
Beberapa minggu kemudian,
Setelah membantu Adnan mandi dan berpakaian, ia pun segera menuntun lelaki itu menuju ruang makan.
"Terima kasih, Sayang," ucap Adnan ketika Arumi selesai memposisikan kursi rodanya dengan benar didepan meja makan.
"Sama-sama," sahut Arumi sembari memasukkan makanan keatas piring kosong milik Adnan.
Adnan memperhatikan wajah Arumi saat itu, wajahnya terlihat pucat dan membuat Adnan khawatir.
"Sayang, beberapa hari ini kuperhatikan wajahmu terlihat pucat. Kenapa? Apa sakitmu kambuh lagi?" tanya Adnan dengan wajah cemas.
Arumi tersenyum sembari meletakkan piring yang sudah ia isi dengan makanan ke hadapan Suaminya itu. "Tidak mungkinlah, Mas. Kata Dokter Fahri kondisi paruku sudah membaik walaupun aku harus tetap jaga pola makan dan cek rutin sama dia. Tapi, entahlah ... beberapa hari ini aku merasa aneh. Kadang kepalaku terasa pusing, kadang perutku yang merasa tidak enak, apa mungkin aku Maag, ya, Mas?"
Adnan mengerutkan alisnya. "Maag? Kamu, 'kan makannya teratur. Rasanya tidak mungkin kamu kena Maag. Sebaiknya kita panggil Dokter dan memeriksa keadaanmu," sahut Adnan.
"Baiklah, tapi kita sarapan dulu, ya!" Arumi kembali tersenyum sembari menyuap makanannya.
Selang beberapa saat, akhirnya sarapan merekapun selesai. Pelayan segera merapikan meja makan yang berantakan. Sedangkan Arumi kembali mendorong kursi roda Adnan menuju halaman depan. Mereka ingin bersantai sembari merasakan hangatnya cahaya matahari pagi.
Namun, belum sempat Arumi melangkahkan kakinya melewati pintu utama, tiba-tiba ia merasakan pusing yang amat sangat di kepalanya.
"Mas, akhh ..." pekik Arumi sembari memegang kepalanya yang sakit. Perlahan Arumi berjongkok disamping kursi roda Adnan.
"A-Arumi? Kamu kenapa, Sayang?!" Adnan panik, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kepalaku sakit!" sahut Arumi sambil menahan rasa sakitnya, hingga akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri disamping kursi roda Adnan.
"Arumi!!!" teriak Adnan.
Adnan frustrasi karena ketidak berdayaannya. Ia memanggil-manggil nama Arumi dan mencoba membangunkan Arumi yang tergeletak disamping kursi rodanya. Namun, Arumi tetap tidak sadarkan diri.
"Pak Budi! Tolong!!!" teriak Adnan. Namun, saat itu Pak Budi sedang berada dibelakang rumah dan tidak mendengar teriakan Adnan. Sedangkan Penjaga keamanan yang berjaga di depan rumahnya sudah pulang untuk pergantian shift.
Adnan mencoba menggerakkan kakinya, tetapi kakinya sama sekali tidak merespon. Adnan memaksakan dirinya untuk bangkit dari kursi roda dan akhirnya iapun terjatuh bersama kursi rodanya tepat disamping Arumi.
"Arumi, Sayang ..." lirih Adnan sembari menitikkan air matanya. Dia kesal, marah dan merasa putus asa. Disaat istrinya membutuhkan perannya sebagai suami, ia malah tidak berdaya dengan kondisinya yang seperti itu.
__ADS_1
Adnan membangunkan tubuhnya kemudian meraih tubuh Arumi yang tidak berdaya. Dengan perlahan, Adnan merebahkan Arumi keatas pangkuannya.
"Arumi, sadarlah ...." Adnan menepuk-nepuk kedua pipi Arumi dengan perlahan agar Arumi sadar. Namun, sepertinya usahanya sia-sia saja. Ia tidak bisa membangunkan Istrinya itu.
"Tuan, Nona kenapa?!" Tiba-tiba Pak Budi datang menghampirinya dengan wajah cemas.
"Pak Budi, syukurlah .... Tolong, Pak. Tolong angkat istri saya dan bawa masuk kedalam kamar," pinta Adnan.
"Baik, Tuan."
Pak Budi segera mengangkat tubuh Arumi kemudian meletakkannya keatas tempat tidur didalam kamar mereka. Setelah selesai membantu Arumi, Pak Budi kembali lagi kedepan dan membantu Adnan yang kesusahan memposisikan tubuhnya di kursi rodanya.
"Biar saya bantu, Tuan."
Pak Budi membantu Adnan kembali ke posisinya.
"Terima kasih, Pak." Adnan bergegas masuk kedalam kamar dengan menggunakan kursi rodanya. Ia meraih ponsel yang ada diatas nakas kemudian memanggil Dokter Fahri.
"Dok, bisa ke rumahku sebentar? Istriku jatuh pingsan dan aku tidak tahu kenapa?!"
Dokter Fahri pun menjawab dari seberang telepon. "Baiklah, Tuan Adnan. Saya segera kesana,"
Tidak berselang lama, Tante Mira dan Nyonya Rahma tiba disaat yang hampir saja bersamaan.
"Apa yang terjadi pada Arumi? Kenapa dia sampai jatuh pingsan?! Apa dia terlalu lelah? Apa penyakitnya kambuh lagi?!" Rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Nyonya Rahma karena saking paniknya melihat kondisi anak semata wayangnya.
Tante Mira menghampiri sahabatnya itu kemudian meraih pundaknya. "Jangan berpikiran seperti itu, Rahma. Sebaiknya kita berdoa, semoga Arumi baik-baik saja."
"Tapi, apa kamu tidak lihat kondisinya, Mira?! Lihat wajahnya! Wajahnya begitu pucat," lirih Nyonya Rahma dengan wajah cemas.
Tepat disaat itu, Dokter Fahri pun tiba. Pak Budi segera menuntun sang Dokter menuju kamar Majikannya itu.
"Selamat pagi, Tuan Adnan," sapa Dokter Fahri sembari melangkah menghampiri Arumi yang terbaring lemah diatas tempat tidurnya.
Tanpa basa-basi, Dokter Fahri segera memeriksa keadaan Arumi. Setelah mengecek keadaan Arumi saat itu, Dokter itu bisa memastikan Pingsannya Arumi bukan dikarenakan oleh penyakitnya.
Dokter Fahri terdiam sejenak sambil berpikir keras. Kemudian setelah beberapa saat, iapun membuka suaranya.
__ADS_1
"Kapan terakhir kali Arumi mendapatkan tamu bulanannya?" tanya Dokter Fahri.
Sontak saja, pertanyaan Dokter Fahri membuat ketiga orang yang ada diruangan itu kebingungan, terlebih lagi Adnan.
"Entahlah, Dok. Saya tidak pernah menanyakan hal itu kepadanya," lirih Adnan dengan wajah cemas.
"Memangnya kenapa, Dok?! Arumi sakit apa?!" tanya Nyonya Rahma.
"Sebenarnya saya curiga bahwa Nona Arumi sedang hamil, tetapi saya tidak bisa memastikan apakah hal itu benar, karena hal itu bukanlah bidang saya. Sebaiknya kalian panggil saja Dokter Spesialis Kandungan agar bisa memastikannya," tutur Dokter Fahri.
"Arumi hamil?!" pekik Adnan.
Perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Ia sangat bahagia, tetapi ia juga sedih karena keadaannya yang seperti itu.
"Saya tidak bisa memastikan kebenaran itu, Tuan Adnan. Seperti saran saya, sebaiknya anda hubungi Dokter Spesialis Kandungan untuk memeriksa keadaan Arumi lebih lanjut."
"Baiklah,"
Adnan meminta nomor Dokter Spesialis Kandungan kepada Dokter Fahri dan Dokter Fahri pun segera memberikannya. Setelah berhasil menghubungi Dokter Spesialis Kandungan itu, Dokter Fahri pun pamit. Kini mereka tinggal menunggu kedatangan Dokter Spesialis Kandungan itu untuk memeriksakan kondisi Arumi.
Tidak berselang lama, Arumi pun tersadar. Ia nampak kebingungan karena Ibu dan Tante Mira juga berkumpul didalam kamarnya.
"Ada apa ini?!" lirih Arumi sembari menahan rasa sakit di kepalanya yang tidak juga kunjung reda.
Arumi memperhatikan raut wajah kedua wanita paruh baya itu dengan seksama. Wajah mereka terlihat berseri-seri ketika menatapnya, begitupula Suaminya.
"Sebenarnya kalian kenapa?!" tanya Arumi keheranan.
"Arumi sayang, kapan kamu mendapat tamu bulanan?" tanya Ibunya.
Arumi menautkan kedua alisnya sembari berpikir. "Entahlah, memang kenapa? Tapi sepertinya Arumi memang terlambat bulan ini," sahut Arumi, masih dengan wajah heran.
"Aakhh!" jerit kedua Wanita paruh baya itu dan kemudian saling berpelukan. Wajah mereka semakin berseri-seri setelah mendengar jawaban Arumi.
"Kalian kenapa?" tanya Arumi heran.
...***...
__ADS_1
Hai, Readers ... mumpung senin, Author mau ngemis lagi nih! Ngemis vote buat yang bersedia ngasih 😍😍😍 yang sudah ngasih Author ucapkan terimakasih banyak, I love you.