
"Mari masuk, Nak."
Bu Radia mengajak Nazia memasuki rumahnya kemudian menuntun gadis itu menuju ruang utama.
"Duduklah dulu," ucap Bu Radia sembari mendudukkan tubuh mungil Nazia di sofa mewahnya.
"Terima kasih, Bu."
"Jangan sungkan ya, Nak. Mulai sekarang kamu adalah anggota keluarga kami, Itu artinya, rumah ini juga rumahmu," sambung Bu Radia.
"Oh ya, Nak. Sebenarnya Ibu pengen ngajak kamu masak bareng sama Ibu, soalnya Ibu hobby sekali masak, tapi sayang gagal jadi chef," ucap Bu Radia sambil terkekeh.
"Boleh, Bu. Kebetulan Nazia juga sering bantuin Bi Narti memasak di dapur," sahut Nazia.
"Benarkah? Wah, Ibu senang sekali mendengarnya. Sebaiknya kita mulai saja, yuk! Ibu sudah tidak sabar ingin mengubek-ubek dapur!" ajak Bu Radia dengan penuh semangat.
Nazia pun menganggukkan kepalanya dan bergegas menuju dapur bersama Bu Radia.
"Ehm, kita masak apa ya, hari ini?" ucap Bu Radia sembari memperhatikan isi freezernya.
"Aha! Kita masak kari ayam saja, kebetulan itu makanan favorit Aditya lo, Nak."
Bu Radia mengeluarkan beberapa potong Ayam dari freezer kemudian membawanya keatas meja. Tidak lupa, ia juga mempersiapkan berbagai macam bumbu dan rempah yang akan ia gunakan untuk memasak.
"Nazia bantu potongin ya, Bu."
"Ya, tentu saja, Nak."
Nazia pun mulai membantu Bu Radia, dari mempersiapkan bumbu-bumbu hingga memasak kari ayam kesukaan Aditya. Bu Radia terlihat sangat senang karena Nazia begitu cekatan. Bahkan, selama acara memasak mereka berlangsung, Nazia lah yang paling sigap melakukan semuanya. Hingga akhirnya, kari ayam spesial itupun siap untuk disajikan. .
__ADS_1
"Yuk, Nak. Ibu sudah tidak sabar lagi ingin mencicipi masakan menantu kesayangan Ibu!" ucap Bu Radia sembari meraih sebuah piring yang sudah tersusun diatas meja makan, kemudian mengisinya dengan nasi putih dan kari ayam.
Nazia memperlihatkan Bu Radia yang mencicipi kari ayam tersebut dengan wajah heran. "Bagaimana, Bu? Enak?" tanya Nazia harap-harap cemas.
"Iya, Nak! Kari ayam masakanmu bahkan lebih enak daripada buatan Ibu," sahutnya sambil terkekeh pelan.
"Syukurlah kalau begitu."
. . .
Setelah acara makan siang mereka selesai, Bu Radia meraih kotak bekal kemudian mengisinya dengan nasi dan kari ayam buatan Nazia.
"Itu untuk siapa, Bu?" tanya Nazia.
Bu Radia tersenyum seraya memasukkan kotak bekal tersebut kedalam tas, kemudian meletakkannya tepat di hadapan Nazia.
"Itu untuk Aditya. Sebaiknya kamu anterin deh, ke kantornya. Nanti Ibu kasih tau ke Aditya bahwa kamu nganterin makan kesukaannya. Gimana, kamu mau ya!?"
"Mau ya, Nazia?" pinta Bu Radia lagi.
Dengan sangat terpaksa, Nazia pun menganggukkan kepalanya. "Baik, Bu."
Dengan langkah gontai, Nazia membawa kotak bekal tersebut menuju halaman depan kediaman Pak Dodi, bersama Bu Radia yang berjalan disampingnya.
"Kamu tenang saja, Aditya tidak akan marah, kok. Apalagi kalo Ibu yang nyuruh," ucap Bu Radia sambil tersenyum kepada gadis itu.
Bu Radia membukakan pintu mobil untuk Nazia kemudian mempersilakan gadis itu masuk kedalam mobilnya.
"Setelah mengantarkan bekal itu, kamu bisa langsung pulang. Atau kalau kamu mau kembali kesini juga tidak apa-apa, Ibu malah lebih senang," ucap Bu Radia sebelum sopir pribadi Pak Dodi melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Sepertinya saya akan langsung pulang, Bu," sahut Nazia.
"Ehm, baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan ya, Nak."
Mobil pun melaju memecah jalan menuju perusahaan, dimana Aditya bekerja. Sementara itu, Bu Radia segera menghubungi Aditya dan memberitahu anaknya itu bahwa Nazia sedang menuju kantornya.
"Ibu apa-apaan, sih?! Kenapa pake acara bawain bekal segala. Memangnya Aditya anak SD?!" kesalnya.
Kebetulan saat itu Aditya sedang berada di ruangan kantor Danish. Danish memperhatikan Aditya yang bicara dengan nada kesal dan marah. Bahkan lelaki itu mematikan ponselnya saat Bu Radia masih bicara.
"Dit, kenapa kamu bicara kasar seperti itu kepada Ibumu? Kasihan Ibumu lo, Dit. Beliau pasti sangat sedih," ucap Danish ketika Aditya kembali duduk di depannya.
"Bukan begitu, Tuan Danish. Tapi saya rasa Ibu saya sudah keterlaluan. Masa saya dianggap seperti anak SD? Yang benar saja," sahutnya.
"Itu artinya beliau sangat menyayangi kamu, Aditya."
"Gawat, aku harus segera menemui gadis itu sebelum orang-orang kantor melihatnya. Bisa-bisa karierku hancur setelah orang-orang tahu bahwa calon istriku hanya seorang wanita kuno dan kampungan seperti dirinya! Tidak bisa dibiarkan!" batinnya.
"Kamu kenapa, Dit?" tanya Danish setelah menyaksikan lelaki itu terdiam dalam lamunannya.
"Ehm ... Tuan, saya permisi dulu. Ada yang harus saya tangani didepan," sahutnya.
Danish melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"Baiklah. Kebetulan aku juga ingin ke luar. Adikku sedang menunggu didepan," ucap Danish.
"Gawat, gawat, gawat!!! Tuan Danish ingin menemui Adiknya di depan, jangan sampai ia melihat gadis kampungan itu. Apalagi kalau sampai gadis itu menyebutkan namaku, bisa mati berdiri aku karena malu!" batinnya.
Danish segera bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah menuju halaman depan perusahaan. Dan tanpa sepengetahuan Danish, Aditya berlari lebih dulu menuju halaman depan untuk menemui Nazia.
__ADS_1
...***...