Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Adnan Lumpuh


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya, Dok?!" tanya Arumi kepada Dokter Fahri yang menyambut kedatangannya di lobby Rumah Sakit.


"Maafkan aku, tetapi aku masih belum tahu bagaimana keadaannya sekarang."


Dokter Fahri segera menuntun Arumi menuju ruangan dimana Adnan dirawat. Dengan setengah berlari, Arumi mengikuti langkah Dokter Fahri.


"Tante Mira sudah menunggu disana," ucap Dokter Fahri sambil terus melangkahkan kakinya.


"Benarkah? Syukurlah kalau Tante Mira sudah tiba. Aku kasihan sama Mas Adnan, dia tidak memiliki siapapun lagi selain Tante Mira," sahut Arumi.


Setibanya didepan ruangan Adnan, Tante Mira bergegas menghampiri Arumi yang baru saja tiba ditempat itu. Tante Mira mengulurkan kedua tangannya kemudian memeluk tubuh Arumi sambil terisak.


"Arumi ...," lirih Tante Mira.


Arumi mengelus punggung Tante Rahma kemudian mengajak Wanita paruh baya itu kembali duduk di kursi tunggu.


"Arumi, maafkanlah semua kesalahan Adnan," lirih Tante Mira sembari mengelus lembut wajah Arumi.


Arumi terdiam sejenak seraya memperhatikan wajah sendu Tante Mira. "Tante, tanpa diminta pun Arumi tetap memaafkan semua kesalahan Mas Adnan. Tetapi, ...." Arumi kembali terdiam.


"Tapi kenapa, Sayang?!" tanya Tante Mira dengan mata berkaca-kaca menatap Arumi.


"Arumi takut Mas Adnan hanya kasihan kepada Arumi, Tante. Arumi tidak ingin kembali bersama Mas Adnan jika memang hati Mas Adnan bukanlah untuk Arumi," lirih Arumi.


Tante Mira mengembuskan napas berat sembari tersenyum kecut menatap Arumi. "Arumi sayang, menurut Tante, Adnan memang sudah mulai membuka hatinya untukmu. Buktinya, Adnan rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menemuimu. Bahkan hal itu ia lakukan setiap hari," tutur Tante Mira.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari dalam ruangan. "Akhhh!!!"


Arumi dan Tante Mira bergegas memasuki ruangan itu walaupun tanpa diperintahkan oleh Dokter yang sedang memeriksa keadaan Adnan.


"Kamu kenapa, Nak?!"


Tante Mira segera menghampiri Adnan kemudian memeluk tubuhnya dengan erat. "Tante, aku tidak bisa merasakan kakiku. Aku takut, Tante! Aku tidak ingin lumpuh!" ucap Adnan sambil menangis histeris.


"Apa yang terjadi pada Suamiku, Dok? Dia baik-baik saja, 'kan?!" tanya Arumi dengan wajah cemas menatap Dokter yang menangani Adnan.


Dokter itu menghembuskan napas berat kemudian menatap Arumi dengan tatapan sendu. "Tuan Adnan mengalami cidera serius pada kedua kakinya yang mengakibatkan kelumpuhan. Tetapi, kami masih belum bisa memastikan apakah Tuan Adnan hanya mengalami kelumpuhan sementara atau kelumpuhan secara permanen," tutur Dokter.


Arumi berbalik kemudian menatap Adnan yang masih terisak di pelukan Tante Mira. Ia benar-benar shok setelah mendengar penuturan dari Dokter tersebut.


"Mas Adnan ...," lirih Arumi.


"Mas, jangan berkata seperti itu,"


Adnan menyeka air matanya kemudian menatap lekat Arumi dan Dokter Fahri yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.


"Mungkin inilah saatnya untukmu berbahagia, Arumi. Aku akan secepatnya mengurus surat perceraian kita, kemudian berbahagialah. Aku doakan semoga kalian terus bahagia hingga maut memisahkan kalian," lirih Adnan


Arumi menautkan kedua alisnya, ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Suaminya itu. "Mas Adnan. Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Arumi.


Dokter Fahri menggelengkan kepalanya, ia sudah menduga hal ini sebelumnya. Apa yang ia khawatirkan ternyata benar-benar terjadi, Adnan sudah salah paham kepada dirinya.

__ADS_1


"Bukankah kalian sudah merencanakan pernikahan kalian?! Dan hari ini aku restui hubungan kalian dan secepatnya akan ku urus surat perceraian kita." lanjut Adnan.


Dokter Fahri sudah tidak sanggup menahan dirinya untuk tidak ikut campur. Namun, karena namanya ikut terseret, iapun mulai membuka suaranya.


"Maafkan saya, Tuan Adnan. Sepertinya Anda salah paham. Diantara kami tidak ada hubungan apapun. Hubungan kami hanya sebatas Dokter dan Pasien. Itu saja, tidak lebih! Dan saya tidak tahu darimana Anda mendapatkan informasi tentang pernikahan saya. Ya, saya memang akan segera menikah, tetapi bukan dengan Nona Arumi. Saya akan menikah dengan wanita pilihan saya, Dokter Lisa. Dokter yang dulu menangani Arumi sebelum saya," tutur Dokter Fahri sembari menahan rasa kesalnya kepada Adnan yang sudah menuduhnya.


"Be-benarkah?! Jadi kalian tidak akan menikah?!" tanya Adnan terbata-bata.


Arumi dan Dokter Fahri menggelengkan kepala mereka bersamaan. Adnan sempat menyunggingkan sebuah senyuman, tetapi hanya seperkian detik saja. Setelah itu wajahnya kembali murung.


"Tapi, ... aku sudah cacat. Aku hanya akan menjadi beban untuk dirimu, Arumi." Adnan menundukkan kepalanya.


"Adnan, kita akan lakukan apapun untuk kesembuhanmu. Bahkan jika perlu, kita akan berobat keluar negeri!" ucap Tante Mira sambil mencoba menenangkan keponakannya itu.


Arumi menghampiri Adnan kemudian duduk disampingnya. "Mas, Arumi masih istrinya Mas Adnan, 'kan?!" tanya Arumi sambil tersenyum hangat menatap Adnan.


Adnan menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, Arumi. Kamu masih istriku," jawab Adnan


Arumi menggenggam tangan Adnan kemudian berucap, "Arumi bersedia kembali kepada Mas Adnan untuk merawat Mas hingga benar-benar sembuh," tutur Arumi.


Adnan tidak bisa menahan rasa terharunya. Ia menangis sembari meraih tubuh Arumi kemudian memeluknya dengan erat. "Terima kasih, Arumi!"


"Sekarang kamu sadar, 'kan Adnan?! Arumi itu benar-benar mencintai kamu tanpa mengharap apapun darimu. Disaat seperti ini, dia bahkan rela memilih dirimu dibanding aku sebagai Ibunya! Tapi sayangnya mata hatimu sudah dibutakan oleh cinta hingga tidak bisa melihat ketulusan yang Arumi berikan kepadamu,"


Tiba-tiba Nyonya Rahma muncul dari balik pintu dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Maafkan saya, Bu." lirih Adnan.


...***...


__ADS_2