
Akhirnya Melisa diperbolehkan pulang. Kini mereka tengah di perjalanan menuju kediaman mereka. Keheningan terjadi disepanjang perjalanan. Baik Melisa maupun Keanu, sama-sama tidak bicara sepatah katapun.
Setelah beberapa saat, akhirnya merekapun tiba di halaman depan rumah mereka. Keanu membuka pintu mobil kemudian melenggang pergi begitu saja tanpa mempedulikan Melisa yang masih terdiam. Dengan tatapan sendu, ia menatap punggung Keanu yang berjalan mendahuluinya.
"Mari, Nona," ajak Sid kepada Melisa yang tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
Melisa menganggukan kepalanya kemudian melangkahkan kakinya dengan perlahan memasuki kediaman Keanu. Rumah yang menjadi tempatnya bernaung selama beberapa bulan terakhir, kini terasa asing untuknya. Tidak seperti dulu, dengan perasaan bahagia melangkahkan kakinya menyusuri ruangan itu. Namun, kini ia merasakan kehampaan ketika memasuki rumah itu.
"Mel, aku ingin bicara," ucap Keanu ketika Melisa berjalan melewati ruang tengah, dimana Keanu sudah duduk di sofa empuknya.
Dengan ragu, Melisa menghampiri Keanu dan duduk disampingnya. Melisa sempat beberapa kali memperhatikan wajah kusut Keanu saat itu. Yang sama sekali tidak ingin melihat kepadanya.
Terdengar Keanu menghembuskan napas beratnya sebelum ia memulai pembicaraan mereka. "Mel, aku tidak percaya kamu tega membohongi aku selama ini," ucap Keanu sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Sayang. Aku berbohong apa? Aku selalu berkata jujur padamu, Keanu," kilah Melisa dengan wajah tidak bersalah sama sekali.
"Sudah cukup, Melisa!!!" bentak Keanu seraya bangkit dari tempat duduknya kemudian berdiri tepat di hadapan wanita itu.
"Jangan pernah mencoba membohongiku lagi! Aku sudah muak dengan mu!" sambung Keanu dengan wajah memerah menatap Melisa.
"Aku bersumpah, Sayang! Aku tidak pernah berbohong padamu," ucap Melisa, mencoba meyakinkan Keanu.
Keanu semakin emosi, ia meraih pas bunga yang berada diatas meja kemudian melemparkannya ke lantai.
Prannkkk....!!!
Vas bunga itupun pecah. Melisa bahkan sempat berteriak karena ketakutan. Ini pertama kalinya ia melihat Keanu semarah itu kepadanya.
"Sekarang aku bertanya padamu, Melisa! Bagaimana bisa usia kandunganmu melebihi usia pernikahan kita! Katakan!!!" teriak Keanu disamping telinga Melisa yang masih ketakutan.
"A-aku," Melisa terbata-bata
__ADS_1
"Aku, apa?! Sekarang apa lagi alasanmu? Pantas saja kamu tidak pernah mengizinkan aku ikut masuk ke ruang praktek Dokter Kandungan, karena selama ini kamu takut usia kehamilan mu ketahuan, 'kan!" hardik Keanu
Melisa terisak seraya memeluk perutnya. "Kenapa kamu menuduh ku seperti itu, Keanu? Anak ini adalah anakmu, percayalah padaku!" sahut Melisa dengan bercucuran airmata.
Keanu tergelak mendengarnya jawaban Melisa. "Astaga, Mel! Disaat seperti ini kamu masih bisa berkilah dan dengan begitu yakinnya kamu mengatakan bahwa anak itu adalah milikku," kesal Keanu.
"Jujur saja, Mel. Anak siapa yang sedang ada di kandunganmu? Katakan!!!" sambungnya.
Melisa menundukkan kepalanya. Ia terisak sambil terus mengelus perutnya. "Tolong, Keanu! Beri aku waktu hingga anak ini lahir untuk membuktikan bahwa anak ini adalah anakmu! Kita lakukan tes DNA setelah ia lahir, kumohon ..." lirih Melisa.
"Aku rasa tidak perlu lagi, Melisa. Semuanya sudah jelas," sahut Keanu.
Melisa turun dari tempat duduknya kemudian bersimpuh di lantai sambil memeluk kaki Keanu. "Aku mohon, berilah aku kesempatan! Hanya sampai anak ini lahir, Keanu! Ku mohon," lirihnya.
Keanu membuang napas kasar kemudian melepaskan kakinya dari pelukan wanita itu. "Baiklah, hanya hingga bayi ini lahir! Dan jika terbukti bahwa anak ini bukanlah anakku, maka detik itu juga aku akan menceraikanmu!" jawabnya kasar.
Melisa mengangkat kepalanya dan menatap wajah Keanu yang masih memerah. "Ya, kamu bisa menceraikan aku jika terbukti bahwa anak ini bukanlah anakmu," ucap Melisa.
Iapun bergegas menuju kamarnya dan meninggalkan Melisa di ruangan itu sendirian. Setelah Keanu menghilang dari pandangannya, Melisa segera menyusul lelaki itu ke kamarnya.
Namun, betapa terkejutnya ia ketika membuka pintu kamar yang mereka tempati selama ini. Keanu mengeluarkan semua pakaian miliknya dan melemparnya keatas koper.
"Bawa semua barang-barangmu keluar dari kamar ini! Aku tidak ingin sekamar denganmu lagi!" titah Keanu.
Melisa memunguti barang-barang miliknya yang dilemparkan oleh Keanu dan berserakan dilantai kamar itu. Ia terisak sambil merapikan barang-barangnya dan memasukkannya kedalam koper.
"Kamu keterlaluan, Keanu," lirih Melisa.
"Kamu yang keterlaluan, Melisa! Kau menipuku selama ini. Aku sudah berusaha ikhlas menerima keadaanmu walaupun kamu bukanlah seorang gadis disaat malam pertama kita, tapi kali ini aku tidak bisa menerimanya, Mel! Aku tidak bisa menerima anak yang bukan darah dagingku!" teriak Keanu sembari melemparkan pakaian Melisa ke hadapannya.
"Sudah aku katakan anak ini adalah anakmu, Keanu," sahut Melisa
__ADS_1
"Tidak usah banyak bicara, sekarang rapikan saja barang-barangmu dan bawa ke kamar lain. Aku sudah tidak sudi tidur sekamar denganmu," ucap Keanu.
Setelah semua barang-barang milik Melisa berhasil ia keluarkan, iapun segera keluar dari kamarnya dan membiarkan Melisa sendirian disana.
Sementara itu di kediaman Tante Mira,
"Bagaimana menurutmu, Adnan?" tanya Tante Mira soal keinginan Naila yang ingin pergi menjauh.
Adnan terdiam sejenak sambil berpikir. "Jika hal itu bisa membuat Naila tenang, aku rasa tidak ada salahnya untuk dicoba," sahut Adnan.
"Lalu kita akan membawanya kemana? Tante jadi bingung," ucap Tante Mira sembari memijit keningnya.
"Ehm, bagaimana jika kita membawanya keluar negeri dan kita bisa melanjutkan sekolahnya disana." Adnan mencoba memberikan saran kepada Tante Mira.
"Kamu benar, Adnan. Tapi kita coba tanya Naila dulu, apa dia bersedia," sahut Tante Mira.
Tepat disaat itu Naila sudah turun dari kamarnya dan menghampiri mereka yang sedang bersantai di ruang tengah.
"Nah, kebetulan sekali. Naila, sini duduklah disamping Tante." Tante Mira menepuk ruang kosong disampingnya agar Naila duduk disana.
Naila pun duduk disamping Tante Mira sambil melemparkan senyuman hangatnya kepada kedua orang itu.
"Nai, apa kamu setuju jika kita pergi keluar negeri dan tinggal disana untuk sementara waktu? Dan kamu tenang saja, Tante akan menemanimu selama disana," ucap Tante Mira.
Naila nampak berpikir keras. Ia sempat ragu karena ia sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya ke negara orang. Jangankan keluar negeri, keluar kotapun ia bahkan tidak pernah. Hidupnya yang serba kekurangan tidak memungkinkan dirinya melakukan perjalanan seperti orang lain.
"Sebenarnya Naila mau, tapi ... Naila tidak mengerti bahasa mereka, Tante. Bagaimana jika mereka mengajak Naila bicara, lalu bagaimana Naila harus menjawabnya?" tutur Naila.
Tante Mira dan Adnan terkekeh pelan setelah mendengar penuturan Naila. "Jangan khawatirkan masalah itu, Naila sayang. Kita akan belajar sedikit demi sedikit. Dan Tante yakin, kamu pasti bisa!" sahut Tante Mira sembari melemparkan senyuman hangatnya kepada wanita muda di hadapannya.
Akhirnya Naila pun menganggukkan kepalanya walaupun ia belum yakin dengan keputusannya kali Ini. Yang ia harapkan cuma satu, menjauh dari Keanu. Agar lelaki itu tidak akan merebut kedua anaknya.
__ADS_1
...***...