
Beberapa hari kemudian.
"Malam ini, Pak Dodi akan berkunjung kesini, Nazia. Mereka ingin melamarmu," tutur Bibinya.
"Zia harus bagaimana, Bi? Sebenarnya Zia tidak ingin menerima pernikahan ini, tapi Zia tidak bisa menolaknya karena ini adalah permintaan terakhir Ayah," lirih Nazia.
Bi Narti menghampiri Nazia kemudian mengelus pundak gadis itu. "Yang sabar ya, nduk."
"Ya, sudah. Zia mau berangkat dulu. Dah, Bi!"
"Hati-hati di jalan ya, Nduk!"
"Ya!"
Nazia kembali mengayuh sepedanya menuju tempat kerja. Walaupun kepalanya sedang mumet karena memikirkan perjodohannya dengan lelaki yang sama sekali tidak ia kenali, tetapi ia harus tetap semangat dan tidak boleh uring-uringan. Karena sekarang Nazia adalah tulang punggung untuk dirinya sendiri dan juga Bibinya.
Seperti biasa, setelah tiba di toko tersebut, Nazia segera memulai aktivitasnya. Ia tidak menyadari ketika Danish kembali memperhatikan dirinya dari kejauhan. Lelaki itu menyunggingkan sebuah senyuman hangat ketika menyaksikan Nazia yang begitu semangat dengan pekerjaannya.
Setibanya di Kantor, Danish sudah disambut oleh Asistennya, Aditya. Lelaki yang kini menjabat sebagai Asisten pribadi sekaligus sahabat bagi Danish.
"Selamat pagi, Tuan Danish," sapa Aditya.
Danish memperhatikan raut wajah Aditya pagi ini yang nampak berbeda dari biasanya. "Selamat pagi, Dit. Ehm, wajahmu terlihat berseri-seri. Ada apakah gerangan?!" goda Danish.
__ADS_1
Tersungging sebuah senyuman di bibir Aditya. Ternyata lelaki itu memang sedang berbahagia dan itu terlihat jelas dari aura wajahnya di pagi ini. Setelah Danish duduk di kursi kesayangannya, Aditya pun ikut menjatuhkan tubuhnya di sofa yang terletak tepat di depan meja Danish.
"Saya sedang berbahagia, Tuan Danish! Akhirnya Helen menjadi milik saya!" seru Aditya sambil tersenyum puas. Seperti itulah Aditya, lelaki itu tidak sungkan membicarakan masalah pribadinya kepada Danish.
"Helen? Dia menerima cintamu?" tanya Danish sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ya, Tuan! Saya jadi tambah semangat bekerja hari ini karena saya begitu bahagia!" ucap Aditya sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Hmm, kalau begitu selamat! Semoga kalian langgeng dan jangan lupa, segera ke pelaminan! Jangan pernah bermain sebelum sah, ya!" tutur Danish.
Aditya menatap wajah Danish yang nampak serius ketika memberitahu dirinya tentang 'Bermain Sebelum Sah'. Ia salut kepada seorang Danish. Lelaki itu bahkan mampu menjaga dirinya dari pergaulan bebas. Padahal lelaki seperti Danish bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan, tetapi lelaki itu tetap memilih untuk menghindari pergaulan seperti itu.
Bahkan Aditya sendiri tidak bisa menampik bahwa dirinya pun sudah sering kebablasan ketika menjalin hubungan dengan seorang wanita.
. . .
Waktu terus berputar, Danish dan Aditya masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, begitupula Nazia. Gadis itu masih sibuk menawarkan bunga-bunga yang ia jual kepada orang-orang yang lewat di depan tokonya.
Hingga malam pun menjelang.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Nazia segera berpakaian. Seperti yang dikatakan oleh Bi Narti, malam ini keluarga pak Dodi akan berkunjung ke rumahnya. Mereka ingin melamar Nazia untuk menjadi menantu mereka.
Zia meraih pakaian yang menurutnya paling bagus. Ia juga merapikan rambut serta memoleskan sedikit bedak ke wajahnya. Tepat disaat itu, Bi Narti masuk kedalam kamar. Wanita paruh baya itu menghampiri Nazia kemudian duduk disampingnya.
__ADS_1
"Sekarang apa keputusanmu, Nazia?" tanya Bi Narti.
"Entahlah, Bi. Nazia belum yakin." sahutnya.
Sementara itu di kediaman Pak Dodi.
"Ayah tidak mau tahu, Aditya! Pokoknya kamu dan anak gadis Pak Yusuf harus segera menikah. Ayah sudah berjanji kepada Pak Yusuf sebelum dia meninggal, bahwa Ayah akan secepatnya menikahkan kalian!" kesal Pak Dodi kepada anak semata wayangnya, Aditya. Yang selalu menolak perjodohan itu karena ia sudah memiliki pilihan lain untuk dijadikan istrinya.
"Tidak bisa, Ayah! Aku mencintai wanita lain, lagipula kita tidak tahu bagaimana sifat gadis itu, 'kan?" tegasnya.
"Kami sudah tahu bagaimana sifat dan prilaku gadis itu, Nak. Dia gadis yang baik dan juga cekatan. Sekarang gadis itu tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Bibinya, yang sekarang juga sedang sakit-sakitan. Tidak ada salahnya kamu terima perjodohan ini, cinta bisa datang belakangan, Aditya. Ayah dan Ibu yakin, suatu saat kamu pasti bisa membuka hatimu untuk gadis itu. Lagipula dia gadis yang cantik lo, Nak," bujuk sang Ibu sembari mengelus pundak Aditya.
"Huft!" Aditya mendengus kesal.
Namun, jika sang Ibu sudah bicara. Sekesal dan semarah apapun Aditya, lelaki itu akan luluh mendengar ucapan Ibunya.
"Baiklah, malam ini kita temui gadis itu! Dan Aditya berharap gadis itu sama seperti yang Ibu katakan. Yang jelas, tidak akan mengecewakan Aditya!" ucapnya seraya bangkit dari tempat duduknya kemudian melengos menuju kamarnya.
"Bagaimana ini, Ayah? Apakah ini adalah pilihan yang tepat untuk Aditya dan gadis itu?" ucap Istri Pak Dodi dengan wajah sendu.
"Percayalah, Bu. Ayah yakin dengan pilihan Ayah. Gadis itu pasti bisa membuat Aditya bahagia, daripada wanita-wanita tidak jelas yang sering datang bersamanya," tutur Pak Dodi.
...***...
__ADS_1