapi ia tetap menyambutnya. Tuan Rendra tersenyum lebar ketika Naila bersedia menyambut uluran tangannya.
"Terima kasih, Naila ..."
__ADS_1
Jari jemari yang tadinya menggenggam tangan Naila dengan erat, kini melemah. Senyuman lebar yang tadi ia pancarkan, kini mulai meredup. Netra yang tadinya terbuka lebar, kini kembali terpejam. Deru napas yang terdengar sangat jelas, kini menghilang.
Tuan Rendra akhirnya menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang tanpa beban. Wajahnya bahkan seperti orang yang masih tertidur.
Keanu panik, ia kembali menghampiri Tuan Rendra dan mencoba mengecek keadaannya. Sedangkan Sid, lelaki itu segera memanggil Dokter untuk memastikan keadaan Tuan Rendra.
Naila dengan wajah pucat memperhatikan Keanu yang mengecek nadi Tuan Rendra. Setelah beberapa detik berikutnya, wajah Keanu mendadak sendu.
"Bagaimana?!" tanya Naila kepada Keanu.
Diwaktu yang bersamaan, Dokter yang bertugas menangani Tuan Rendra pun tiba. Ia bergegas menghampiri Tuan Rendra. Sedangkan Keanu segera menjauh dan mempersilakan Dokter itu untuk melakukan tugasnya.
Dokter mulai mengecek keadaan Tuan Rendra dan setelah beberapa saat, Dokter itupun menggelengkan kepalanya sama seperti Keanu.
"Maafkan, saya Tuan, Nyonya, Tuan Rendra sudah tiada," ucap Dokter dengan wajah sendu menatap semua orang yang ada di ruangan itu secara bergantian.
Nyonya Rita menangis histeris. Ia tidak menyangka bahwa suaminya akan lebih dulu meninggalkan dirinya. Dan yang lebih malangnya lagi, Anaknya lah yang telah menjadi penyebab kematian suaminya.
Bukan hanya Nyonya Rita, Naila pun turut sedih. Ia bahkan belum sempat mendapatkan belaian dari sang Ayah. Namun, Ayahnya sudah lebih dulu meninggalkannya.
"Maafkan Naila, Yah!" lirih Naila sembari menatap Tubuh Tuan Rendra.
Tente Mira menghampiri Naila kemudian memeluk tubuh mungilnya. "Yang sabar ya, Naila."
"Tante, Ayah bahkan belum sempat melihat kedua cucunya, sama seperti halnya Ibu," lirih Naila sembari menyeka air matanya.
***
Setelah membayar Administrasi di Rumah Sakit, Tuan Rendra pun dibawa pulang dan bersiap untuk di makamkan.
__ADS_1
Nyonya Rita tiada hentinya menangis, sejak dari Rumah Sakit hingga ke areal Pemakaman. Dengan mata sembab, Nyonya Rita masih setia menemani Tuan Rendra, bahkan hingga tubuh lelaki itu ditimbun oleh tanah.
Satu persatu Pelayat pun mulai pamit. Begitupula, Keanu dan Tante Mira. Kini tinggal Naila dan Nyonya Rita yang masih bertahan di makam Tuan Rendra. Sedangkan Adnan, dia menunggu Naila disamping mobilnya dan terus memperhatikan kedua wanita itu.
Nyonya Rita masih terisak disamping makam Suaminya. "Kenapa kamu meninggalkan aku, Yah? Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku, walau apapun yang terjadi," lirih Nyonya Rita sambil merapikan bunga-bunga yang berhambur diatas makam.
Naila terus memperhatikan Nyonya Rita yang begitu terpukul atas kepergian Suaminya. Ia merasa iba walaupun wanita itu tidak pernah menyukai dirinya.
"Nyonya Rita, ikhlaskan lah Suami anda pergi. Agar dia bisa tenang disana," ucap Naila tanpa bergerak dari posisinya yang berdiri dibelakang Nyonya Rita.
Nyonya Rita agak terkejut. Ia kira semua orang sudah pulang. Ia menoleh kebelakang dan ternyata Naila lah yang masih berdiri dibelakangnya.
"Naila? Aku kira kamu sudah pulang." Nyonya Rita perlahan menyeka air matanya yang masih mengalir di pipinya.
"Kemarilah, Naila. Ada yang ingin Tante bicarakan sama kamu. Ini tentang Ayahmu, Tuan Rendra," sambung Nyonya Rita sembari menepuk ruang kosong disampingnya.
Naila sempat ragu, namun akhirnya diapun mendekat dan berdiri disamping Nyonya Rita.
Nyonya Rita mengembuskan napas berat. Ia meraih pundak Naila kemudian merengkuhnya.
"Tante ingin menceritakan cerita tentang Ayahmu, Nai. Bolehkan?" tanya Nyonya Rita kepada Naila.
Naila pun menganggukkan kepalanya, setelah ia yakin bahwa Nyonya Rita tidak punya niat buruk terhadapnya.
"Naila, Suami pertamaku dulu bekerja sebagai orang kepercayaan Rendra, Ayahmu. Namun, karena suatu hal, Suamiku mengalami kecelakaan akibat kelalaian Rendra. Dan disaat-saat terakhirnya, Suamiku meminta Ayahmu untuk menjaga dan melindungiku. Karena saat itu aku tengah mengandung dan tidak memiliki siapapun lagi. Demi janjinya kepada almarhum suamiku, ia rela menikahiku setelah aku melahirkan Melisa. Aku merasa bahagia ketika bersama Rendra, karena Rendra begitu baik dan juga penyayang. Apalagi kepada Melisa, ia menyayangi Melisa sama seperti anaknya sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika Ayahmu jatuh cinta pada Ariana, Ibumu. Ia memilih menikahi gadis itu walaupun aku dan keluarga besar Ariana sudah melarang mereka. Melisa yang saat itu masih berusia 5 tahun, jatuh sakit dan masuk Rumah Sakit karena terkejut setelah mendengar Rendra menikah lagi. Setelah itu, Ayahmu kembali lagi kepada kami dan bersedia meninggalkan Ibumu karena Melisa memintanya untuk tetap tinggal bersama kami. Ia tidak tega karena saat itu kondisi Melisa benar-benar memprihatinkan. Sejak saat itu, Rendra fokus pada keluarga kami dan melupakan Ibumu," tutur Nyonya Rita dengan mata berkaca-kaca.
Namun, apapun alasan Ayahnya saat itu, Naila tetap tidak habis pikir. Kenapa Tuan Rendra tidak pernah mencari tahu bagaimana kehidupan Ariana sesudahnya.
"Seharusnya, saat itu Tuan Rendra mengembalikan Ibuku kepada keluarganya dan bukan membiarkan ia hidup luntang-lantung seorang diri. Bukankah saat itu Tuan Rendra sudah tahu bahwa Ibuku rela meninggalkan keluarga besarnya demi dirinya?!" kesal Naila
__ADS_1
"Maafkan kami, Naila. Itulah kesalahan terbesar yang sudah kami lakukan terhadap Ibumu," lirih Nyonya Rita.
...***...