Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 71


__ADS_3

"Apa kamu sudah lupa, Aditya? Malam sebelum hari pernikahanmu bersama wanita kampungan yang kini menjadi Nyonya Danish dilaksanakan, kamu datang padaku dengan kondisi mabuk berat. Apa kamu tidak ingat bahwa malam itu kamu melakukan hal itu tanpa pengaman sama sekali," tutur Helen.


Aditya menggaruk kepalanya yang terasa gatal setelah mendengar penuturan wanita itu. Walaupun Helen bersikeras mengatakan bahwa anak yang sedang dikandung olehnya adalah milik Aditya, tetapi tidak semudah itu bagi Aditya mempercayainya.


"Begini saja, Helen. Kita lakukan tes DNA saja. Jika benar anak didalam kandunganmu adalah milikku, maka aku berjanji akan bertanggung jawab terhadap anak itu. Namun, jika anak itu bukanlah milikku, maka aku harap ini terakhir kalinya kamu mengganggu kehidupanku, Helen."


Helen menelan salivanya dengan susah payah. Ia tidak menyangka bahwa Aditya benar-benar sudah berpaling darinya dan ia tidak bisa menerima hal itu.


"Aditya, apakah kamu tidak ingin menikah denganku? Aku bersedia menikah denganmu, sama seperti permintaanmu dulu," lirih Helen dengan mata berkaca-kaca.


Aditya tersenyum getir. "Kemana saja kamu selama ini, Helen? Dulu, hampir tiap hari aku mengajakmu menikah dan berumahtangga denganku, tetapi kamu selalu menolaknya dengan alasan belum siap. Dan sekarang, disaat aku sudah berhasil berpaling darimu dan mendapatkan kehidupan baru, kamu malah meminta aku menikahimu. Basi!"


Jawaban Aditya benar-benar membuat Helen kecewa. Sekarang ia tahu bagaimana rasanya ditolak dan dicampakkan untuk kesekian kalinya.


"Kamu keterlaluan, Aditya. Ingat saja, aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia," ucapnya sembari berlari dari tempat itu.


Aditya menghembuskan napas berat sambil terus memperhatikan Helen yang berjalan menjauhinya. Sebenarnya ia iba pada kondisi Helen saat itu, tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Selain ia tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadap wanita itu, ia juga tidak ingin membuat Adriela cemburu kemudian salah paham.


"Maafkan aku, Helen," gumam Aditya.


Setelah Helen menghilang dari pandangannya, Aditya pun segera kembali memasuki kediamannya. Aditya tersentak kaget saat melihat sosok Bu Radia yang tengah memperhatikan dirinya dari depan pintu rumah mereka. Dan sepertinya wanita paruh baya itu tahu, siapa yang sudah mengunjungi kediamannya.


"Mau apa lagi wanita itu, Aditya? Apa dia ingin kembali padamu lagi? Demi Tuhan, Aditya. Ibu tidak sudi memiliki menantu seperti dirinya," ucap Bu Radia dengan wajah serius menatap Aditya.


Aditya menghampiri Bu Radia kemudian tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Tidak akan, Bu. Aditya tidak akan pernah jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya," jawab Aditya mantap.


Akhirnya Bu Radia tersenyum. Ia lega mendengarnya jawaban anak lelakinya itu.


"Syukurlah kalau begitu, Nak. Sekarang Ibu merasa sedikit lebih tenang."


. . .


Keesokan harinya.


Tin ... tin ... tin ...!


Terdengar suara klakson yang ditekan berkali-kali oleh seseorang dari luar gerbang. Keyla yang sedang memanaskan mesin motornya penasaran dan segera menghampiri garbang rumahnya.


Keyla terkekeh pelan setelah tahu siapa dalang yang membuat kebisingan pagi-pagi begini.


"Aku masih penasaran denganmu, Key! Bolehkah aku meminta pertandingan ulang? Aku ingin tidak ingin harga diriku jatuh di bawah kakimu," ucap Ardhan sambil tersenyum sinis.


Keyla tergelak mendengar penuturan lelaki yang kini menjadi tunangannya itu. "Tidak usah, Chef. Aku takut kamu jatuh lagi sama seperti dulu. Nanti kamu nangis lagi," ledek Keyla.


"Heh, kamu ngeselin ya! Ayo, sebaiknya kita tanding ulang. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu," sahut Ardhan yakin.


"Sudahlah, Chef. Mending kita masak aja yuk, di dalam. Aku sudah lapar ini." Keyla mengusap perutnya sambil menatap Ardhan dengan tatapan meledek lelaki itu.


"Jangan meledekku, Nona Keyla Armani Putra! Kali ini aku akan buktikan bahwa aku bisa dan kamu akan menjerit histeris karena terpesona dengan kemampuanku."

__ADS_1


Ardhan menghidupkan mesin motornya kemudian melajukan benda tersebut meninggalkan Keyla yang masih terkekeh di depan gerbangnya.


"Ho ho ho! Baiklah kalau itu maumu, Chef Ardhan yang dingin, sedingin es batu!" gumam Keyla.


Keyla berlari kecil menuju motornya kemudian segera menaiki benda tersebut. Setelah memasang helm, Keyla pun segera menyusul Ardhan yang kini sedang di perjalanan menuju lapangan balap mini, dimana Keyla biasanya mengetes kendaraannya.


Tidak berselang lama, Keyla berhasil menyusul Ardhan dan lelaki itu sudah menunggunya sejak tadi. Keyla menghampiri lelaki itu kemudian membuka helmnya.


"Sekarang apa?"


Baru saja Ardhan ingin menjawab pertanyaan Keyla, ponselnya tiba-tiba saja berdering.


"Sebentar!"


Ardhan meraih ponselnya dari dalam saku jaketnya kemudian menerima panggilan tersebut walaupun ia tidak tahu siapa yang sedang menghubunginya.


"Ya, Hallo?"


"Apakah ini benar Chef Ardhan, Kakaknya Adriela?"


"Ya, benar. Maaf, saya bicara dengan siapa ya, kalau boleh tahu?" tanya Ardhan sedikit heran.


"Bisakah kita bicara sebentar, ini penting!"


Ardhan menatap lekat Keyla sambil mendengarkan suara seorang wanita yang tidak ia kenali dari seberang telepon.

__ADS_1


"Baiklah," sahut Ardhan.


...***...


__ADS_2