Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 35


__ADS_3

"Kamu dari mana sih, Keyla? Malam-malam begini, anak gadis bawa motor sendirian, gak takut?" tanya Aditya yang masih fokus pada setir mobilnya.


Keyla tersenyum kecut, tidak mungkin dia jujur bahwa dia baru mengunjungi rumah cinta sejatinya yang begitu dingin dan kaku, bahkan saking dinginnya es batu pun kalah.


"Tadi aku main ke rumah Om dan Tanteku. Aku memang lebih suka naik motor karena menurutku lebih simple. Lagipula aku sudah terbiasa, kok, bawa motor sendirian."


"Hati-hati loh, cewek bawa motor sendirian itu rawan kejahatan. Apalagi malam-malam begini," ujar Aditya.


"Hhh, Kakak kalo ngomong jangan begitu, Keyla 'kan jadi takut," jawabnya dengan wajah menekuk.


"Tidak, aku tidak nakutin. Cuma ngingetin aja," lanjut Aditya sambil terkekeh pelan.


Tidak berselang lama, mereka pun tiba di halaman depan kediaman tuan Keanu. Dengan cepat, Keyla keluar dari mobil Aditya kemudian berlari memasuki kediamannya.


"Terima kasih, Kak Adit!" teriak Keyla sambil berlari.


"Sama-sama."


Aditya sempat tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia sudah tahu bagaimana sikap Keyla karena Danish sering bercerita kepadanya bahwa adiknya itu agak berbeda dari Danisha. Sebelum Aditya memasuki kediaman tuan Keanu, ia menghembuskan napas panjang dan mencoba menetralkan kegugupannya.


"Aku pasti bisa!" gumamnya sembari melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu.


"Silakan masuk, Tuan Aditya. Tuan Danish dan Nyonya Nazia sudah menunggu Anda didalam."


"Terima kasih, Bi."


Seorang Pelayan menuntun Aditya menuju ruang utama dimana Danish dan Nazia sedang mengunggu kedatangannya. Dari kejauhan, Aditya sudah dapat melihat pasangan itu begitu romantis. Danish mengusap lembut perut Nazia sambil tersenyum hangat kepada wanita itu. Kadang mereka tertawa pelan, entah apa yang mereka tertawakan, tetapi pemandangan itu membuat Aditya kembali larut dalam penyesalan.

__ADS_1


"Ah, seandainya waktu itu aku tidak terlalu sombong dan menerima Nazia sebagai istriku, mungkin akulah yang sedang berada disana sambil tersenyum hangat menatap wajah cantik Nazia," batin Aditya.


Akhirnya Aditya berdiri tepat di hadapan pasangan itu. Ia menyunggingkan sebuah senyuman hangat kemudian menyapa mereka.


"Selamat malam, Tuan Danish, Nona Nazia,"


Danish pun membalas senyuman Aditya sedangkan Nazia tidak. Ia masih diam dengan ekspresi datar.


"Selamat malam, Aditya. Silakan duduk,"


"Terima kasih, Tuan."


Aditya segera duduk tepat berseberangan dengan pasangan itu. Di tempat ia duduk, Aditya dapat melihat dengan jelas kecantikan Nazia pada malam itu dan ia sadar apa yang dikatakan oleh Ibunya adalah benar. Nazia ibarat Berlian yang jatuh ke lumpur. Terlihat kotor dan tidak berharga, tetapi ketika ia jatuh ke tangan yang tepat maka nampaklah wujud aslinya, berkilau dan sangat mahal.


"Sebelum ke sini, saya sempat mampir ke rumah Bu Narti dan beliau titip salam buat Nona Zia," ucap Aditya sembari membuka percakapan mereka.


Danish mengelus tangan Nazia yang sedang berada di dalam genggamannya, agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang.


"Saya hanya ingin meminta maaf padanya, Nona. Dan saya sangat beruntung karena Bu Narti bersedia memaafkan kesalahan saya," sahut Aditya.


Nazia menghembuskan napas panjang sambil menoleh kepada suaminya. Danish pun kembali melemparkan senyuman hangatnya untuk wanita itu.


"Dan sekarang giliran saya untuk meminta maaf kepada Anda Nona Nazia. Maafkan semua kesalahan besar yang pernah saya lakukan. Saya akan melakukan apa saja perintah, Nona. Asalkan Nona bersedia memaafkan saya," ucap Aditya dengan kepala tertunduk.


Ia benar-benar sudah tidak sanggup menatap mata Nazia saat itu. Ketika ia menatap mata indah itu, rasa bersalahnya semakin menyeruak dan dadanya pun terasa sesak.


"Aku akan memaafkanmu, Aditya. Tapi, ada syaratnya," tegas Nazia.

__ADS_1


Sontak saja, ucapan Nazia membuat beragam ekspresi diantara kedua lelaki yang ada diruangan itu. Danish yang nampak kebingungan karena sebelumnya Nazia tidak mengatakan syarat apapun untuk memaafkan lelaki itu. Sedangkan Aditya, wajahnya nampak bersemangat karena akhirnya Nazia bersedia memaafkan dirinya walaupun dengan syarat.


"Apa itu, Nona?" tanya Aditya.


"Minta maaflah kepada Pak Dodi dan Bu Radia, Aditya. Karena selama ini sikapmu begitu kasar terhadap mereka. Meminta maaf dengan tulus, jika kamu berhasil mendapatkan maaf dari mereka, itu artinya kamu sudah berhasil mendapatkan maaf dariku," tutur Nazia dengan tatapan serius menatap Aditya.


Danish menghembuskan napas lega setelah mendengar syarat yang diberikan oleh Istrinya. Padahal ia sempat kecewa karena Nazia memaafkan Aditya dengan syarat, seolah-olah ia tidak ikhlas memberikan maaf untuk lelaki itu.


Danish tersenyum puas kemudian kembali merengkuh tubuh Nazia dan membawanya kedalam pelukannya.


"Aku tidak salah 'kan, Mas?" tanya Nazia sambil mendongak menatap Danish.


Danish menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajah tampannya.


"Tentu saja tidak, Sayang."


"Terima kasih banyak, Nona Nazia. Saya berjanji akan meminta maaf kepada kedua orang tua saya dengan tulus. Karena ya, Anda benar. Selama ini sikap saya sudah sangat keterlaluan terhadap mereka," jawab Aditya.


Ia lega akhirnya Nazia memberikan syarat yang begitu mudah untuknya. Hanya dengan meminta maaf kepada kedua orang tuanya.


"Aku harap bukan hanya sekedar meminta maaf saja, Mas Adit. Tapi, berusahalah untuk berubah. Sayangi kedua orang tua Mas dan hormati mereka. Bersyukurlah karena mereka masih ada bersamamu, coba lihat aku! Aku hanya punya seorang Bibi. Aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya kasih sayang seorang Ibu," ucap Nazia dengan bibir bergetar dan netra yang mulai berkaca-kaca.


"Ya, Nona. Terima kasih sudah mengingatkan saya," sahut Aditya dengan kepala tertunduk.


Apa yang di ucapkan oleh Nazia saat itu begitu mengena di hatinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2