
Danisha menatap kosong kearah dinding yang menjadi pembatas antara kamarnya dan kamar mandi. Hari ini adalah hari dimana ia akan segera mengunjungi kediaman Ayah dan Ibu mertuanya.
Danisha benar-benar malas, ia tidak ingin berhadir ke acara arisan keluarga yang akan dilaksanakan di kediaman Ibu mertuanya tersebut.
Rey baru saja masuk ke kamar dan tatapannya langsung tertuju lada sosok Danisha yang sedang duduk termenung di pinggiran tempat tidur mereka. Rey memperhatikan penampilan Danisha secara seksama dan ia tahu bahwa saat itu Danisha belum juga bersiap-siap.
"Sha, belum siap juga?" tanya Rey sambil mengerutkan keningnya.
Danisha sontak menoleh. Ia tersenyum kemudian bangkit dari posisi duduknya.
"Ah, iya. Aku akan segera mengganti pakaianku."
Rey menghembuskan napas berat sembari memperhatikan Danisha yang kini mulai memilih-milih pakaian mana yang akan ia kenakan hari ini. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Danisha pun selesai. Ia nampak cantik dengan dress simple yang kini membalut di tubuh indahnya. Dan dengan sedikit polesan make up, penampilannya pun terlihat sempurna.
"Mari, Mas," ajak Danisha sembari menghampiri Rey yang kini duduk di tepian tempat tidur.
"Mari!"
Rey menggandeng tangan Danisha dan membawanya menuju ruang utama, dimana Baby Raisha sudah menunggu kedatangan mereka.
"uluh-uluh, cantiknya Gadis Mama!" ucap Danisha ketika menyambut Baby Raisha dari pelukan sang Babysitter.
"Apa kamu yakin akan mengajak Raisha ke rumah Ibu? Apa tidak sebaiknya kita tinggal aja bersama Babysitter?"
"Jangan, Mas. Ajakin aja, kasihan Raisha kalau ditinggal. Lagipula kita pasti akan lama berada disana," tolak Danisha.
"Baiklah, terserah kamu aja."
Rey kembali melangkahkan kakinya menuju halaman depan, dimana mobilnya terparkir. Sedangkan Danisha mengikuti Rey dari belakang sambil menggendong Baby Raisha dan diikuti oleh Babysitter yang bertugas membawakan barang-barang keperluannya.
"Mbak ikut aja sekalian biar bisa bantuin jaga Raisha, ya," ajak Danisha kepada Babysitternya.
"Baik, Nona. Tentu saja," jawab sang Babysitter.
Rey membukakan pintu mobilnya untuk Danisha dan setelah istrinya masuk, Rey bergegas membantu Babysitter memasukkan barang-barang keperluan Baby Raisha ke dalam mobil.
__ADS_1
"Sudah semuanya? Tidak ada barang yang tertinggal, 'kan?"
"Sudah semuanya, Tuan."
Setelah semuanya beres, Rey pun segera melajukan mobil tersebut menuju kediaman kedua orang tuanya. Setibanya disana, ternyata keluarga dari pihak Ibu dan Ayah Rey sudah banyak berkumpul.
"Maafkan kami terlambat," ucap Rey yang baru saja bergabung bersama keluarganya.
"Tidak apa-apa, kami pun sama. Kami baru saja tiba," jawab salah satu dari mereka.
Acara pun dimulai dan semua keluarga besar Rey menikmati pesta sederhana tersebut. Disaat semua orang sedang asik menikmati berbagai macam hidangan yang sudah disediakan, Ibunda Rey malah menghampiri Danisha yang sedang duduk di salah satu kursi bersams Baby Raisha.
"Nisha," panggil Ibunda Rey.
Danisha menoleh sembari tersenyum kepada wanita itu.
"Bu."
Ibunda Rey menjatuhkan diri di samping Danisha sambil memperhatikan bayi mungil yang sedang berada di pangkuan menantunya itu.
"Ini bayi Nisha, Bu. Nisha baru saja mengadopsinya," jawab Danisha dan mencoba tetap tenang walaupun saat itu ia benar-benar gugup.
"Tapi, kenapa?" tanya Ibunda Rey heran.
"Karena Ibunya meninggal setelah melahirkan dirinya, Bu. Dan Nisha--"
"Kenapa kamu melakukan ini, Nisha? Apa jangan-jangan gosip itu benar? Kamu memang tidak bisa hamil?"
Duar!
"Ke-kenapa Ibu berkata seperti itu?"
"Sebaiknya ikuti Ibu," ucap Ibunda Rey seraya mengajak Danisha untuk ikut bersamanya.
Danisha menyerahkan Baby Raisha kepada Babysitter kemudian berjalan mengikuti langkah kaki Ibu mertuanya.
__ADS_1
Ibunda Rey menuntun Danisha menuju sebuah ruangan yang jauh dari kerumunan keluarga besar mereka. Ternyata Rey dan Ayah mertuanya juga sudah berada di ruangan itu.
Sebenarnya Danisha sangat gugup dan firasatnya mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi disana. Namun, ia berusaha tetap tenang dan terus menyunggingkan sebuah senyuman hangat.
Ia duduk di samping Rey yang sedang bersandar dengan kepala mendongak menatap langit-langit ruangan.
"Sebenarnya ada apa, Bu?" tanya Danisha sembari memperhatikan ekspresi wajah Ibu mertuanya.
"Nisha, Rey, sebaiknya kalian berkata dengan jujur kepada kami! Sebenarnya kalian itu kenapa? Apa jangan-jangan gosip itu benar bahwa sebenarnya kalian tidak bisa memiliki anak?"
"Sabar dulu, Bu. Jangan seperti itu, biarkan mereka menjelaskan semuanya kepada kita," ucap Ayah Rey sembari mencoba menenangkan Ibunda Rey yang sudah terlihat emosi.
"Bu, sebenarnya kami--" Rey ingin membatu menjelaskan tetapi di tahan oleh Danisha.
Danisha menggenggam erat tangan Rey kemudian tersenyum. "Biarkan aku saja, Mas."
"Tapi, Nisha!"
"Sudahlah, tidak apa-apa."
Danisha membuang napas panjang agar dirinya lebih tenang. Ia kembali tersenyum sambil memperhatikan wajah Ayah dan Ibu mertuanya secara bergantian.
"Ya, apa yang mereka katakan tentangku adalah benar, Bu, Yah. Aku memang divonis oleh Dokter tidak akan bisa memiliki keturunan sebab ada masalah di rahimku."
"Nisha!"
Rey memulatkan matanya menatap Danisha agar ia berhenti menceritakan hal itu kepada kedua orang tuanya.
"Tidak apa-apa, Mas. Sepertinya sudah saatnya mereka tahu yang sebenarnya."
"Ja-jadi itu benar? Ka-kamu mandul, Nisha?!" pekik Ibunda Reyhan dengan wajah panik.
Reyhan mengusap wajahnya kasar dan ia nampak frustrasi. Sedangkan Danisha hanya bisa tersenyum getir ketika Ibu mertuanya menyebut dirinya mandul.
...***...
__ADS_1