
Dua hari setelah pertemuan terakhirnya bersama Naura waktu lalu, Ardhan lebih banyak diam di dalam kamarnya.
"Driel, Kakakmu kenapa? Mama rasa akhir-akhir ini dia lebih banyak diam di kamarnya daripada berkumpul bersama kita."
Saat itu Arumi dan Adriela tengah duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi.
"Entahlah, Adriela tidak berani nanya."
"Sebaiknya Mama temui Kakakmu dulu, deh. Mama khawatir dia punya masalah tapi malah tidak berani bercerita," ujar Arumi sembari bangkit dari tempat duduknya kemudian melenggang pergi meninggalkan Adriela yang sedang asyik dengan ponselnya.
"Kalo tv nya gak diliatin, mending di matiin aja, Driel," ucap Arumi dengan setengah berteriak sambil melangkahkan kakinya menapaki anak tangga, memuju kamar Ardhan.
Setibanya di depan pintu kamar Ardhan, Arumi segera mengetuk pintu tersebut sambil memanggil nama Ardhan.
"Ardhan? Kamu di dalam? Boleh Mama masuk?"
Lamunan lelaki itu buyar ketika Arumi memanggilnya. Ia menoleh kearah pintu dengan wajah kusut kemudian mempersilakan sang Ibu masuk ke dalam kamarnya.
"Masuklah, Bu. Pintunya tidak dikunci," jawab Ardhan.
Perlahan Arumi membuka pintu tersebut dan hal pertama yang ia lihat adalah anaknya yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan wajah kusut. Arumi menghampiri Ardhan kemudian duduk di sampingnya.
"Sebenarnya kamu kenapa, Dhan? Akhir-akhir ini Mama perhatikan kamu lebih banyak mengurung diri," ucap Arumi sambil mengelus rambut Ardhan dengan lembut.
Ardhan menyandarkan kepalanya ke pundak Arumi.
"Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan pada kalian, tetapi aku tidak tahu bagaimana menceritakannya."
"Ceritakanlah, Nak."
__ADS_1
"Maafkan aku, Mah. Karena terlalu terobsesi dengan karierku, aku melakukan segala cara untuk mendongkrak popularitasku, termasuk mendekati Naura," ucap Ardhan dengan wajah sendu.
"Benarkah?" pekik Arumi.
Arumi mengangkat wajah Ardhan yang tertunduk kemudian menatapnya lekat.
"Jadi selama ini hubunganmu bersama Naura hanya sebuah sandiwara? Dan kamu memanfaatkan dirinya untuk mendongkrak popularitasmu, begitu?" tanya Arumi kaget. Karena setahu Arumi, Naura adalah gadis pertama yang membuat hati dingin Ardhan meleleh.
Ardhan menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya ampun, Ardhan?!" kesal Arumi. "tidak boleh mempermainkan perasaan seorang wanita seperti itu, Dhan! Kasihan dia! Bagaimana jika hal itu terjadi pada Adikmu, Adriela? Mama yakin kamu pasti marah juga, 'kan!" lanjutnya.
"Maafkan Ardhan, Mah," jawab Ardhan dengan wajah penuh penyesalan. "Aku sudah meminta maaf pada Naura dan dia tidak bisa memaafkan kesalahanku. Sekarang aku pasrah pada karierku, aku sudah tidak peduli walaupun Naura akan menjatuhkan aku,"
"Mungkin Papamu akan kecewa setelah mendengar ini, tapi Mama yakin dia masih bisa memaafkanmu. Karier masih bisa di kejar tanpa harus memilih jalan pintas, Dhan. Tunjukan dengan kemampuanmu! Lihat Papamu, ia berjuang dari nol hingga bisa membangun restorannya sendiri dan itu membuat ia bangga," tutur Arumi.
. . .
Sementara itu di kediaman Keanu.
"Hai, Kak Aditya! Bagaimana luka-mu? Sudah membaik?" tanya Adriela ketika melihat Aditya sedang duduk di ruang utama. Menunggu Danish yang sedang mengambil beberapa berkas penting di ruang kerjanya.
"Ya, lumayan. Sudah tidak sakit lagi ketika aku bergerak bebas," jawab Aditya sambil tersenyum hangat kepada Keyla yang kini duduk tepat di sampingnya.
"Key."
"Ya?"
"Adriela itu baik, ya. Apa dia udah punya kekasih?" tanya Aditya malu-malu.
__ADS_1
Keyla membulatkan matanya kemudian tersenyum lebar sambil menatap lelaki itu.
"Kakak menyukai Adriela, ya? Kenapa tidak bilang-bilang!" pekik Keyla sambil memukul lengan lelaki itu.
"Aw!" Aditya mengusap lengannya karena Keyla memukul lumayan keras dan sakitnya terasa hingga ke luka tusuknya.
"Ehm, maaf-maaf! Key refleks!"
Keyla turut mengusap lengan Aditya sambil tersenyum kecut.
"Kakak beneran suka ya, sama Adriela? Kalau ya, biar Key yang Mak Comblangin kalian. Pokoknya Key giring sampe halal!" ucap Keyla dengan penuh semangat.
Aditya mengusap tengkuknya pelan sambil tersenyum kecut.
"Kakak gak pede, Key. Soalnya--" ucapan Aditya terhenti karena ia ingat masa lalunya bersama Helen. Hubungannya dengan wanita itu sudah di luar batas. Sedangkan Adriela adalah gadis polos yang sama sekali belum pernah tersentuh, sama seperti Keyla.
"Gak pede kenapa? Kakak itu tampan, mana baik pula. Pekerjaan Kakak juga keren! Tidak mungkin lah Adriela menolak. Om dan Tante pun pasti setuju," sahut Keyla mantap.
"Entahlah, Kakak tidak yakin," lirih Aditya.
"Harus yakin donk, Kak. Nyatakan saja cinta Kakak ke Adriela. Key yakin Adriela pun sebenarnya menyukai Kakak, kok."
Aditya kembali tersenyum kepada Keyla yang begitu bersemangat. "Kamu lupa ya, Key? Adriela dan Aditya taunya kita pacaran. Kalau kamu menjodohkan aku dengan Adriela, otomatis Es Batu-mu juga bakal tahu yang sebenarnya. Bahwa hubungan kita hanya sebuah sandiwara belaka."
Key sempat terdiam sejenak sambil menatap lekat Aditya. "Kakak benar. Key malah melupakan hal itu. Tapi tidak apa, Key sudah menyerah. Biarkan mereka tahu bahwa kita hanya berpura-pura. Lagipula Ardhan memang tidak memiliki perasaan apapun terhadap Keyla. Buktinya, ia tidak berusaha mengejar Keyla walaupun Keyla sudah merubah penampilan Keyla agar terlihat sama seperti Naura. Ya, 'kan?"
Aditya tersenyum getir melihat Keyla yang sepertinya sudah putus asa.
...***...
__ADS_1