Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Adnan Kecelakaan


__ADS_3

"Ada apa, Arumi?" tanya Dokter Fahri sembari menghampiri Wanita itu.


"Sepertinya itu Mas Adnan dan aku tidak tahu mengapa ia pergi begitu saja dan meninggalkan hadiah ini tergeletak disana," lirih Arumi dengan wajah tertunduk sambil menunjuk kearah dimana ia menemukan hadiah itu.


Dokter Fahri menepuk pundak Arumi dengan lumbut. "Apakah mungkin dia salah paham atas hadiah yang aku berikan kepadamu? Kalau itu benar, maka aku akan bicara padanya dan menyelesaikan kesalah pahaman ini," tutur Dokter Fahri.


"Tapi, rasanya itu tidak mungkin, Dok. Mas Adnan tidak benar-benar mencintaiku. Di hatinya hanya ada satu nama dan itu tak akan pernah terganti," sahut Arumi.


Dokter Fahri menghembuskan napas berat. Ia sudah tahu masalah Arumi dan Adnan yang sebenarnya. Sama seperti halnya Dokter Lisa, Arumi pun sudah menganggap Dokter Fahri seperti Kakaknya sendiri. Begitupula Dokter Fahri, ia sudah menganggap Arumi seperti Adiknya.


"Sebaiknya aku susul dia dan akan ku jelaskan semuanya agar Adnan tidak salah paham."


Dokter Fahri bergegas menuju mobilnya dan disusul oleh Arumi. Dokter Fahri segera masuk kedalam mobilnya dan bersiap melajukan mobilnya.


"Entah mengapa perasaanku sangat tidak enak, Dok. Aku takut terjadi sesuatu kepadanya," tutur Arumi dengan wajah cemas menatap Dokter Fahri dari balik kaca mobil yang separuh terbuka.


"Kamu tenang saja, Arumi. Dia pasti akan baik-baik saja," sahut Dokter Fahri sambil tersenyum hangat membalas tatapan Arumi.


Dokter Fahri menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju memecah jalan raya untuk mengejar Adnan yang sudah menghilang dengan kecepatan tinggi.


Nyonya Rahma menghampiri Arumi. "Buat apa kamu mengkhawatirkan dirinya?! Dia saja tidak pernah mengkhawatirkan dirimu! Apa kamu lupa, disaat kamu berada di Rumah Sakit, apakah dia pernah mempedulikan keadaanmu?" kesal Nyonya Rahma karena melihat reaksi Arumi yang sangat mengkhawatirkan Adnan.


Setelah mengutarakan rasa kesalnya, Nyonya Rahma segera berbalik dan melangkahkan memasuki rumahnya.


"Mah, jangan berkata seperti itu. Biar bagaimanapun Mas Adnan masih suami sah Arumi," lirih Arumi sembari mengikuti langkah kaki Nyonya Rahma dari belakang.


Nyonya Rahma tidak berkata-kata lagi, tetapi ia memasang wajah malas tanpa setahu Arumi yang berjalan di belakangnya.


Sementara itu di mobil Adnan.


"Aku tidak bisa terima! Enak saja Arumi mau main nikah-nikah sama Dokter itu! Dia 'kan masih menjadi istri sah ku!" kesal Adnan sambil memukul stir mobilnya.


"Aku yakin Dokter itu punya tujuan lain merawat Arumi. Dia sebenarnya mengincar Arumi dan ingin Wanita itu menjadi istrinya. Hhhhh ... aku sanga kesal!" geram Adnan sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Adnan yang masih dalam keadaan kesal, tidak menyadari bahwa mobilnya melaju dengan sangat cepat. Tanpa ia sadari ada sebuah Truk Kontainer yang sarat dengan barang bawaan melaju dengan keadaan oleng.


Mobil Truk Kontainer itu melaju ke kanan dan ke kiri. Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Adnan berhadapan dengan mobil tersebut.


"Ya, Tuhan!" seru Adnan sembari membanting stir mobilnya kearah kanan untuk menghindari tabrakan antara mobilnya dengan Truk Kontainer tersebut. Namun, perkiraan Adnan masih salah, ternyata tepat di hadapannya ada sebuah mobil lain yang menghadang dan ia tidak bisa lagi mengendalikan mobilnya.


Hingga akhirnya, Brakkkk!!!


Kecelakaan itupun tidak dapat terhindarkan.


"Akhhh!" Adnan meringis. Ia merasakan sakit yang amat sangat di kakinya dan sepertinya kakinya terjepit diantara body mobilnya yang kini sudah tidak berbentuk lagi.


"Tolong!!!" lirih Adnan sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya.


. . .


Dokter Fahri menurunkan kecepatan mobilnya. Ia melihat banyak orang berkerumun dipinggir jalan, mengerumuni mobil-mobil yang rusak parah akibat kecelakaan beruntun yang baru saja terjadi.


Dokter Fahri memperhatikan Truk Kontainer yang terbalik disisi kirinya dan dua buah mobil yang hancur tiada rupa disisi kanan. Tiba-tiba saja mata Dokter Fahri terbelalak ketika ia mengenali salah satu mobil yang mengalami rusak parah.


Dokter Fahri segera menepikan mobilnya ke pinggir jalan yang ia rasa aman. Setelah ia selesai memarkirkan mobilnya, Dokter Fahri bergegas menghampiri mobil milik Adnan.


Ternyata petugas Tim Penyelamat sedang membantu mengeluarkan tubuh Adnan yang sudah tidak sadarkan diri dari dalam mobil. Kedua kaki Adnan terjepit body mobil dan tubuhnya pun penuh dengan luka-luka akibat pecahan kaca mobil yang mengenainya. Setelah beberapa saat, akhirnya tubuh Adnan berhasil dikeluarkan.


"Pak, saya seorang Dokter dan lelaki ini adalah kerabat saya. Biarkan saya membantu membawanya ke Rumah Sakit!" ucap Dokter Fahri kepada para Tim Penyelamat.


"Baik, Dok!"


Mereka pun segera membawa tubuh Adnan yang sudah tidak berdaya ke Rumah Sakit XX. Sesampainya di Rumah Sakit, Dokter Fahri meminta para tenaga medis yang menghampirinya agar segera memberikan pertolongan untuk Adnan.


"Firasat buruk yang dirasakan oleh Arumi ternyata benar. Semoga Adnan tidak kenapa-napa," gumam Dokter Fahri dengan wajah cemas.


"Ya, Tuhan. Bagaimana caranya memberitahukan masalah ini kepada Arumi? Aku benar-benar tidak tega jika harus melihatnya kembali bersedih,"

__ADS_1


Namun, Dokter Fahri tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, ia harus menyampaikan berita buruk ini kepada Arumi. Dokter Fahri meraih ponselnya kemudian segera menghubungi nomor Arumi.


Di kamar Arumi.


Arumi berjalan mondar-mandir didalam kamarnya. Ia tidak tahu kenapa ia merasakan kekhawatiran yang amat sangat kepada Suaminya. "Ya, Tuhan. Ada apa ini, mengapa aku merasa tidak tenang. Semoga tidak terjadi apa-apa kepada Mas Adnan dan juga Dokter Fahri!" gumam Arumi.


Tepat disaat itu ponselnya bergetar, ternyata sebuah panggilan dari Dokter Fahri. Arumi bergegas meraih ponsel yang ia letakkan diatas nakas kemudian menerima panggilan itu.


"Ya, Dok?!"


Jantung Arumi berdetak semakin kencang dan tubuhnya terasa panas dingin saat itu.


"Arumi, Adnan sedang dirawat di Rumah Sakit XX," ucap Dokter Fahri.


"Apa?! Ru-rumah Sakit? Ta-tapi kenapa?!" ucap Arumi terbata-bata.


Dokter Fahri menghembuskan napas berat. "Adnan mengalami kecelakaan sepulang dari rumahmu," sahut Dokter Fahri.


"Ba-baiklah, aku akan segera kesana!"


Arumi bergegas menutup panggilan dari Dokter Fahri kemudian berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan kamarnya.


Namun, ketika Arumi ingin keluar dari rumahnya, Nyonya Rahma sudah menghadangnya didepan pintu dengan tatapan dingin.


"Mau kemana? Menemui Suamimu yang tidak bertanggung jawab itu, iya?!" ucap Nyonya Rahma.


"Mah, Mas Adnan mengalami kecelakaan. Arumi harus segera ke Rumah Sakit untuk menjenguknya," lirih Arumi.


"Arumi, jika kamu bersikeras ingin menemui lelaki itu, itu artinya kamu lebih memilih dia daripada Mama! Dan jika suatu saat terjadi lagi kejadian seperti sebelumnya, maka Mama tidak akan pernah mempedulikan dirimu lagi, Arumi!" ancam Nyonya Rahma.


Arumi sempat ragu dan terdiam di tempatnya berdiri. Namun, hanya beberapa detik.


"Maafkan Arumi, Mah,"

__ADS_1


Arumi melewati Nyonya Rahma dan berlari menuju mobilnya. Nyonya Rahma hanya bisa menatap sedih kepada Arumi sambil menggelengkan kepalanya. "Arumi ... Arumi ..."


...***...


__ADS_2