
Akhirnya Arumi berhasil keluar dari kamar sambil merangkak. Beruntung saat itu Pelayannya sedang bersih-bersih disekitar kamarnya.
"Bi ..." lirih
Mata Pelayan itu membulat sempurna ketika menyaksikan kondisi Arumi. Ia bergegas menghampiri Arumi dan mencoba menolongnya. "Nona, Nona! Nona kenapa?" tanya Pelayan itu sembari membantu Arumi bersandar di dinding kamarnya.
"Bi, tolong panggilkan Pak Budi! Aku butuh bantuannya," jawab Arumi tersendat-sendat.
"Baik, Nona!"
Pelayan itupun segera berlari menuju halaman depan dimana Pak Budi atau sopir pribadi Arumi tengah membersihkan kaca mobilnya.
"Pak, tolong! Nona Arumi butuh bantuan anda. Cepat, Pak!!!" ucap Pelayan itu panik.
Pak Budi segera berlari memasuki rumah Majikannya itu dan menemukan Arumi yang tergeletak tidak berdaya.
"Nona!"
Dengan wajah panik, Pak Budi mengangkat tubuh Arumi dan memasukkan wanita itu ke dalam mobil dengan bantuan sang Pelayan. Pak Budi bergegas melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit dan beruntungnya, letak Rumah Sakit itu tidak terlalu jauh.
Tidak berselang lama, akhirnya merekapun tiba di halaman Rumah Sakit. Ia bergegas membawa tubuh Arumi yang sudah tidak berdaya dan menyerahkannya kepada para Perawat yang berdatangan menghampiri mereka.
. . .
"Ya ampun, Arumi sayang! Kamu kenapa, Nak?"
Nyonya Rahma menghampiri Arumi yang masih berbaring diatas tempat tidur pasien. Arumi mencoba tersenyum manis ketika Ibunya datang menghampirinya, walaupun saat itu kondisinya masih sangat lemah dengan wajah yang memucat.
"Mama tenang saja, Arumi baik-baik saja kok." lirih Arumi dengan suara terbata-bata.
"Baik-baik saja, katamu? Kamu tiba disini dengan kondisi tidak sadarkan diri, Sayang! Sedikit saja terlambat, Dokter bilang nyawamu pasti akan melayang!" kesal Nyonya Rahma setelah mendengar jawaban anak semata wayangnya.
__ADS_1
Arumi tersenyum kecut sambil menatap wajah sendu sang Ibu. "Maafin Arumi ya, Mah. Arumi kembali merepotkan Mamah,"
"Tidak, Sayang! Kamu sama sekali tidak pernah menyusahkan Mama, kok." Nyonya Rahma melabuhkan sebuah kecupan hangat ke puncak kepala Arumi.
"Sebenarnya kamu kenapa, Nak? Kata Dokter, ini terjadi karena kamu terlalu cemas. Apa yang kamu cemaskan hingga membuat penyakitmu ini kumat lagi?" tanya Nyonya Rahma sambil mengelus lembut puncak kepala Arumi.
Arumi terdiam sejenak dengan tatapan kosong menerawang. Tidak mungkin ia menceritakan tentang pertengkarannya dengan sang Suami, sedangkan pernikahan mereka masih seumur jagung.
"Tidak apa-apa, Mah. Arumi hanya kelelahan setelah membersihkan kamar Arumi," tutur Arumi.
"Membersihkan kamar? Lalu apa peran Pelayan mu jika kamu masih membersihkan kamarmu sendiri?!" tanya Nyonya Rahma geram,
Arumi meraih tangan sang Ibu kemudian menggenggamnya dengan erat. "Bukan seperti itu, Mah. Arumi merasa bosan karena tidak ada yang bisa Arumi kerjakan. Jadi untuk menghalau rasa bosan, Arumi mencoba melakukan sesuatu, yaitu membersihkan kamar Arumi. Dan ternyata kejadiannya malah seperti ini," tutur Arumi sambil tersenyum kecut menatap Nyonya Rahma.
"Lalu dimana Suamimu? Apa dia sudah tahu bagaimana keadaanmu disini?" tanya Nyonya Rahma.
"Mas Adnan tidak tahu, Mah. Mas Adnan sedang bekerja dan Arumi tidak ingin membuatnya cemas," sahut Arumi sambil tersenyum.
"Mas Adnan cemas? Aku rasa tidak mungkin. Mas Adnan tidak mungkin mencemaskan aku sama seperti ia mencemaskan Naila saat tahu bahwa wanita itu masuk ke Rumah Sakit," batin Arumi.
"Tidak usah, Mah. Nanti biar Arumi yang menghubungi Mas Adnan."
Nyonya Rahma mengembuskan napas kasar sembari mengambil ponselnya daru tangan Arumi dan memasukkan benda pipih itu kedalam tas.
Sementara itu, masih di Rumah Sakit yang sama di ruangan yang berbeda.
Naila masih berselonjor diatas tempat tidur pasien dan ditemani oleh Keanu. Saat itu Naila sedang menikmati makan siangnya bersama Keanu yang selalu setia menyuapi wanita itu seperti anak kecil.
"Sekali lagi," ucap Keanu sembari menyodorkan sendok terakhir ke mulut Naila.
"Aduh, Naila udah kenyang, Hubby!" Walaupun perutnya terasa penuh dan rahangnya sudah lelah mengunyah, tetapi Naila tetap menyambut suapan terakhirnya.
__ADS_1
Keanu tersenyum puas karena Naila sudah menghabiskan makan siangnya. "Anak baik!" ucap Keanu sembari mengacak puncak kepala Naila dengan lembut.
"Ehem ..."
Sontak Naila dan Keanu menoleh kearah asal suara. Ternyata Adnan tiba dengan membawa buah-buahan untuk Naila.
"Bagaimana kabar mu, Nai? Aku dengar kamu baru saja menabrak gerbang rumahmu, ya?" ucap Adnan sambil terkekeh pelan.
Keanu menyambut kedatangan Adnan sambil tersenyum hangat. "Bagitulah, Adnan. Mami muda ini masih penasaran dengan masa mudanya," sahut Keanu sembari mengulurkan tangannya kepada lelaki itu.
Adnan pun menyambut uluran tangan Keanu dan menyerahkan buah-buahan yang ia bawakan untuk Naila kepada Keanu.
"Terima kasih," ucap Keanu.
Adnan menghampiri tempat tidur Naila dan menatap wanita itu sambil tersenyum. Sedangkan Keanu meletakkan buah-buahan yang dibawakan oleh Adnan keatas nakas.
"Terima kasih, Kak Adnan. Ngomong-ngomong mana Arumi? Apa dia tidak ikut?" tanya Naila sambil menengok kearah luar mencari keberadaan wanita itu.
"Aku hanya sendirian, Arumi tidak ikut. Katanya ada yang harus ia kerjakan di Butik bersama Ibunya hari ini," sahut Adnan.
. . .
Selesai menjenguk Naila, Adnan pun kembali ke rumahnya. Ia ingin mengganti pakaiannya kemudian kembali ke Restoran. Setibanya disana, Adnan segera memarkirkan mobilnya dan sempat memperhatikan tempat Arumi biasa memarkirkan mobilnya dan ternyata tempat itu kosong.
"Paling-paling dia pulang ke Ibunya kemudian merengek!" gumam Adnan sembari melangkah memasuki rumahnya.
Adnan nampak tidak peduli, ia terus melangkahkan kakinya menuju kamar. Ketika ia membuka pintu kamarnya, Adnan sempat menautkan kedua alisnya sebab kamar itu terlihat berantakan.
"Kenapa kamar ini berantakan sekali?!" gumam Adnan sembari memperhatikan isi nakas yang berserakan disamping tempat tidur. Bahkan kedua lacinya pun masih menganga lebar, belum lagi seprei yang terlihat acak-acakan.
Adnan bingung, ia bergegas keluar dari kamarnya. Lelaki itu berjalan menyusuri ruangan demi ruangan mencari keberadaan Pelayannya. Namun, ia tidak menemui siapapun di rumah itu.
__ADS_1
"Dimana semua orang?" gumam Adnan ketika menyaksikan tak ada seorangpun di rumahnya. Ia kembali ke kamar dan segera mengganti pakaiannya.
...***...