
Setelah Babysitter mengantarkan Bu Wijaya kembali ke kamarnya, ia pun segera kembali ke kamar utama, dimana Danisha, Rey dan Raisha masih berkumpul.
Sepeninggal Babysitter, Bu Wijaya kembali ke tempat favoritnya. Duduk di dekat jendela kamar sambil memperhatikan pemandangan luar.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar menyesal karena selama ini sudah menghina dan menyakiti perasaan Danisha. Tapi, aku malu kalau harus meminta maaf padanya. Aku tidak yakin dia sudi memaafkanku," gumam Bu Wijaya dengan mata berkaca-kaca.
Sementara itu di kamar utama.
"Aku masih menunggu telepon dari perawat yang akan merawat Ibu, tetapi sampai sekarang perawat itu tidak juga menghubungiku," ucap Rey.
"Sebenarnya aku sama sekali tidak masalah jika Ibu tetap berada disini. Dengan begitu kita bisa menjaga dan memperhatikan kondisi Ibu tanpa harus bolak-balik ke rumah Ibu 'kan. Tapi, sepertinya Ibu memang sudah tidak betah tinggal disini bersama kita," lirih Danisha.
"Ya, aku tahu itu. Ibu juga merengek kepadaku, Ibu pulang. padahal saat itu aku masih mencari perawat yang bersedia merawatnya."
Tepat disaat itu Babysitter tiba di depan pintu kamar utama. Setelah mendapatkan izin dari pemilik kamar, Babysitter itupun segera masuk kemudian memberitahukan bahwa mereka sedang kedatangan tamu.
"Tuan, Nona, di depan ada Nyonya Naila dan Suaminya," ucap Babysitter.
"Benarkah?"
Danisha nampak semringah setelah mendengar bahwa kedua orang tuanya datang berkunjung ke kediamannya.
"Ya, Nona," sahut Babysitter.
"Aku akan segera menyambut mereka. Kamu tunggu disini sebentar ya, Nisha."
"Baik, Mas." Rey segera bangkit dari posisi duduknya kemudian meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Dengan wajah semringah, Rey menyambut kedatangan mertuanya. "Mom, Dad. Sebaiknya kita langsung ke kamar saja, Nisha menunggu kalian disana," ucap Rey.
"Bagaimana keadaan Nisha sekarang?" tanya Naila cemas.
"Seperti itulah, Mom. Nisha masih menolak makan dan katanya kepalanya masih terasa pusing."
"Jangan cemas. Bukankah dulu kamu juga seperti itu ketika mengandung? Begitu juga Keyla dan Nazia, mereka juga sama seperti Danisha," sela Keanu sembari merengkuh pundak sang istri.
"Iya sih, tapi entah kenapa aku begitu khawatir dengan kondisi Nisha."
Rey menuntun kedua mertuanya menuju kamar, dimana Danisha sudah menunggu kedatangan mereka. Setibanya di kamar tersebut, Naila pun segera menghambur ke pelukan Danisha.
"Ya ampun, Nak. Wajahmu pucat sekali, apa kamu sudah makan? Biar Mami masakin makanan kesukaanmu, ya?" Naila terlihat sedih saat ia menatap wajah Danisha yang memang terlihat memucat.
"Tidak usah, Mih. Nisha benar-benar sedang tidak nafsu makan," tolak Danisha.
Sementara Naila dan Keanu sedang berbincang bersama Rey dan Danisha di kamar utama, Ibunda Rey kembali mendorong kursi rodanya menuju ruangan tersebut tanpa dibantu oleh siapapun.
Huft!
Wanita paruh baya itu menghembuskan napas panjang sebelum ia memutuskan untuk mengetuk pintu tersebut.
Tok ... tok ... tok ....
"Rey," panggil Bu Wijaya.
Seketika pembicaraan mereka terhenti setelah mendengar panggilan dari Bu Wijaya. Rey terlihat ragu mempersilakan Ibundanya masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1
Ia takut Ibunya kembali berulah dan berkata kasar kepada Danisha. Apalagi saat itu mertuanya sedang berada disana.
"Tidak apa, Mas. Biarkan Ibu masuk, mungkin saja ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan padamu," ucap Danisha.
"Kamu yakin?" Rey masih ragu.
Danisha menganggukkan kepalanya. "Ya."
Keanu dan Naila hanya bisa saling tatap dan mereka berharap semoga Ibunda Rey tidak akan membuat masalah lagi kali ini. Baik kepada mereka berdua maupun kepada Danisha.
Rey membuka pintu dan nampaklah Bu Wijaya dengan wajah sendu duduk di atas kursi rodanya.
"Bu ... ada yang bisa Rey bantu?" tanya Rey.
"Bolehkah Ibu masuk, Rey? Ibu tahu ada Ayah dan Ibu mertuamu di dalam. Ibu ingin bicara dengan mereka."
"Tapi, Bu ...."
"Ibu janji tidak akan membuat masalah lagi, Rey," ucap Bu Wijaya.
Sebenarnya Rey masih ragu, tetapi setelah melihat ekspresi wajah Ibunya saat itu, Rey pun luluh dan mempersilakan wanita itu masuk ke dalam kamarnya.
"Biar Rey bantu."
Rey membantu mendorong kursi roda Bu Wijaya hingga memasuki kamarnya dan sekarang wanita itu sudah berada di hadapan Naila dan Keanu.
"Nyonya Naila, Tuan Keanu, hari ini aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanku. Aku sadar, aku sudah sangat keterlaluan dan tidak pantas untuk dimaafkan. Walaupun kalian tidak bisa memaafkan kesalahanku, paling tidak hal ini membuatku sedikit lebih lega karena aku sudah mengutarakan permintaan maafku yang tulus kepada kalian, terutama Danisha, menantuku," tutur Bu Wijaya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Naila menghembuskan napas lega sambil tersenyum hangat. Ia benar-benar merasa bahagia karena akhirnya Bu Wijaya menyadari kesalahannya selama ini.
...***...