Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 42


__ADS_3

"Ya Tuhan, gadis-gadisku?! Kalian itu habis ngeborong dimana?!" pekik Naila sambil membulatkan matanya melihat barang belanjaan Keyla yang begitu banyak.


"Ayolah, Mih. Hanya sekali ini saja," sahut Keyla sambil tersenyum kecut.


"Sebenarnya apa sih, yang kalian beli?"


Naila menghampiri kedua anak gadisnya kemudian mengintip isi dari paper bag yang mereka tenteng. Naila menggelengkan kepalanya setelah mengetahui apa isi dari paper bag tersebut.


"Ini barang belanjaan kamu lagi, Nisha?" tanya Naila sembari melirik Danisha yang terdiam memperlihatkan ekspresinya.


Dengan cepat Danisha menggelengkan kepalanya. "Bukan, Mih. Bukan! Ini semua milik Keyla, sumpah," jawabnya.


Bukannya marah, Naila malah tergelak setelah mendengar jawaban dari Danisha. Sedangkan kedua saudari itu malah terdiam sambil memperhatikan Naila yang sedang tertawa lepas.


"Itu milik Keyla, ya ampun!" ucap Naila disela gelak tawanya.


"Kesambet apa kamu, Nak?" lanjut Naila sembari menghampiri Keyla kemudian meraba kening gadis itu.


Wajah Keyla menekuk. Ia kesal sekaligus malu karena Ibunya menertawakan dirinya saat itu.


"Ih, Mami kok gitu sih?"


"Bukan apa-apa, Sayang. Hanya saja Mami merasa lucu. Seorang Keyla yang tomboy dan terkenal dengan dunia motornya, sekarang berubah menjadi gadis cantik dengan menggunakan dress ketat serta sepatu highheels. Trus, kalau sudah begitu, gimana caranya kamu mengemudikan motor kesayanganmu itu?" jawab Naila.


"Ya, Key naik mobil lah, Mih. Masa udah cantik-cantik Keyla disuruh naik motor?"


"Ya, sudahlah. Terserah kamu saja," jawab Naila lagi.


Naila berlalu dari hadapan kedua putrinya sambil terkekeh pelan. Ia membayangkan Keyla melenggang dengan dress ketat dan sepatu highheels dan itu sangat lucu menurutnya.

__ADS_1


Setelah kepergian Naila, Keyla dan Danisha pun bergegas menuju kamar Keyla. Keyla yang sudah tidak sabar ingin mencoba barang-barang belanjaannya, segera membuka satu persatu paper bag tersebut, hingga akhirnya semua terbuka.


Keyla meraih sepasang highheels cantik berwarna cream kemudian mulai mengenakannya.


"Sebentar, Key! Hati-hati saat melangkahkan kakimu dengan benda itu," ucap Danisha panik ketika melihat Keyla yang sudah bersiap melenggang dengan sepatu tersebut.


"Memangnya kenapa, Kak? Soal menaklukkan benda seperti ini sih mudah, tinggal melenggang dan--"


Bruuggkkk!!!


Baru saja beberapa langkah ia berjalan dengan sepatu bertumit runcing tersebut, ia pun terjatuh ke lantai kamarnya dengan wajah meringis menahan sakit.


"Tuh 'kan?! Apa ku bilang!"


Danisha meraih tangan Keyla kemudian membantu adik perempuannya itu bangkit. Ia menggelengkan kepalanya sambil memperhatikan wajah Keyla yang sedang menahan sakit pada kakinya.


"Melangkah dengan menggunakan sepatu ini, tidak semudah seperti saat kamu menggunakan sepatu kets, Keyla."


"Sini, mana kakinya yang sakit?" ucap Danisha lagi sembari meraih kaki Keyla dan mengeceknya.


"Sepertinya aku butuh tukang urut, Kak!" tutur Keyla sambil meringis.


"Hhhh, kamu sih! Baiklah, nanti aku panggilkan Bi Warsih. Tapi, jangan bilang-bilang sama orang rumah. Bisa-bisa Kakak juga kena marah!" kesal Danisha.


"Iya, Keyla janji deh."


Tanpa sepengetahuan orang-orang rumah, Danisha memanggil Bi Warsih, seorang wanita tua yang begitu hebat dalam soal urut-mengurut. Beberapa kali Keyla meringis ketika kakinya di urut oleh Bi Warsih.


"Aduh, Cu! Kakimu ini terkilir. Lihat, sampe bengkak begini," ucap Bi Warsih sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Bagaimana ini, Kak?! Ini bisa bikin aku jera!" lirih Keyla sambil menatap wajah cemas Danisha.


Danisha cemas dan merasa ketakutan ketika melihat ekspresi wajah Keyla saat di urut oleh Bi Warsih saat itu.


"Hhh,"


Setelah Bi Warsih selesai mengurut kaki Keyla, wanita tua itupun segera pamit.


"Haduh, mana Reuni itu tinggal beberapa hari lagi," keluh Keyla.


Sementara itu di kediaman Ardhan.


Ardhan menghampiri Adriela yang sedang duduk di sofa yang ada di ruang utama. Lelaki itu menjatuhkan diri disamping Adriela dan mengajak adik perempuannya itu bicara.


"Driel, tadi ketika Kakak menemani Naura jalan, tidak sengaja Kakak ketemu sama Keyla dan Danisha di Mall."


"Trus?" tanya Adriela tanpa menoleh sedikitpun kepada saudara laki-lakinya itu. Ia tetap fokus pada layar ponsel yang sedang berada di genggamannya.


"Apa perasaan Kakak saja, ya? Sepertinya Keyla sedang marah sama Kakak."


Adriela mengangkat kepalanya kemudian menatap lekat wajah tampan sang Kakak.


"Hayo, loh! Jangan-jangan itu benar. Soalnya aku sama Keyla itu tidak punya masalah apapun. Selama ini persahabatan kami baik-baik saja," jawab Adriela dengan wajah serius.


"Masa sih? Tapi perasaan Kakak tidak punya salah atau ada kata-kata Kakak yang menyinggung perasaannya, ya?"


"Sudahlah, akui saja, Kak Ardhan. Bahwa sebenarnya Kakak itu menyukai Keyla, ya 'kan? Gitu aja susah!" jawab Adriela.


"Cih, kamu ini sok tahu. Sejak kapan Kakak suka sama cowok tomboy seperti Keyla,"

__ADS_1


Ardhan terkekeh pelan sambil mengacak puncak kepala Adriela dengan lembut.


...***...


__ADS_2