
"Tidak apa, Nyonya. Lagi pula ini bukanlah kesalahan anda," sahut Naila seraya menyeka air matanya.
Tante Mira mengelus lembut puncak kepala Naila dan membiarkan gadis itu menyandarkan kepala ke dadanya. "Aku benar-benar merasa sangat bersalah, Naila. Seandainya saja aku tidak, akh ... aku memang sangat bodoh!" celetuk Tante Mira.
Naila menghela napas panjang. "Disaat-saat seperti ini, aku selalu mengingat sosok Ibuku, Nyonya. Mungkin Ibuku adalah seorang wanita yang paling tegar dan akupun tidak mampu mengalahkan ketegaran Ibuku dalam menghadapi semua masalah dalam kehidupannya," tutur Naila.
Tiba-tiba saja Nyonya Mira teringat akan ucapan Adnan soal Ibunya Naila tadi pagi. "Nai, bolehkah aku tahu siapa nama Ibumu?" tanya Tante Mira sambil menatap wajah Naila dengan tatapan serius.
"Ariana, nama Ibu saya Ariana, Nyonya ...." Naila membalas tatapan Tante Mira sambil tersenyum hangat.
Deg!!!
Tante Mira membulatkan matanya. Detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat dan kakinya seakan tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Naila bahkan menautkan kedua alisnya ketika menyaksikan ekspresi majikannya saat itu.
"Nyonya, anda kenapa? Apa anda baik-baik saja?" tanya Naila dengan wajah cemas.
"A-Ariana ... Emm, mana! Mana fotonya?! Aku ingin melihat foto Ibu mu, Naila!" ucap Tante Mira sembari mencari-cari keberadaan foto Ibunya Naila.
Naila semakin kebingungan melihat tingkah majikannya tersebut. Tidak biasanya Tante Mira bersikap seperti itu. Wanita itu biasanya selalu bersikap tenang dan membuat orang-orang di sekelilingnya merasa nyaman. Namun, kali ini Tante Mira malah bersikap sebaliknya. Ia sangat cemas sekaligus juga panik.
"Oh, Tuhan! Mungkinkah itu benar!" gumam Tante Mira dengan mata berkaca-kaca.
"Ehm, sebentar Nyonya, biar saya ambil foto Ibu saya." Perlahan Naila bangkit kemudian menghampiri laci meja yang ada disamping tempat tidurnya. Ia meraih foto kenangan pernikahan Sang Bunda bersama Tuan Rendra Hermawan.
Naila membawa foto itu kembali ketempat tidurnya kemudian menyerahkannya kepada Tante Mira. Tante Mira meraih foto tersebut dari tangan Naila dan setelah itu, ia memperhatikan foto itu dengan seksama.
"A-Ariana ..."
Tangan Tante Mira bergetar begitupula tubuhnya. Air matanya pun mengucur dengan derasnya mengalir dikedua belah pipinya. Tangis wanita itu semakin pecah sambil terus menyebut nama Ariana.
__ADS_1
Naila yang tidak tahu menahu, tentu saja begitu terkejut melihat ekspresi Tante Mira saat itu. Bahkan tangisnya sampai terdengar hingga ke telinga Adnan. Lelaki itu berlari menuju kamar Naila dan segera menghampiri Tante Mira yang masih menangis histeris.
"Naila, ada apa ini? Kenapa Tante Mira bisa menangis histeris seperti ini?" tanya Adnan sembari meraih tubuh Tante Mira kemudian memeluknya dengan erat.
Naila menggelengkan kepalanya perlahan. "Saya pun tidak mengerti, Tuan. Tiba-tiba saja Nyonya menangis seperti itu setelah melihat foto Ibu saya," sahut Naila dengan wajah cemas.
"Foto?!"
"Adnan, kamu benar! Mereka adalah orang yang sama! Dia adalah Ariana, Adikku!" ucap Tante Mira sambil terisak didalam pelukan Adnan.
"Apa?!" pekik Adnan, ia begitu terkejut mendengar penuturan Tante Mira. Ia melepaskan pelukannya kemudian menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan serius.
"Jadi benar, Ibu Naila adalah Tante Ariana, Adiknya Tante?" tanya Adnan sambil memegang kedua pundak Tante Mira yang masih terisak.
"Ya, Adnan."
Tante Mira menghampiri Naila yang masih terdiam. Gadis itu benar-benar kebingungan melihat ekspresi kedua majikannya.
"Naila," lirih Tante Mira sembari menyentuh pipinya.
"Se-sebenarnya ada apa ini, Nyonya?" tanya Naila terbata-bata.
"Duduklah, Sayang! Biar Tante jelaskan semuanya," ucap Tante Mira sembari mengajak Naila duduk disisi tempat tidurnya. Sedangkan Adnan, ia memilih mengambil sebuah kursi kemudian duduk disamping Tante Mira.
"Naila, apa kamu tahu siapa sebenarnya wanita ini?" tanya Tante Mira seraya memperlihatkan foto pernikahan milik Ibunya.
Naila menautkan kedua alisnya heran, "Tentu saja saya tahu, dia adalah almarhumah Ibu saya, Nyonya," sahut Naila.
Tante Mira kembali menghembuskan napas berat sambil menitikkan airmata. "Ya, dia memang Ibu mu tapi apa kamu tahu? Wanita ini adalah wanita yang sama di foto keluargaku, apa kamu tidak mengenalinya, Naila? Wanita ini adalah Ariana, Adikku yang selama ini menghilang entah kemana!"
__ADS_1
Sekarang giliran Naila yang terkejut bukan main, "Tidak! Itu tidak mungkin, Nyonya! Ibuku berasal dari keluarga miskin. Mungkin saja mereka hanya mirip dan bukan berarti mereka adalah orang yang sama, bukan?!" kilah Naila sambil menggelengkan kepalanya.
"Mari, Ikuti Tante ..." ajak Tante Mira.
Tante Mira meraih tubuh mungil Naila kemudian menuntunnya menuju kamar miliknya. Sedangkan Adnan mengikuti mereka dari belakang. Namun, lelaki itu hanya mengantarkan mereka hingga di ruang tengah. Ia tidak ikut ke kamar Tantenya dan membiarkan Tante Mira menjelaskan semuanya kepada Naila.
Tante Mira mendudukkan Naila ke sisi tempat tidurnya. Naila masih sangat bingung. Namun, ia tetap menuruti perintah Tante Mira. Setelah mendudukkan Naila, Tante Mira segera meraih beberapa album foto kenangan miliknya. Benda itu ia bawa ketempat tidurnya, dimana Naila sudah menunggunya.
"Lihatlah, Naila. Bukankah wanita ini adalah Ibu mu?" ucap Tante Mira seraya memperlihatkan beberapa foto Ariana, adiknya kepada Naila.
"Lihat ini! Ini juga! Apa kamu masih bisa menyangkal kalau mereka adalah dua orang yang berbeda? Mereka adalah orang yang sama, Naila! Wanita yang telah melahirkan dirimu adalah Adikku," tutur Tante Mira.
Naila terdiam sambil memperhatikan beberapa foto itu dengan seksama. Dan tanpa ia sadari, air matanya pun meluncur dikedua pipinya. "Ibu ..." lirih nya.
Tante Mira tidak sanggup menahan kerinduannya, ia segera meraih tubuh mungil Naila kemudian merekapun berpelukan dengan erat sambil menangis haru.
"Maafkan Tante, Naila ... Tante sama sekali tidak tahu bagaimana nasib kalian. Tante kira si bajingan Rendra itu tidak akan membiarkan kalian menderita, secara dia juga lelaki terpandang dan seorang pengusaha yang sukses. Tante tidak menyangka ternyata dia lelaki picik yang sudah menyengsarakan serta membuang kalian!" geram Tante Mira disela isak tangisnya.
Naila melepaskan pelukan Tante Mira kemudian menatapnya lekat. "Naila benar-benar tidak tahu cerita tentang Ayah dan Ibu yang sebenarnya. Naila hanya tahu, Ayah pergi bekerja mencari uang untuk kami. Karena hal itulah yang selalu Ibu katakan ketika Naila menanyakan sosok Ayah," tutur Naila sembari menyeka air matanya.
"Ya, Tuhan! Ariana ..." guman Tante Mira.
"Tapi ..." Naila nampak berpikir, ia mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Naila tahu siapa yang dapat menceritakan kisah Ibu dan Ayah yang sebenarnya, anda bisa menanyakannya kepada beliau," ucap Naila.
Walaupun ia yakin bahwa foto wanita di album foto milik Tante Mira adalah Ibunya. Namun, tidak ada salahnya untuk lebih memastikan kebenarannya.
...***...
__ADS_1