
"Ehm, Tante. Sebaiknya Adnan berangkat," ucap Adnan.
Tante Mira pun mengangguk. "Baiklah," sahut Tante Mira seraya bangkit kemudian berjalan bersama keponakannya menuju halaman depan. Namun disaat Adnan dan Tante Mira melewati ruang tengah, tiba-tiba Tya memanggil-manggil Nyonya Mira.
"Nyonya Mira, bolehkan saya minta ijin sebentar?" tanya Tya seraya berlari kecil menyusul Tante Mira dan Adnan.
Tante Mira dan Adnan pun menghentikan langkah mereka kemudian berbalik kearah Tya.
"Ijin untuk apa, Tya?" Tante Mira balik bertanya.
Tya sempat ragu menyampaikan keinginannya tetapi karena Tante Mira masih menunggu jawaban darinya, Tya pun mantap mengutarakan keinginannya itu.
"Ehm ... Nyonya, bolehkah saya mengajak Naila jalan-jalan?" ucap Tya dengan wajah harap-harap cemas.
"Kemana?" tanya Tante Mira sambil mengerutkan alisnya.
"Cuma jalan-jalan, Nyonya. Boleh, ya?" Tya memelas kepada Tante Mira agar wanita itu bersedia mengijinkan Naila ikut bersamanya.
Tante Mira terdiam sejenak. Sebenarnya ia masih penasaran dengan sosok Ibunya Naila dan ingin menanyakan langsung soal siapa Ibunya kepada Naila. Namun, ia juga mempertimbangkan permintaan Tya soal mengajak gadis itu jalan-jalan.
"Tidak ada salahnya jika Naila jalan-jalan sebentar bersama Tya. Mungkin ia juga butuh hiburan. Kasihan dia, dia bahkan tidak tahu rasanya bersenang-senang bersama teman-teman seusianya," batin Tante Mira.
Tante Mira melirik kearah Naila yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Dan dia sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Tya dan Tante Mira.
"Naila, kemarilah ..." panggil Tante Mira kepada Naila.
Naila menghentikan pekerjaannya kemudian segera menghampiri mereka.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Naila
"Naila, Tya ingin mengajak mu jalan-jalan. Bagaimana, apa kamu ingin ikut bersamanya? Jika kamu mau ikut, aku mengijinkan, kok. Bersenang-senang lah, kamu sudah lama kan, tidak jalan-jalan?" tanya Tante Mira,
Naila terdiam seraya menatap Tya yang berdiri disampingnya. Gadis itu menangkupkan kedua tangannya sambil memohon kepada Naila, agar ia bersedia ikut bersamanya.
"Tapi saya tidak punya pakaian yang bagus, Nyonya. Saya hanya punya pakaian yang seperti ini," ucap Naila seraya memperlihatkan pakaian yang sedang ia kenakan.
Tante Mira tersenyum kecut setelah mendengar penuturan Naila. Tante Mira baru ingat, gadis itu sama sekali tidak memiliki pakaian yang bagus selayaknya gadis-gadis seusianya.
"Kalau soal pakaian, kamu tenang saja, Naila. Aku punya banyak pakaian yang bisa kamu pinjam," sambung Tya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Sekarang bersiaplah, Naila. Biar pekerjaanmu digantikan oleh Pelayan lain," ucap Tante Mira seraya menepuk pundak Naila dengan lembut.
Naila tidak punya pilihan lain. Menolak pun rasanya tidak mungkin. Dengan terpaksa, iapun menuruti perintah Tante Mira.
"Saya permisi dulu, Nyonya, Tuan." Naila pun segera meninggalkan ruangan itu kemudian melangkah menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Sepeninggal Naila, Tante Mira mengajak Tya berbicara serius soal Naila.
"Tya, jaga gadis itu dengan baik. Jangan ajak dia ketempat yang salah. Kamu mengerti kan, apa yang aku maksud?" ucap Tante Mira.
"Ya, saya mengerti, Nyonya,"sahut Tya.
Sedangkan Adnan, sejak tadi hanya terdiam sambil memperhatikan gerak-gerik Tya. Entah mengapa ia tidak terlalu mempercayai gadis itu. Ia takut Tya membawa Naila ketempat yang tidak seharusnya.
"Adnan berangkat dulu ya, Tante. Bye!" ucap Adnan,
"Ah, iya. Hati-hati dijalan ya, Nak!" sahut Tante Mira.
"Bye, Kak Adnan!" sela Tya
Adnan hanya tersenyum kemudian ia segera menghampiri mobilnya dan melesat pergi meninggalkan kediaman Tante Mira.
Setelah menyisir rambutnya kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih baik dari sebelumnya, Naila pun segera menyusul Tante Mira dan Tya yang masih menunggu kedatangannya.
Tya semringah ketika melihat Naila berjalan menghampirinya. Ia senang akhirnya Naila bersedia ikut dengannya.
"Nai, ini uang jajan untukmu. Belilah apapun yang kamu inginkan. Dan jangan lupa jaga dirimu baik-baik," ucap Tante Mira seraya memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah kepada Naila.
Naila memperhatikan uang yang kini sudah berada didalam genggamannya. Ia begitu terkejut ketika mengetahui jumlah uang tersebut.
"Nyonya, jumlahnya terlalu banyak. Saya tidak bisa menerimanya, Nyonya," ucap Naila sembari mengembalikan uang itu kepada Tante Mira.
Tente Mira tersenyum kemudian mendorong tangan Naila dengan perlahan. "Ambilah, anggap itu bonus dariku," sahut Tante Mira
"Tapi,"
"Sudahlah, Nai. Nanti kita terlambat," Tya segera menarik tangan Naila kemudian membawanya berjalan bersamanya.
"Ingat apa yang aku katakan padamu, Tya!" ucap Tante Mira dengan setengah berteriak.
__ADS_1
"Ya, Nyonya. Aku berjanji!" sahut Tya seraya melangkahkan kakinya bersama Naila meninggalkan kediaman Tante Mira.
Di perjalanan, sesekali Tya memperhatikan penampilan Naila yang terlihat culun. Ia bahkan sempat menyunggingkan sebuah senyuman.
"Nai, kamu serius, tidak punya pakaian bagus seperti pakaian ku?" tanya Tya,
Naila tersenyum kecut kemudian mengangguk pelan.
"Kalau begitu, kita ke rumahku dulu untuk mengganti pakaian mu. Baru setelah itu kita jalan-jalan, bagaimana?" tanya Tya sembari tersenyum hangat kepada Naila,
Naila pun kembali mengangguk.
Setibanya di rumah Tya, gadis itu segera memilihkan pakaian yang bagus untuk Naila kenakan. Ia juga mendandani Naila sebagaimana anak muda sekarang, memakaikannya lipt tint dan bedak secukupnya. Setelah Naila terlihat lebih segar dan cantik, merekapun bersiap untuk berangkat.
Ternyata didepan rumah Tya, Ivan sudah menunggu mereka didalam mobilnya. Ia tersenyum puas setelah Tya berhasil mempertemukannya dengan gadis itu.
Naila sempat menghentikan langkahnya. Entah mengapa ketika ia melihat Ivan, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Ayo!" Tya menarik tangan Naila hingga gadis itu masuk kedalam mobil Ivan.
Naila duduk dibelakang sedangkan Tya duduk disamping Ivan yang sedang melajukan mobilnya.
"Thank you, Tya! Kamu memang sahabat yang baik," ucap Ivan sembari melajukan mobilnya.
"Heh, tidak mudah tau, meyakinkan Nyonya Mira untuk mengajak gadis mu ini! Dia bahkan berkali-kali memperingatkan aku untuk menjaganya!" sahut Tya dengan wajah menekuk.
"Sebenarnya kalian ingin membawaku kemana?" sela Naila dengan wajah cemas.
"Tenang saja, Naila. Kita akan bersenang-senang hari ini, benarkan, Ivan?!" sahut Tya.
"Yup!" sambung Ivan
Naila terdiam sambil terus memperhatikan Tya dan Ivan. "Semoga saja mereka tidak akan macam-macam padaku," batin Naila
Dan setelah beberapa saat, Ivan menghentikan mobilnya di halaman sebuah rumah mewah. Dan ternyata rumah itu adalah milik orang tuanya Ivan.
"Lho, bukankah kamu bilang kita akan pergi jalan-jalan, Tya? Lalu kenapa kita kerumah ini?" tanya Naila penuh selidik.
"Ya, kita jalan-jalannya kerumah ini, Naila. Ivan sedang mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut hari ulang tahunnya. Beri selamat donk, buat Ivan!" tutur Tya kepada Naila.
__ADS_1
Ivan tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya kepada Naila tetapi Naila sama sekali tidak ingin membalasnya. Ia masih kesal karena Tya sudah membohonginya.