Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 10


__ADS_3

"Nak Zia, maafkan sikap kasar Aditya, ya. Ibu tidak tahu lagi harus bicara apa, Ibu benar-benar malu sama kamu dan juga Bu Narti," tutur Ibunda Aditya.


"Tidak apa-apa, Bu. Nazia bisa mengerti, kok," ucap Nazia sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk wanita itu.


"Terima kasih, Nak!" Bu Radia mengusap lembut pipi Nazia kemudian segera berpamitan.


Didepan, Aditya sudah tidak sabar menunggu Bu Radia didalam mobilnya. Sedangkan Pak Dodi menunggu didepan pintu mobilnya.


"Mari, Bu." Pak Dodi membukakan pintu mobilnya dan membiarkan Bu Radia masuk lebih dulu.


Setelah kedua orang tuanya masuk kedalam mobilnya, Aditya pun bergegas melajukan mobilnya menuju kediamannya.


"Nazia, ayo masuk! Disini dingin, loh!" ajak Bi Narti sembari merengkuh tubuh mungil Nazia dan menuntunnya masuk kedalam rumah.


"Entah kenapa, Zia rasa Mas Aditya tidak pernah menyukai Nazia. Bahkan sejak pertama kali ia datang kerumah ini," ucap Nazia.


Setelah memasuki rumahnya, Nazia segera menghampiri meja dan membersihkan sisa-sisa minuman dan cemilan yang ada diatas meja tersebut.


Bi Narti membuang napas berat sambil menatap gadis itu. "Ya, karena dia belum mengenal dirimu yang sebenarnya, Nak. Kalau boleh Bibi kasih saran, kita lihat saja bagaimana sikap lelaki itu kepadamu dalam sebulan kedepan. Jika sikapnya masih saja seperti itu, sebaiknya jangan lanjutkan perjodohan ini. Bibi tidak ingin lelaki itu terus menginjak-injak harga diri kita hanya karena kita miskin," tutur Bi Narti.


Nazia menatap Bi Narti dengan wajah sendu. Ia mengurungkan niatnya untuk membersihkan gelas-gelas kotor yang berjejer diatas meja dan memilih menjatuhkan dirinya disalah satu kursi tersebut.


"Lalu bagaimana dengan keinginan mendiang Ayah yang menginginkan Zia menikah dengan Mas Aditya? Apakah Zia tidak berdosa jika Zia tidak menuruti keinginan terakhir Ayah?!" tanya Nazia.


"Entahlah, Nak. Tapi kita berdoa saja, semoga Nak Aditya berubah dan menjadi suami serta Ayah yang baik untukmu juga anak-anakmu kelak."


Tersungging sebulan senyuman tipis di wajah Nazia. "Amin. Semoga saja," sahutnya.


***


Keesokan harinya di kantor Danish.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Aditya.


Aditya menghampiri meja Danish kemudian duduk tepat di hadapannya. Ia meletakkan beberapa berkas penting yang diminta oleh Danish keatas meja Bossnya itu.


"Ini berkas yang Anda minta kemarin, Tuan." ucap Aditya.

__ADS_1


"Terima kasih," sahut Danish.


Tiba-tiba mata Danish tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Aditya. Danish menautkan kedua alisnya sembari memperhatikan cincin tersebut. Ia mengangkat kepalanya kemudian menatap Aditya sambil tersenyum tipis.


"Kalian sudah bertunangan, ya? Kok aku tidak diundang?" goda Danish.


Seketika wajah Aditya memucat. Ia begitu terkejut karena tiba-tiba saja Danish mengetahui tentang pertunangannya. "Tu-tunangan? Sama siapa?" tanyanya dengan terbata-bata.


Danish terkekeh melihat reaksi Aditya yang terlihat lucu baginya. "Kamu dan Helen, lah. Lalu sama siapa lagi?" jawab Danish.


Aditya menghembuskan napas panjang. Ia lega, ternyata Danish tidak mengetahui soal pertunangannya dengan gadis kampung itu.


"Belum, Tuan. Helen masih belum siap untuk terikat dalam hubungan yang lebih serius," tutur Aditya.


Kening Danish kembali mengkerut, ia menatap jari manis Aditya dan ia tidak salah lihat bahwa itu adalah cincin pertunangan.


"Lalu cincin itu?" Danish menunjuk cincin di jari manis Aditya dengan sorot matanya.


"Astaga! Kenapa aku masih mengenakan cincin ini!" batin Aditya ketika menyadari bahwa cincin pertunangannya dengan Nazia masih melingkar di jari manisnya.


"I-ini bukan cincin pertunangan, Tuan Danish. Ini hanya cincin biasa. Tadi malam saya mencoba cincin ini dan saya lupa melepaskannya," tutur Aditya.


"Saya serius, Tuan," sahut Aditya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Perlahan Aditya menarik tangannya kebawah meja kerja Danish kemudian segera melepaskan cincin tersebut.


"Sebaiknya aku lepaskan saja, dari pada nantinya akan membuat semua orang semakin curiga kepadaku," batinnya.


Danish pun tersenyum dan dia tidak ingin ambil pusing walaupun Asistennya itu berbohong padanya.


Sementara itu di toko bunga, dimana Nazia masih bergelut dengan pekerjaannya.


"Ini kembaliannya, Mbak. Terima kasih," ucap Nazia sembari menyerahkan uang kembalian kepada pembelinya.


"Sama-sama."


Setelah pembeli tersebut pergi, tiba-tiba saja ponsel bututnya berdering. Ia segera meraih benda pipih tersebut kemudian meletakkannya ke samping telinga.


"Ya, Bu?" sapa Nazia.

__ADS_1


"Nak Zia, kamu dimana? Ini Ibu sedang berada didepan rumahmu tapi sepertinya rumahmu sedang kosong, ya?" tanya Bu Radia dari seberang telepon.


"Loh, Nazia lagi ditempat kerja. Memangnya kenapa, Bu? Ada yang bisa Nazia bantu?"


"Begini, Nak Zia. Ibu mau ngajakin kamu main kerumah, gimana? Ibu jemput sekarang, ya?" ucap Wanita itu dengan sangat antusias.


"Tapi, Bu ..."


"Udah, gak usah dipikirin soal pekerjaanmu. Nanti Ibu jemput kamu ditempat kerja kemudian Ibu yang minta izin sama pemilik tokonya. Mau ya?!"


"Baiklah," sahut Nazia.


Wajahnya terlihat tidak bersemangat. Sebenarnya ia ingin menolak ajakan Bu Radia tapi ia tidak bisa. Nazia tidak ingin membuat wanita yang akan menjadi Ibu mertuanya itu kecewa.


"Kenapa, Zia?" tanya Pemilik toko.


Nazia pun bercerita pasal Bu Radia yang ingin menjemputnya kepada pemilik toko bunga tersebut. Beruntung wanita itu mengerti dan iapun mengizinkan Nazia untuk ikut bersama Bu Radia.


"Pergilah, Zia. Ibu mengijinkanmu," ucapnya.


"Benarkah, Bu? Jadi, Ibu mengizinkan Nazia untuk ikut bersama Bu Radia?" tanya Nazia mencoba meyakinkan.


"Ya, pergilah."


Tidak berselang lama, mobil yang membawa Bu Radia pun tiba didepan toko tersebut. Ia segera menghampiri Nazia kemudian meminta izin kepada sang pemilik toko.


"Iya, Bu. Tidak apa-apa, saya sudah mengijinkan Nazia untuk ikut bersama Anda." ucap pemilik toko.


"Terima kasih banyak, Bu. Kami permisi dulu, ya."


Didalam mobil,


"Zia, kamu tidak keberatan 'kan ikut Ibu?" tanya Bu Radia kepada Nazia yang hanya terdiam sejak tadi.


"Tidak, Bu. Nazia senang, kok!" sahutnya.


Padahal saat itu Nazia cemas. Ia takut Aditya semakin ilfil melihatnya berada dirumah mereka.

__ADS_1


...***...


__ADS_2